Kamis, 28 Juni 2018

RUSIA

Zeynita Gibbons

     Jakarta,18/6 (Antara) - Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi menghadiri peresmian masjid "Nurullah" di Solnechnogorsk, salah satu kota satelit, wilayah Moskow Region, Rusia, sekitar 75 km dari pusat kota Moskow (17/6) mengharapkan hubungan kedua bangsa semakin lebih erat.
          Kehadiran Dubes Wahid memenuhi undangan Ravil Gaynutdin, Ketua Dewan Mufti Rusia yang juga Ketua Majelis Muslim Federasi Rusia, demikian Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada Antara London, Senin.
         Dalam acara peresmian hadir pula Duta Besar Palestina dan Sudan, serta perwakilan Administrasi Presiden Federasi Rusia, perwakilan Pemerintah Moskow Region, Kepala Distrik Kota Solnechnogorsk, tokoh agama, masyarakat muslim dan tamu undangan lainnya.
           Dalam sambutannya, Ravil Gaynutdin mengemukakan di Rusia dibuka sejumlah masjid, tidak hanya di Solnechnogorsk, tetapi juga di Kostroma, Arhangelsk dan berbagai wilayah lainnya. Ravil Gaynutdin mengapresiasi kehadiran Duta Besar negara sahabat, termasuk Indonesia dalam acara peresmian masjid di Solnechnogorsk ini.
          "Di sini ada duta besar Indonesia. Anda tahu bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia,¿kata Ravil Gaynutdin saat memberikan sambutan pembukaan.
          Pada acara tersebut, Dubes Wahid didaulat memberikan sambutan yang  menyambut baik peresmian masjid ini yang menunjukan berkembangnya Islam di Rusia.
         Dubes mengaku telah mengunjungi 20 propinsi atau wilayah bagian selama lebih dari dua tahun bertugas di Rusia dan selalu menyempatkan diri mengunjungi masjid setempat.
          Ditambahkan bahwa Indonesia dan Rusia memiliki kesamaan sebagai negara multietnis, multibudaya dan multiagama, dan kedua negara sama-sama mempromosikan nilai-nilai toleransi. Di Rusia terdapat sekitar 180 suku bangsa dan di Indonesia sekitar 700-an.
         "Sejak kunjungan Presiden Joko Widodo ke Rusia pada Mei 2016 lalu, hubungan kedua negara semakin berkembang, namun perlu terus ditingkatkan lebih jauh lagi, khususnya kerja sama antar masyarakat muslim, termasuk di kalangan pengusaha muslim," kata Dubes.
           Lebih lanjut Dubes Wahid menyampaikan rencana mengadakan bisnis forum para pengusaha muslim Indonesia-Rusia pada Mei tahun depan dalam rangka Kazan Summit di Kazan, Republik Tatarstan. KBRI Moskow akan bekerjasama dengan International Association of International Association of Islamic Business (IAIB), Rusia untuk meralisasikan rencana tersebut.
           Selain itu, Dubes Wahid mengundang para pengusaha muslim Rusia untuk menghadiri Forum Bisnis Rusia-Indonesia di Moskow dan Trade Expo Indonesia di BSD City, Indonesia . Dubes mengundang masyarakat muslim untuk menghadiri Festival Indonesia ketiga di Taman Krasnaya Presnya, Moskow.
            Rusia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di Eropa yang jumlahnya sekitar 25 juta orang. Oleh karena itu terdapat potensi kerja sama, termasuk di bidang ekonomi, perdagangan dan pariwisata berbasis Islam. Indonesia dan Rusia telah menjalin kerja sama di bidang pendidikan Islam.
         Sejumlah mahasiswa muslim Rusia telah belajar di perguruan tinggi Islam di Indonesia, melalui beasiswa dari Kementerian Agama RI. Di antara mahasiswa yang lulus tersebut terdapat yang menjadi imam, pengajar di perguruan tinggi Islam atau bekerja di lembaga majelis muslim di Rusia. 
    Beberapa di antaranya seperti Miratullo, lulusan Universitas Islam Negeri Malang yang memiliki usaha restoran Indonesia di Kazan, Republik Tatartsan. Artur Gubaydullin, lulusan Universitas Islam Negeri Jakarta yang saat ini bekerja di Dewan Mufti Rusia.  
    Pembangunan masjid "Nurullah" di kota satelit Solnechnogorsk tersebut merupakan masjid ke delapan di Moskow Region. Sementara itu, di seluruh Rusia sendiri terdapat sekitar 8500 masjid. Di Moskow Region tinggal lebih dari 110 ribu umat muslim. Sholat Idul Fitri beberapa waktu lalu dilakukan di 39 tempat di Moskow Region, termasuk di masjid "Nurullah", Solnechnogorsk.
         Masjid "Nurullah" memiliki luas sekitar 400 meter persegi dan dapat menampung 450 jemaah. Pada saat perayaan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan juga sholat Jumat, masjid ¿Nurullah¿ dihadiri ribuan jemaah. Masjid berdiri kokoh dan indah tidak jauh dari jalan protokol yang melintasi jalur Moskow-St. Petersburg.
          Di samping bangunan utama masjid ini terdapat bangunan terpisah yang tidak begitu besar yang digunakan tempat sholat wanita dan madrasah. 
    Peresmian masjid yang bersamaan dengan perayaan Idul Fitri 1439 H merupakan waktu yang sudah lama ditunggu-tunggu masyarakat muslim setempat. Pembangunan masjid membutuhkan waktu sekitar 18 tahun, sejak peletakan batu pertama tahun 2000 lalu oleh Ketua Dewan Mufti Rusia.
          Sebelumnya, Dubes Wahid mengadakan pertemuan dengan sekitar 20 orang diaspora Indonesia dan kalangan Indonesianis di Wisma Indonesia KBRI Moskow. Di antara diaspora terdapat eks mahasiswa ikatan dinas (Mahid), yaitu Prof. Sudaryanto dan Ir. Soemanto, generasi kedua eks Mahid, WNI yang nikah dengan WN Rusia dan kalangan professional.
           Hadir juga para Indonesianis seperti Vladimir Platnikov, mantan Dubes Rusia untuk Indonesia, Prof Victor Pogadaev, pengarang kamus besar Rusia-Indonesia dan penterjemah berbagai pusisi karya penyair Indonesia dari bahasa Indonesia ke bahasa Rusia dan Alexander Ponomarev yang pernah bertugas lama di Kedutaan Besar Rusia di Jakarta di era Uni Soviet.
          Kecintaan mereka terhadap Indonesia tetap melekat. Selain sangat baik berbahasa Indonesia, mereka juga mengenakan batik dalam pertemuan tersebut.
            Dalam sambutannya Dubes Wahid menginginkan para diaspora Indonesia dapat menjadi penghubung bagi hubungan RI-Rusia yang semakin erat. "Tahun ini Presiden Putin menurut rencana akan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia dan saya yakin beliau akan membawa delegasi bisnis yang besar. Untuk itu saya berharap para diaspora dapat mengambil peran sebagai bridge builder,"ujar Dubes Wahid.

          Para diaspora menyambut menyambut ajakan Dubes Wahid dan berjanji uuntuk mendata mereka yang merupakan generasi kedua dan bahkan ketiga. Prof Sudaryanto yang selama ini dianggap sebagai sesepuh diaspora menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima sambutan positif dari para diaspora dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengadakan pertemuan lanjutan mengingat sebagian besar mereka masih berlibur di luar kota Moskow.(ZG)***4***

(T.H-ZG/B/Y. Ali/Y. Ali) 18-06-2018 16:34:59t

RUSIA

Zeynita Gibbons

     Jakarta,18/6 (Antara) - Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M. Wahid Supriyadi menghadiri peresmian masjid "Nurullah" di Solnechnogorsk, salah satu kota satelit, wilayah Moskow Region, Rusia, sekitar 75 km dari pusat kota Moskow (17/6) mengharapkan hubungan kedua bangsa semakin lebih erat.
          Kehadiran Dubes Wahid memenuhi undangan Ravil Gaynutdin, Ketua Dewan Mufti Rusia yang juga Ketua Majelis Muslim Federasi Rusia, demikian Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KBRI Moskow, Enjay Diana kepada Antara London, Senin.
         Dalam acara peresmian hadir pula Duta Besar Palestina dan Sudan, serta perwakilan Administrasi Presiden Federasi Rusia, perwakilan Pemerintah Moskow Region, Kepala Distrik Kota Solnechnogorsk, tokoh agama, masyarakat muslim dan tamu undangan lainnya.
           Dalam sambutannya, Ravil Gaynutdin mengemukakan di Rusia dibuka sejumlah masjid, tidak hanya di Solnechnogorsk, tetapi juga di Kostroma, Arhangelsk dan berbagai wilayah lainnya. Ravil Gaynutdin mengapresiasi kehadiran Duta Besar negara sahabat, termasuk Indonesia dalam acara peresmian masjid di Solnechnogorsk ini.
          "Di sini ada duta besar Indonesia. Anda tahu bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia,¿kata Ravil Gaynutdin saat memberikan sambutan pembukaan.
          Pada acara tersebut, Dubes Wahid didaulat memberikan sambutan yang  menyambut baik peresmian masjid ini yang menunjukan berkembangnya Islam di Rusia.
         Dubes mengaku telah mengunjungi 20 propinsi atau wilayah bagian selama lebih dari dua tahun bertugas di Rusia dan selalu menyempatkan diri mengunjungi masjid setempat.
          Ditambahkan bahwa Indonesia dan Rusia memiliki kesamaan sebagai negara multietnis, multibudaya dan multiagama, dan kedua negara sama-sama mempromosikan nilai-nilai toleransi. Di Rusia terdapat sekitar 180 suku bangsa dan di Indonesia sekitar 700-an.
         "Sejak kunjungan Presiden Joko Widodo ke Rusia pada Mei 2016 lalu, hubungan kedua negara semakin berkembang, namun perlu terus ditingkatkan lebih jauh lagi, khususnya kerja sama antar masyarakat muslim, termasuk di kalangan pengusaha muslim," kata Dubes.
           Lebih lanjut Dubes Wahid menyampaikan rencana mengadakan bisnis forum para pengusaha muslim Indonesia-Rusia pada Mei tahun depan dalam rangka Kazan Summit di Kazan, Republik Tatarstan. KBRI Moskow akan bekerjasama dengan International Association of International Association of Islamic Business (IAIB), Rusia untuk meralisasikan rencana tersebut.
           Selain itu, Dubes Wahid mengundang para pengusaha muslim Rusia untuk menghadiri Forum Bisnis Rusia-Indonesia di Moskow dan Trade Expo Indonesia di BSD City, Indonesia . Dubes mengundang masyarakat muslim untuk menghadiri Festival Indonesia ketiga di Taman Krasnaya Presnya, Moskow.
            Rusia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di Eropa yang jumlahnya sekitar 25 juta orang. Oleh karena itu terdapat potensi kerja sama, termasuk di bidang ekonomi, perdagangan dan pariwisata berbasis Islam. Indonesia dan Rusia telah menjalin kerja sama di bidang pendidikan Islam.
         Sejumlah mahasiswa muslim Rusia telah belajar di perguruan tinggi Islam di Indonesia, melalui beasiswa dari Kementerian Agama RI. Di antara mahasiswa yang lulus tersebut terdapat yang menjadi imam, pengajar di perguruan tinggi Islam atau bekerja di lembaga majelis muslim di Rusia. 
    Beberapa di antaranya seperti Miratullo, lulusan Universitas Islam Negeri Malang yang memiliki usaha restoran Indonesia di Kazan, Republik Tatartsan. Artur Gubaydullin, lulusan Universitas Islam Negeri Jakarta yang saat ini bekerja di Dewan Mufti Rusia.  
    Pembangunan masjid "Nurullah" di kota satelit Solnechnogorsk tersebut merupakan masjid ke delapan di Moskow Region. Sementara itu, di seluruh Rusia sendiri terdapat sekitar 8500 masjid. Di Moskow Region tinggal lebih dari 110 ribu umat muslim. Sholat Idul Fitri beberapa waktu lalu dilakukan di 39 tempat di Moskow Region, termasuk di masjid "Nurullah", Solnechnogorsk.
         Masjid "Nurullah" memiliki luas sekitar 400 meter persegi dan dapat menampung 450 jemaah. Pada saat perayaan hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan juga sholat Jumat, masjid ¿Nurullah¿ dihadiri ribuan jemaah. Masjid berdiri kokoh dan indah tidak jauh dari jalan protokol yang melintasi jalur Moskow-St. Petersburg.
          Di samping bangunan utama masjid ini terdapat bangunan terpisah yang tidak begitu besar yang digunakan tempat sholat wanita dan madrasah. 
    Peresmian masjid yang bersamaan dengan perayaan Idul Fitri 1439 H merupakan waktu yang sudah lama ditunggu-tunggu masyarakat muslim setempat. Pembangunan masjid membutuhkan waktu sekitar 18 tahun, sejak peletakan batu pertama tahun 2000 lalu oleh Ketua Dewan Mufti Rusia.
          Sebelumnya, Dubes Wahid mengadakan pertemuan dengan sekitar 20 orang diaspora Indonesia dan kalangan Indonesianis di Wisma Indonesia KBRI Moskow. Di antara diaspora terdapat eks mahasiswa ikatan dinas (Mahid), yaitu Prof. Sudaryanto dan Ir. Soemanto, generasi kedua eks Mahid, WNI yang nikah dengan WN Rusia dan kalangan professional.
           Hadir juga para Indonesianis seperti Vladimir Platnikov, mantan Dubes Rusia untuk Indonesia, Prof Victor Pogadaev, pengarang kamus besar Rusia-Indonesia dan penterjemah berbagai pusisi karya penyair Indonesia dari bahasa Indonesia ke bahasa Rusia dan Alexander Ponomarev yang pernah bertugas lama di Kedutaan Besar Rusia di Jakarta di era Uni Soviet.
          Kecintaan mereka terhadap Indonesia tetap melekat. Selain sangat baik berbahasa Indonesia, mereka juga mengenakan batik dalam pertemuan tersebut.
            Dalam sambutannya Dubes Wahid menginginkan para diaspora Indonesia dapat menjadi penghubung bagi hubungan RI-Rusia yang semakin erat. "Tahun ini Presiden Putin menurut rencana akan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia dan saya yakin beliau akan membawa delegasi bisnis yang besar. Untuk itu saya berharap para diaspora dapat mengambil peran sebagai bridge builder,"ujar Dubes Wahid.

          Para diaspora menyambut menyambut ajakan Dubes Wahid dan berjanji uuntuk mendata mereka yang merupakan generasi kedua dan bahkan ketiga. Prof Sudaryanto yang selama ini dianggap sebagai sesepuh diaspora menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima sambutan positif dari para diaspora dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengadakan pertemuan lanjutan mengingat sebagian besar mereka masih berlibur di luar kota Moskow.(ZG)***4***

(T.H-ZG/B/Y. Ali/Y. Ali) 18-06-2018 16:34:59t

BRUSEL

D0140618001341  14-JUN-18  PLK  JKT
INDONESIA KELUAR DARI "EU FLIGHT BAN"
Zeynita Gibbons

    Jakarta, 14/6 (Antara) - Kabar gembira datang dari Uni Eropa untuk dunia penerbangan Indonesia dalam keterangan resmi pada tanggal 14 Juni, Uni Eropa mengeluarkan Indonesia dari "EU Flight Safety List", yang berarti "all remaining air carriers" Indonesia yang berjumlah sebanyak 55 maskapai telah dapat terbang ke Uni Eropa.
         Wakil Kepala Perwakilan, Dupito D. Simamora dalam keterangan kepada Antara, Kamis malam menyebutkan EU Commissioner for Transport Violeta Bulc menyatakan bahwa Indonesia selama ini telah bekerja keras.
         Violeta Bulc menyebutkan dalam daftar Keselamatan Udara Uni Eropa adalah salah satu instrumen utama untuk menawarkan tingkat keamanan udara tertinggi.
         "Saya sangat senang bahwa setelah bertahun-tahun bekerja, kita sekarang dapat membersihkan semua maskapai penerbangan dari Indonesia. Ini menunjukkan kerja keras dan kerja sama yang erat membuahkan hasil. Saya juga puas bahwa kami sekarang memiliki sistem peringatan baru untuk mencegah pesawat yang tidak aman memasuki wilayah udara Eropa".
         Dupito D. Simamora menyebutkan Uni Eropa telah menerapkan "flight ban" terhadap seluruh maskapai penerbangan Indonesia sejak tahun 2007 lalu. "Keputusan ini merupakan hasil dari rangkaian upaya panjang Pemerintah Indonesia," ujarnya.
         Sebelumnya, Uni Eropa telah secara bertahap mengeluarkan beberapa maskapai Indonesia dari "EU Flight Safety List" yakni pada 2009, 2011 dan 2016. Sebelum keputusan ini diambil Uni Eropa melaksanakan "EU Assessment Visit" ke Indonesia pada 12-21 Maret lalu.
         Hasil evaluasi menyeluruh tersebut juga dibahas dalam pertemuan Air Safety Committee di Brussel pada 30 Mei lalu yang dihadiri  Pemerintah Indonesia dan tiga maskapai dari Tanah aAir yaitu Wings Air, Sriwijaya Air, dan Susi Air.
         Sebagai negara dengan potensi industri penerbangan yang sangat besar, keputusan Uni Eropa ini merupakan bentuk kepercayaan terhadap otoritas penerbangan dan maskapai penerbangan Indonesia.
         Keputusan ini juga sejalan dengan opini berbagai badan penerbangan internasional seperti Flight Aviation Administration (FAA) dan International Civil Aviation Organization (ICAO) yang mencatat upaya perbaikan signifikan yang dilakukan Indonesia.
         Sementara itu Dubes Indonesia untuk Uni Eropa, Yuri O. Thamrin menyambut baik pencabutan larangan terbang tersebut.
         Pencabutan larangan terbang bagi seluruh maskapai Indonesia merupakan bentuk pengakuan Uni Eropa kepada Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan keselamatan penerbangan di Tanah Air.
         "Keputusan Uni Eropa ini diharapkan menjadi pendorong untuk terus meningkatkan keselamatan penerbangan, termasuk dalam mendukung industri pariwisata di seluruh wilayah Indonesia," ujarnya.
         Dalam semangat kemitraan, Pemerintah Indonesia juga menyambut baik tawaran kerja sama yang disampaikan oleh Uni Eropa dan beberapa negara anggota Uni Eropa untuk senantiasa meningkatkan keselamatan penerbangan di Tanah Air.
    ***2*** (ZG)
(T.H-ZG/B/C. Hamdani/C. Hamdani) 14-06-2018 19:14:04

Senin, 25 Juni 2018

BUDAPEST

Oleh Zeynita Gibbons
    Jakarta,16/6 (Antara) - Duta Reggae Indonesia, Ras Muhamad melantunkan lirik lagu barunya dengan gaya berbisik diiringi alunan piano mengalunkan  single baru bernafaskan Islam berjudul Meta Master Eye Allah membuat suasana Acara Halal Bihalal dan perayaan Idul Fitri yang diadakan di KBRI Budapest terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
          Berbeda dari karya-karya Ras Muhamad sebelumnya yang sering ditampilkan dalam konser Reggae, untuk pertama kalinya Meta Master Eye Allah yang diperkenalkan kepada publik ini merupakan hasil perenungannya tentang ke Agungan Sang Pencipta, demikian
Pensosbud KBRI Budapest dalam keterangan yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu.
           Ras Muhamad pengagum Rumi sang penyair Sufi tersebut mampu menghanyutkan kalbu hadirin ditambah suara Takbir dan Tahmid yang berkumandang tanpa henti sejak Jumat pagi hari di Kediaman Duta Besar RI untuk Hongaria, Wening Esthyprobo.
         Dubes beserta staf dan keluarga besar KBRI Budapest, PPI Hongaria dan WNI Indonesia serta Pecinta Indonesia  berkumpul  merayakan Idul Fitri.
        Jika pada tahun-tahun sebelumnya shalat Ied dilaksanakan di dalam ruangan, tahun ini, Salat Ied, digelar  di halaman belakang Wisma Duta.
        Jumlah WNI di Hongaria  bertambah cukup signifikan,  naik hampir 300%, sebagian besar  mahasiswa dan  pekerja profesional..
          Dalam sambutannya, Dubes mengingatkan mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan dan pentingnya memperlihatkan jati diri Indonesia cerminan suatu bangsa yang santun, ramah dan berprestasi.
         Sebagai muslimin dan muslimat Indonesia yang sedang berada di Hongaria, perlu menebarkan citra Islam yang penuh rahmatan lil alamin.
         Duta Reggae Indonesia tersebut  berada di Eropa, untuk mengisi beberapa panggung Festival serta menggarap Album Satryo, yang proses rekamannya dilakukan di Berlin dan di Munchen, Jerman Barat.     
      Ras mengakui album barunya tidak melulu bernuansa Reggae. Pada Album Satriyo lebih bersifat pengalaman insaniah, seperti  Meta Master Eye Allah yang lirik lagunya seputar kerinduan kepada Sang Penguasa Jagad Raya.    
     Menurutnya lagu tersebut merupakan hasil tafakur, telaah-an, pemikiran tentang bagaimana dirinya sebagai seorang muslim seperti halnya manusia lain di dunia memiliki hak yang sama, dapat menjadi apapun yang diinginkannya dan berkontribusi untuk kebaikan dunia.
          Seperti halnya tangis dalam doa, bermusik juga wujud dari Doa, sebagaimana lirik yang dibisikkanya "Reaching to the Supreme, Fullfilling on my duties, 5 times of daily routine, In Oneness, absolutely, Peace, Masya Aallah" tambahnya.
        Perayaan Idul Fitri semakin meriah dengan hidangan khas Lebaran, seperti Opor Ayam, Rendang, Ketupat dan kue-kue kering lainnya.
         Hidangan yang bagi WNI di Hongaria merupakan obat kangen tanah air dan keluarga yang jauh dimata.

         Hari Raya ditutup dengan acara dari kita untuk kita dimana WNI bernyanyi diiringi musik organ tunggal, bersilahturahmi, melepas kangen bercengkrama dengan Dubes RI dan keluarga.****4****

(T.H-ZG/B/H. Agusta/H. Agusta) 16-06-2018 12:24:54

DENMARK

D0160618000424  16-JUN-18  KSR  JKT
KULINER INDONESIA HIDANGAN HARI RAYA DI DENMARK
Oleh Zeynita Gibbons
    Jakarta,16/6 (Antara) - Kuliner khas Indonesia seperti lontong Cap Go Meh, Opor Ayam, Telur Pindang, Sambal Goreng Ati, Siomai, Sayur sambal goreng pepaya, rebung, Kaldu Madura, empek-empek dan Palembang, disajikan Chef Rusliyawan menjadi hidangan dalam perayaan Idul Fitri di Denmark.
         Selain itu juga aneka jajanan pasar seperti kue mangkok, dodol, winko babat, tape ketan hitam, risoles, serta es campur.
          Pensosbud KBRI Kopenhagen, Ismail Pulungan dalam keterangan kepada Antara di Jakarta, Sabtu, menyebutkan  cuaca di Kopenhagen yang cukup baik, meskipun bukan hari libur nasional di Denmark namun seluruh masyarakat terihat antusias dan mereka tidak terhalang untuk melaksanakan Solat Ied dan menghadiri Open House di Wisma Duta.
         Pada hari Jumat, masyarakat muslim Indonesia di Denmark berbondong bondong mendatangi tempat salat Idul fitri di Denmark setelah berpuasa selama sebulan dan merupakan salah satu negara dengan waktu puasa terpanjang di Dunia.
          KBRI Kopenhagen menyelenggarakan shlat Idul Fitri bersama masyarakat dan diaspora muslim Indonesia yang tinggal di Kopenhagen dan sekitarnya diawali dengan gema takbir dan tahmid bersama dipimpin langsung  Dubes RI untuk Kerajaan Denmark, M. Ibnu Said.
         Salat Ied yang diselenggarakan di Wisma Duta dengan Imam adalah Ust. Kun Mahardi dan bertindak selaku khatib adalah Ust. Rahmat Suryana.
         Ustad menjelaskan hikmah puasa dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT setelah bulan Ramadhan.
         Khatib juga mengajak masyarakat untuk  meningkatkan amal ibadahnya selepas bulan Ramadhan dan diakhir khutbahnya khatib menghimbau agar masyarakat muslim yang tinggal di Denmark senantiasa meningkatkan kejujuran, keimanan, ketaqwaan dan silaturahi setelah Ramadhan dan dalam perayaan hari kemenangan ini.
          Setelah sholat Idul Fitri Dubes Ibnu Said beserta Istri menyelenggarakan Halal Bihalal dan Open House untuk mempererat tali silaturahmi dan saling memaafkan.
         Dalam acara ini KBRI Kopenhagen menyajikan aneka ragam kuliner Nusantara yang dinanti-nantikan oleh masyarakat Indonesia dan untuk mengobati kerinduan berlebaran di tanah air terasa  nikmat Salat Ied dan silaturahim yang dilaksanakan beribu-ribu miles dari Indonesia, sebagai obat rindu akan kampung halaman.
         Acara Idul Fitri ini selain diikuti  masyarakat dan diaspora Indonesia di Denmark juga  sejumlah pelajar dan mahasiswa dari kota Malmo Swedia yang merupakan kota perbatasan dan terdekat dari Ibukota Kopenhagen, serta keluarga besar KBRI Kopenhagen. ***4****

(T.H-ZG/B/H. Agusta/H. Agusta) 16-06-2018 12:24:59

ROMA

Oleh Zeynita Gibbons

    Jakarta, 16/6 (Antara) - Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani mengajak para duta besar negara sahabat yang hadir pada Open House atau halalbihalal di KBRI Roma untuk merasakan nuansa Lebaran di Indonesia.
         Ini karena beberapa dubes negara sahabat itu menyebutkan bahwa Idul Fitri tersebut tidak dirayakan secara meriah seperti di Indonesia.
         Acara halalbihalal yang diadakan di KBRI Roma menjadi suatu pengalaman tersendiri yang sangat menarik, laporan Pensosbud KBRI Roma, Aisyah M. Allamanda kepada Antara di Jakarta, Sabtu.
         Sekitar 200 warga Indonesia yang berada di Roma dan sekitarnya mengikuti serangkaian acara, meski banyak yang tidak dapat hadir karena harus bekerja, perayaan itu tetap berlangsung hangat dan meriah. Panjangnya waktu berpuasa di Roma, sekitar 18 jam per hari, di saat tengah musim panas, menjadikan Idul Fitri lebih terasa sebagai "Hari Kemenangan".
         Selepas shalat Idul Fitri berjamaah, Ustad Ikhwani yang menjadi Imam, menyampaikan ceramah Idul Fitri bertajuk "Meneguhkan Perilaku Mulia Pasca Ramadhan". Masyarakat Indonesia yang hadir diajak tetap mengamalkan perilaku mulia, khususnya dalam kehidupan sosial sehari-hari, meski tidak lagi sedang menjalankan ibadah Ramadhan.
         Layaknya di Indonesia, perayaan Idul Fitri juga diisi dengan halalbihalal. Antara satu dan yang lain saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Nuansa berlebaran di Indonesia juga dihadirkan dengan berbagai ragam dekorasi ketupat yang menghiasi ruangan bertema klasik Romawi berpadu Jawa-Bali, tidak ketinggalan, berbagai ragam sajian khas Idul Fitri yang biasa dihidangkan ketika lebaran seperti lontong opor ayam dan sambal goreng ati sebagai menu utama.

         Masyarakat yang lama tinggal di rantau pun antusias menikmati makanan pengobat rindu kampung halaman tersebut. Begitu pun bagi
para Duta Besar negara sahabat yang hadir merasakan nuansa lebaran di Indonesia tersebut menyampaikan bahwa Idul Fitri tidak dirayakan secara meriah seperti di Indonesia. Oleh karena itu, kesempatan halalbihalal di KBRI Roma menjadi suatu pengalaman tersendiri yang sangat menarik. (ZG) ***4***
(T.H-ZG/C/T. Susilo/T. Susilo) 16-06-2018 20:58:22

BELANDA

Zeynita Gibbons
    Jakarta,16/6 (Antara) - Sekitar 1.800 orang, terdiri atas warga Indonesia, Belanda, dan warga negara lainnya, seperti Turki dan Maroko mengikuti perayaan Hari Raya Indul Fitri dengan
rasa ke-Bineka-an Indonesia yang diadakan di Wisma Duta, kediaman resmi Dubes Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Kota Wassenaar, Jumat.
         Minister Counsellor Pensosbud KBRI Den Haag, Renata Siagian kepada Antara, Sabtu menyebutkan Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja beserta istri dan Wakil Duta Besar Fikry Cassidy serta pejabat KBRI di Den Haag menyambut undangan yang hadir untuk mengikuti acara  halal bi halal.
          Meskipun bukan hari libur di Belanda, tidak kurang dari 2.000 orang hadir pada acara halal bi halal ini. Tidak hanya umat Muslim Indonesia di Belanda, melainkan juga warga non-Muslim, pelajar, mahasiswa, diaspora Indonesia, friends of Indonesia, dan masyarakat Belanda.
         "Walaupun bukan hari libur, saya berusaha untuk datang ke acara ini," kata Puji Wahyuningtyas, warga negara Indonesia yang bermukim di kota Den Haag. Puji menyambut antusias adanya acar halal bi halal di Wisma Duta.
         Acara yang diadakan  setahun sekali oleh KBRI merupakan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan sesama Muslim di Belanda, ujarnya.
         Antusiasme ini juga ditunjukkan Wafi, Ilham, Bayu, Imam, Irfan, dan Naufal. Mahasiswa Universitas Indonesia Jakarta, yang sedang menuntut ilmu di universitas di Amsterdam dan Rotterdam, mengaku sangat senang bisa hadir di Wisma Duta, untuk merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa di Belanda yang sangat berat tantangannya.
         "Waktu puasanya panjang banget dan membuat jam tidur jadi berantakan," kata mereka.
         "Selain itu, lingkungan di sini juga tidak mendukung untuk menjalankan puasa," kata mereka lagi.  
    Acara Halal bi halal KBRI Den Haag merupakan acara tahunan pada setiap perayaan Idul Fitri di Belanda diadakan bukan hanya untuk merayakan hari kemenangan warga Muslim, namun juga untuk menegaskan ke-Bineka-an Indonesia.
         Lewat acara halal bi halal, tali silaturahmi dan persaudaraan antara KBRI dengan masyarakat Indonesia, termasuk dengan pemuka agama non-Islam Indonesia di Belanda dan dengan masyarakat Belanda yang memiliki kedekatan dengan Indonesia, semakin dipererat.
    Halal bi halal di Wisma Duta merupakan puncak rangkaian penyelenggaraan kegiatan Ramadhan dan Idul Fitri di Belanda.  
    Malam sebelumnya, diadakan  takbir menyambut Idul Fitri di masjid Indonesia, Al Hikmah, di Den Haag.
         Paginya, di masjid yang sama, umat Muslim Indonesia melakukan shalat Idul Fitri. Bertindak sebagai Imam  Ustadz Muhamad Fauzi Azhar, dan sebagai Khotib, Ustadz Rifqi Maula Ade Khaerul, Lc. MA.   
    Shalat ini dihadiri sekitar 1.800 orang, terdiri atas warga Indonesia, Belanda, dan warga negara lainnya, seperti Turki dan Maroko.Layaknya Idul Fitri di tanah air, halal bi halal di Wisma Duta yang sangat kental bernuansa Indonesia.
          Hidangan khas lebaran, lontong opor - sambal goreng hati, dinikmati tidak hanya itu, sate, rendang, gado-gado, soto konro, nasi kebuli, sayur asam, es cendol, dan ice cream pun cukup berlimpah.
         "Makanan yang dihidangkan di sini benar-benar excellent," kata Arnold van Doorn, anggota Dewan Kota Den Haag.
          "Saya menyukai makanan Indonesia, dan favorit saya adalah rendang, es cendol, dan tongseng," ujarnya.
         Sambil menyantap hidangan, Arnold van Doorn dan seluruh hadirin lainnya dihibur dengan lagu-lagu Indonesia, persembahan musisi dan penyanyi Indonesia di Belanda, seperti Ferry dan Asti Dewi. Tak hanya lagu-lagu pop kondang Indonesia, para penyanyi juga melantunkan tembang-tembang dangdut dan Jawa.

    (T.H-ZG/B/H. Zainudin/H. Zainudin) 16-06-20