Jumat, 14 Agustus 2009

MAHASISWA NORWEGIA BELAJAR DI BALI

KBRI FASILITASI MAHASISWA NORWEGIA BELAJAR DI BALI

London, 14/8 (ANTARA) - KBRI Oslo menfasilitasi 980 mahasiswa Norwegia yang akan belajar di Bali dalam program prauniversitas selama satu semester atau 14 minggu.

"Tingkat kepercayaan masyarakat Norwegia terhadap situasi keamanan di Indonesia pascabom Jakarta pada Juli lalu masih tetap tinggi," ujar Sekretaris Tiga KBRI Oslo Febby Fahrani, Jumat.

Menurut dia, itu ditandai dengan adanya minat masyarakat terutama mahasiswa Norwegia untuk belajar di Bali
Selama di Bali, mahasiswa akan mempelajari ilmu psikologi, filsafat, sosiologi budaya, antropologi, lingkungan, olahraga, dan bahasA.

Para mahasiswa tersebut akan belajar di kampus Yayasan Ananda Pasti Ceria, Jimbaran, Bali, yang perkuliahannya akan dimulai pada awal September - Desember 2009.

Program studi di Bali itu merupakan program studi yang paling diminati dibandingkan dengan kota-kota lain seperti Los Angeles, Brasil, Cape Town, Paris, London, Meksiko City, Sydney, dan Havana.

Dosen didatangkan dari beberapa universitas ternama di Norwegia, seperti Telemark University College, Sogn og Fjordane University College, dan Lesud University College, serta tenaga pengajar dari Universitas Udayana-Bali.

KBRI Oslo menerima 640 daftar mahasiswa yang diajukan keempat lembaga studi pengirim mahasiswa itu, guna proses aplikasi visa studi. Sementara itu, pengiriman periode Februari-Mei 2009 sebanyak 340 mahasiswa.
Selain bantuan fasilitasi visa kepada mahasiswa tersebut, KBRI Oslo juga melakukan pendekatan dan kerjasama dengan pimpinan dan dosen lembaga studi tersebut guna mempromosikan Indonesia, agar lebih banyak lagi mahasiswa negara sahabat itu belajar di Indonesia.

Jumlah penduduk terbesar ke-empat di dunia, beraneka suku dan agama, kekayaan warisan budaya serta keindahan alam, menjadikan Indonesia sebagai tempat yang tepat bagi mahasiwa Norwegia untuk belajar sambil berwisata.

Gateway College merupakan salah satu lembaga pengirim mahasiswa terbesar ke Bali. Untuk periode September-Desember pihaknya telah menyampaikan 340 daftar mahasiswa yang akan belajar di Bali.

Minat mahasiswa Norwegia untuk belajar di Bali semakin meningkat setiap tahun. Bahkan ratusan mahasiswa sudah mulai mendaftarkan diri mereka untuk mengikuti program studi di Bali untuk tahun 2010 melalui Gateway College.

Manajer Pemasaran Gateway College Per Erik Aspen menyatakan, 200 mahasiswa telah mendaftar di Gateway College untuk progaram 2010.

***3***
(T.H-ZG/C/s018/s018) 14-08-2009 06:59:37

Kamis, 13 Agustus 2009

SUKSES DI RANTAU DORONG DR.SUBCHAN PULANG KAMPUNG -

SUKSES DI RANTAU DORONG DR.SUBCHAN PULANG KAMPUNG -

Oleh Zeynita Gibbons

London 13/8 (Antara) - Setelah sebelas tahun berdiam di negeri orang dan meraih sukses dalam bidang studi, serta menerima penghargaan dari pemerintah Inggris, tidak serta merta membuat DR Subchan "melupakan" tanah airnya, Indonesia.

Langganan penerima beasiswa mulai dari tingkat sarjana hingga doktoral itu memutuskan untuk pulang ke Indonesia, mengabdikan diri, agar bisa mengejar "hutangnya" selama ini.

Mengabdi kembali ke kampus menjadi keputusan DR Subchan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu begara dalam mengisi kemerdekaan Indonesia yang genap berusia 63 tahun pada 17 Agustus mendatang.

"Terus terang saya tidak pernah membayangkan bisa belajar ke luar negeri dan harus bekerja di Inggris," ujar Dosen Matematika ITS Surabaya itu.

Setelah puas menutut ilmu dan meraih penghargaan dari Menteri Pertahanan Inggris dan menerbitkan buku akhirnya DR Subchan memilih peringatan hari kemerdekaan RI sebagai momentum yang tepat untuk mengabdikan diri.

Ia pun memilih untuk menyumbangkan pengetahuannya di kampusnya, ITS Surabaya, dan menularkan pengalaman yang berharga di beberapa negara kepada generasi penerus bangsa.

"InsyaAllah suatu ketika Indonesia akan menjadi negara yang diperhitungkan dunia dan kiblat dunia," harapnya.

Subchan menuturkan bahwa pengalamannya dalam menuntut ilmu dan bekerja selama 11 tahun di Belanda maupun di Inggris (United Kingdom) dapat menjadi modal sekaligus pembanding dalam menorong kemajuan ilmu pengatahun dan teknologi di Indonesia.

Pengalamannya yang paling berkesan adalah dirinya bergabung pada Juli 2007 dengan "Team Stellar" guna merancang alat militer canggih. Hasil karya tim tersebut kemudian dinyatakan sebagai pemenang dalam kompetisi bertajuk Minister of Defence (MoD) Grand Challenge pada Agustus 2008.

MoD adalah kegiatan untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang digelar Kementerian Pertahanan Inggris. Lomba yang diikuti 11 tim, enam diantaranya masuk babak final. Salah satunya adalah Team Stellar, yang kemudian keluar sebagai pemenang dan berhak atas penghargaan bergengsi RJ Mitchell Trophy.

Penulis buku Computational Optimal Control Tools and Practice bersama R Zbikowski (terbit Juli 2009) merupakan hasil karya Subchan sebelum kembali ke Tanah air.

"Saya bersyukur buku saya bisa terbit sebelum saya kembali ke tanah air," ujarnya.

Setelah meyelesaikan S1 bidang Matematika di ITS, Subchan langsung diterima bekerja di IPTN. Suami dari Imada itu mengawali pekerjaannya di bagian Dinamika Fluida IPTN. Ia juga ikut merancang dan mendesain pesawat jenis N-250 dan N-2130, serta mendesain sayap pesawat dan tempat mesin pesawat atau nacelle.

Setelah empat tahun mengabdi di perusahaan yang bangun Prof Habibie itu, Subchan pun berkeinginan kembali ke kampung halaman dan pada pertengahan tahun 1998, ia resmi keluar dari IPTN dan mengabdi sebagai dosen di ITS.

Pada saat bersamaan, ia mendapat beasiswa dari TU-Delft, Belanda, untuk melanjutkan S2 dalam bidang Applied Mathematics pada 1998-2000. Usai S2, ia langsung mendapat tawaran beasiswa dari Cranfield University.

Di Universitas Cranfield Inggris berada di Kota Swindon, kota kecil berjarak sekitar dua jam berkendara dengan mobil dari London, Subchan menimba ilmu doktoral di bidang Guidance and Control atau Panduan dan Kendali.

Di Swindon juga terdapat kampus Shrivenham. Selama studi untuk mendapat gelar philosophy doctoral, Sunbchan lantas bergabung dengan sejumlah proyek penelitian yang berkaitan dengan pertahanan.

Lulus doktor, Subchan pun meneruskan studi post doctoral pada Departement Informatics and Sensors di perguruan tinggi yang sama. Bidang yang saya ditekuni adalah decision making, data fusion, mission planning and control, ujanya.

Selama kuliah S3 di Universitas Cranfield, Subchan menekuni penelitian dan pengembangan teknologi militer diantaranya ia pernah meneliti awan yang tercemar nuklir.

Diakuinya selama studi baik S2 dan S3 Subchan menyambi kerja serabutan dan ia bersyukur semuanya dapat dilewati dengan lancar.

Setelah luluspun Subchan ditawar pekerjaan sebagai Research fellow, namun tekadnya sudah bulat untuk mengabdikan dirinya di tanah air.

Bila tidak ada halangan pada 26 Agustus saya akan kembali ke tanah air dan menjadi dosen jurusan matematika di ITS Surabaya, ujarnya.


Bangga sebagai WNI
Mengenai keunggulan berkarir di Luar Negeri khususnya Inggris bagi Subchan merupakan suatu keunggulan. Fasilitasnya semua terjamin sehingga ia berkarya dengan optimal.

Mulai dari Laboratorium dan ketersedian alat yang lengkap dan adanya dana untuk melakukan eksperimen, ujarnya.

Subchan mengakui kesuksesannya itu sangat berrati bagi Indonesia.

"Saya sangat bangga sebagai WNI, walaupun disana-sini banyak kekurangan tetapi ia yakin dengan kerja keras dan manajemen pemerintahan yang secara perlahan semakin membaik," katanya.

Subchan sendiri pernah ditolak visanya sehingga berharap Indonesia bisa menerapkan kebijakan yang membolehkan warga negaranya memiliki kewarganegraan ganda bahkan triple.

"Saya adalah warga yang mengusulkan agar WNI bisa mendapat dual atau triple nasionality. Ini sangat wajar mengingat rakyat Indonesia masih banyak yang susah dan terhambat dalam berkarir di Luar negeri," katanya.

Kebijakan tersebut dalam pandangannya bisa mendorong WNI memperoleh akses yang luas dalam menuntut ilmu dan pengalaman di luar negeri yang pada akirnya nanti bisa diterapkan di Indonesia.

"Saya sangat malas apabila ditugaskan keluar Inggris karena harus mencari VISA dulu. Itupan pernah ditolak karena waktu yg mendadak untuk 'meng-apply' visa," katanya.

Untuk itu Ia berharap suatu waktu nanti pemerintah Indonesia dapat mengubah kebijakan dalam bidang imigrasi ini, dari single nationality kepada dual atau triple nationality secara permanen.

(U-ZG) ***4***
(T.H-ZG/B/B011/B011) 13-08-2009 08:04:51

Rabu, 12 Agustus 2009

RUMAH BATAK DI JERMAN

RUMAH BATAK ITU TERTUTUP SALJU JIKA MUSIM DINGIN

Oleh Zeynita Gibbons

Rumah adat masyarakat Sumatera Utara yang dikenal dengan "Batakhaus" menjadi fokus dalam acara "Indonesisches Kulturfest" atau Festival Kultur Indonesia yang digelar KJRI Hamburg, baru-baru ini.

Festival tersebut merupakan kerja sama KJRI dengan Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) serta ikatan Batakhaus di kota Werpeloh, 120 km dari kota Bremen, Jerman.

Rumah adat masyarakat Batak itu dibangun atas inisiatif pastor Matthaus pada tahun 1978. Bangunan itu kemudian menjadi daya tarik wisata kota Werpeloh, negara bagian Niedersachsen, Jerman utara. Belakangan, "Batakhaus" salah satu obyek wisata di kota itu.

Festival Indonesia, acara yang dirancang dan inisiatif Konjen RI di Hamburg Teuku Darmawan bersama Ketua MNI dan pejabat kota Sogel dan Werpeloh, itu mendapat sambutan masyarakat Werpeloh.

Meskipun masyarakat kota Werpeloh akrab dengan keberadaan rumah batak itu namun dengan digelarnya festival budaya khususnya budaya batak menjadi arti tersendiri dan mereka pun menyambut hangat festival budaya Indonesia yang dihadiri sekitar 600 orang itu.

Acara "Indonesisches Kulturfest" digelar di arena Batakhaus yang didekorasi dengan ornamen khas Indonesia seperti umbul-umbul, payung, spanduk, dan bendera-bendera Indonesia.

Dalam festival yang dihadiri Wali Kota Sogel Gunter Wiegbers dan Walikota Werpeloh Hermann Grotjohann serta ketua ikatan Batakhaus Bernhard Schmitz tidak hanya menampilkan kesenian Batak tetapi juga daerah lainnya.

Di antaranya tari Bali dan tari Gambyong Ayun-ayun serta musik angklung dan juga penampilan anak-anak Jerman di Werpeloh yang membawakan lagu Indonesia seperti "Cicak di dinding".

Sementara Grup MNI dikoordinir yang E Musa Sitompul menampilkan senibudaya Batak berupa tari-tarian seperti Tari Mula Mula, Tari Somba, Tari Gondang Liat Liat dan Tari Raja Doli dan lagu tradisional Batak Sigulempong, Sitogol, Alusiau, dan Situmorang.

Konjen RI di Hamburg Teuku Darmawan menyampaikan penghargaan yang tinggi dan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam persiapan acara ini.

Dengan kehadiran masyarakat dari Werpeloh dan sekitarnya membuktikan besarnya minat masyarakatnya di wilayah tersebut terhadap budaya Indonesia, ujar Teuku Darmawan.

Dikatakannya acara ini memiliki makna lebih penting, yaitu meningkatkan persahabatan antara komunitas Batak serta Werpeloh dan Sogel.

Sebagai dasar untuk peningkatan persahabatan tersebut, dilakukan penandatanganan deklarasi persahabatan antara MNI Hamburg dan ikatan Batakhaus.

Menurut Teuku Darmawan, dengan adanya rumah adat Batak dan kecintaan terhadap budaya Indonesia, diharapkan makin banyak masyarakat Jerman berkunjung ke Indonesia untuk berwisata.


Obyek wisata
Rumah adat masyarakat Batak yang dibangun atas inisiatif pastor Matthaus pada tahun 1978 yang kini menjadi museum itu merupakan kebanggaan kota Werpeloh dan juga sebagai obyek wisata bagi masyarakat sekitar.

Perayaan ulang tahun ke 30 keberadaan rumah batak itu digelar tahun lalu dengan perayaan massal di Gereja Santo Fransiskus di Werpeloh.

Disebutkan seorang pendeta warga Jerman ditugaskan di Sibolga 30 tahun lalu guna menyebarkan Injil selama bertahun-tahun dan saat kembali ke Jerman setelah masa bakti berakhir mempunyai keinginan untuk membangun rumah adat dari daerah tempat di bertugas.

Sebenarnya pastor Matthaus ingin kembali ke Sumatera Utara sayangnya kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk tinggal di daerah tropis. Akhirnya tugasnya digantikan oleh sang kakak yang juga seorang pendeta.

Untuk melepas rasa rindunya akan tanah batak, abangnya rajin berkirim surat dan menceritakan keadaan dan pengalamannya selama di tanah batak.

Rasa cintanya akan Batak yang begitu meluap akhirnya membuat , pendeta itu memutuskan untuk membawa satu hal yang akan selalu mengingatkan dia akan Batak ia pun mengusulkan kepada pihak gereja di Werpeloh di tempat dia tinggal, untuk membangun rumah adat batak.

Idenya itu pun disetujui dan hingga kini bangunan itu berdiri kokoh dan digunakan sebagai museum yang berisikan berbagai ragam benda benda budaya batak yang dibangun secara bergotong-royong masyarakat di kampung Werpeloh.

Beberapa masyarakat Batak berkunjung dan ingin membuktikan bahwa keberadaan rumah adat tersebut memang benar ada dan menjadi kebanggaan bagi orang Sumatera Utara.

Dari segi ukuran Ruma Batak tersebut memang tidak terlalu besar, namun dari sisi format, tidak jauh beda dengan yang ada di Samosir. Bangunan itu boleh jadi satu-satunya Rumah Batak yang tertutup salju bila musim dingin. ***5***
(T.H-ZG/C/s018/s018) 11-08-2009 09:09:12

KBRI MOSKOW GELAR PENTAS BUDAYA PERINGATI KEMERDEKAAN

KBRI MOSKOW GELAR PENTAS BUDAYA PERINGATI KEMERDEKAAN

London, 12/8 (ANTARA) - Peringatan HUT RI ke-64 tidak hanya bergema di Jakarta dan kampung-kampung di Indonesia, tetapi juga diperingati KBRI Moskow dengan menggelar serangkaian pentas budaya di Moskow, St. Petersburg, Minsk (Belarusia) dan Vladivostok.

"Momentum peringatan HUT kemerdekaan Indonesia ini sangat bermanfaat untuk melakukan publikasi dan mendekatkan masyarakat Rusia dan Belarusia dengan Indonesia yang belakangan kerjasama RI-Rusia terus meningkat," ujar Dubes RI untuk Rusia Hamid Awaludin kepada koresponden Antara di London, Rabu.

Dubes mengatakan, diplomasi budaya ini juga dimaksudkan sebagai upaya menunjukkan Indonesia negeri yang ramah dan eksotik, bukan negeri yang penuh kekerasan.

Sementara itu, Ketua Panita Peringatan HUT Kemerdekaan RI, Counsellor M. Aji Surya mengatakan, yang terpenting dari kegiatan ini adalah tidak adanya pemborosan, melainkan memaksimalkan dan mengefisienkan anggaran yang ada.

Khusus di St. Petersburg dan Minsk akan digelar resepsi diplomatik dan temu masyarakat sedangkan di Vladivostok berupa pementasan budaya.

Menurut M Aji Surya, manajemen kegiatan di empat kota bukan pekerjaan mudah selain di negeri orang dan memerlukan aneka tingkatan birokrasi, juga jaraknya yang luar biasa jauhnya.

"Bayangkan antara Moskow ke St. Petersburg sama dari Jogja ke Jakarta, sedangkan dari Moskow ke Minsk, Republik Belarusia, memerlukan visa dan naik kendaraan darat sekitar 10 jam perjalanan," ujarnya.

Sementara di Vladivostok, kota pelabuhan di bagian timur Rusia sembilan jam penerbangan dari Moskow (sama penerbangan Moskow - Singapura). Selain itu uniknya perbedaan waktu yang antara Moskow - Jakarta hanya berbeda waktu tiga jam. Sedangkan Moskow - Vladivostok beda tujuh jam.

Aji Surya mengatakan, pihaknya melibatkan berbagai kelompok masyarakat Indonesia di Rusia, seperti mahasiswa pecinta Indonesia, serta melibatkan dua koreografer, satu pelatih karawitan serta dua designer dari Jakata. Juga melibatkan puluhan artis dadakan jumlahnya mencapai 67 orang.

"Mereka harus bisa pentas selama 1,5 jam non-stop di panggung terbaik di Rusia (Dom Musiky) dan mampu menyajikan tarian nusantara yang diramu dengan musik modern. Selain peragaan busana batik oleh peragawati Rusia," ujarnya.


Pentas budaya
Menurut M Aji Surya, mahasiswa Indonesia dan Rusia yang sedang liburan menjadi tulang punggung kegiatan pentas budaya.

Mereka melakukan latihan marathon seminggu tiga kali dan hingga akhir minggu pertama Agustus sudah rampung 80 persen. Pemainan gending Jawa dan Bali yang ditingkahi dengan suling Bugis serta drum dan melodi terdengar mulai nyaman dan indah.

Sementara anak-anak Sekolah Indonesia di Moskow (SIM) tampil dalam adegan permainan anak, Gandrang Bulo, sedangkan sebagian anggota Dharma Wanita Pesatuan memainkan tarian nusantara.

Di bawah asuhan koreografer Anter Asmorotedjo dari Jogjakarta dan Abd. Basit dari Makasar serta pelatih karawitan I Wayan Berata, perhelatan akbar akan dipentaskan di Moskow pada tanggal 19 Agustus , di St. Peteresburg tanggal 25 dan Minsk tanggal 8 September dengan judul "Mahardhika Nusantara".

Kegiatan olahraga pun turut digelar yang berpusat di Sporthall Bauman memperlombakan badminton, tennis meja, volley, basket, permainan anak-anak serta gaple.
Kegiatan olahraga tidak hanya diikuti oleh warga Indonesia di Rusia tetapi juga mereka yang sudah pindah kewarganegaraan bersama anak cucunya. Keakraban dirasakan oleh semua yang hadir.

Pada tanggal 17 Agustus diadakan upacara bendera, dan temu masyarakat diisi dengan panggung gembira menampilkan band dan karaoke oleh seluruh komponen masyarakat yang ada di Moskow dan sekitarnya.

Sedangkan pada tanggal 18 Agustus akan dilaksanakan resepsi khusus bagi kalangan diplomatic yang akan diliput media Rusia dan teveOne dari Jakarta.

Acara pentas budaya akan digelar di Vladivostok dari tanggal 19 dan 22 Agustus dengan menampilkan sebanyak 11 penari papan atas dari Indonesia yang didukung Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Mereka akan memperkenalkan budaya Indonesia di kota terbersar ketiga di Rusia tersebut di panggung utama kota, universitas, taman kota dan pembukaan festival film, ujar M Aji Surya.

(U-ZG)****5****

(T.H-ZG/B/B011/B011) 12-08-2009 12:13:00

KBRI MOSKOW GELAR PENTAS BUDAYA PERINGATI KEMERDEKAAN

KBRI MOSKOW GELAR PENTAS BUDAYA PERINGATI KEMERDEKAAN

London, 12/8 (ANTARA) - Peringatan HUT RI ke-64 tidak hanya bergema di Jakarta dan kampung-kampung di Indonesia, tetapi juga diperingati KBRI Moskow dengan menggelar serangkaian pentas budaya di Moskow, St. Petersburg, Minsk (Belarusia) dan Vladivostok.

"Momentum peringatan HUT kemerdekaan Indonesia ini sangat bermanfaat untuk melakukan publikasi dan mendekatkan masyarakat Rusia dan Belarusia dengan Indonesia yang belakangan kerjasama RI-Rusia terus meningkat," ujar Dubes RI untuk Rusia Hamid Awaludin kepada koresponden Antara di London, Rabu.

Dubes mengatakan, diplomasi budaya ini juga dimaksudkan sebagai upaya menunjukkan Indonesia negeri yang ramah dan eksotik, bukan negeri yang penuh kekerasan.

Sementara itu, Ketua Panita Peringatan HUT Kemerdekaan RI, Counsellor M. Aji Surya mengatakan, yang terpenting dari kegiatan ini adalah tidak adanya pemborosan, melainkan memaksimalkan dan mengefisienkan anggaran yang ada.

Khusus di St. Petersburg dan Minsk akan digelar resepsi diplomatik dan temu masyarakat sedangkan di Vladivostok berupa pementasan budaya.

Menurut M Aji Surya, manajemen kegiatan di empat kota bukan pekerjaan mudah selain di negeri orang dan memerlukan aneka tingkatan birokrasi, juga jaraknya yang luar biasa jauhnya.

"Bayangkan antara Moskow ke St. Petersburg sama dari Jogja ke Jakarta, sedangkan dari Moskow ke Minsk, Republik Belarusia, memerlukan visa dan naik kendaraan darat sekitar 10 jam perjalanan," ujarnya.

Sementara di Vladivostok, kota pelabuhan di bagian timur Rusia sembilan jam penerbangan dari Moskow (sama penerbangan Moskow - Singapura). Selain itu uniknya perbedaan waktu yang antara Moskow - Jakarta hanya berbeda waktu tiga jam. Sedangkan Moskow - Vladivostok beda tujuh jam.

Aji Surya mengatakan, pihaknya melibatkan berbagai kelompok masyarakat Indonesia di Rusia, seperti mahasiswa pecinta Indonesia, serta melibatkan dua koreografer, satu pelatih karawitan serta dua designer dari Jakata. Juga melibatkan puluhan artis dadakan jumlahnya mencapai 67 orang.

"Mereka harus bisa pentas selama 1,5 jam non-stop di panggung terbaik di Rusia (Dom Musiky) dan mampu menyajikan tarian nusantara yang diramu dengan musik modern. Selain peragaan busana batik oleh peragawati Rusia," ujarnya.


Pentas budaya
Menurut M Aji Surya, mahasiswa Indonesia dan Rusia yang sedang liburan menjadi tulang punggung kegiatan pentas budaya.

Mereka melakukan latihan marathon seminggu tiga kali dan hingga akhir minggu pertama Agustus sudah rampung 80 persen. Pemainan gending Jawa dan Bali yang ditingkahi dengan suling Bugis serta drum dan melodi terdengar mulai nyaman dan indah.

Sementara anak-anak Sekolah Indonesia di Moskow (SIM) tampil dalam adegan permainan anak, Gandrang Bulo, sedangkan sebagian anggota Dharma Wanita Pesatuan memainkan tarian nusantara.

Di bawah asuhan koreografer Anter Asmorotedjo dari Jogjakarta dan Abd. Basit dari Makasar serta pelatih karawitan I Wayan Berata, perhelatan akbar akan dipentaskan di Moskow pada tanggal 19 Agustus , di St. Peteresburg tanggal 25 dan Minsk tanggal 8 September dengan judul "Mahardhika Nusantara".

Kegiatan olahraga pun turut digelar yang berpusat di Sporthall Bauman memperlombakan badminton, tennis meja, volley, basket, permainan anak-anak serta gaple.
Kegiatan olahraga tidak hanya diikuti oleh warga Indonesia di Rusia tetapi juga mereka yang sudah pindah kewarganegaraan bersama anak cucunya. Keakraban dirasakan oleh semua yang hadir.

Pada tanggal 17 Agustus diadakan upacara bendera, dan temu masyarakat diisi dengan panggung gembira menampilkan band dan karaoke oleh seluruh komponen masyarakat yang ada di Moskow dan sekitarnya.

Sedangkan pada tanggal 18 Agustus akan dilaksanakan resepsi khusus bagi kalangan diplomatic yang akan diliput media Rusia dan teveOne dari Jakarta.

Acara pentas budaya akan digelar di Vladivostok dari tanggal 19 dan 22 Agustus dengan menampilkan sebanyak 11 penari papan atas dari Indonesia yang didukung Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Mereka akan memperkenalkan budaya Indonesia di kota terbersar ketiga di Rusia tersebut di panggung utama kota, universitas, taman kota dan pembukaan festival film, ujar M Aji Surya.

(U-ZG)****5****

(T.H-ZG/B/B011/B011) 12-08-2009 12:13:00

BEASISWA DARMASISWA

WARGA BELGIA RAIH BEASISWA DARMASISWA

London, 12/8 (ANTARA) - Duta Besar RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa, Nadjib Riphat Kesoema, menyebutkan program Darmasiswa memberi kesempatan pada para pelajar asing untuk memahami Indonesia secara nyata.

Selain belajar Bahasa Indonesia , maka banyak aspek lain yang bisa diperkenalkan ke mancanegara, ujar Dutes Nadjib Riphat Kesoema, ketika memberi pembekalan kepada penerima Darmasiswa sebelum mereka bertolak ke Indonesia, Rabu.

Minister Counsellor Pensosbud/Diplik P.L.E. Priatna, kepada koresponden Antara London, Rabu mengatakan Alexandre Jean Robert Leytens, peserta program Darmasiswa asal Belgia diterima Dubes RI Nadjib Riphat Kesoema di Brussel.

"KBRI Brussel berharap keberangkatan Alex dari Belgia ini segera diikuti peserta lain dari ibukota Uni Eropa ini. Darmasiswa ini memberi kesempatan pada pelajar asing untuk memahami Indonesia secara utuh," kata Dubes Nadjib melepas keberangkatan Alex untuk studi ke Indonesia.

Alexandre Leytens (20) mahasiswa tahun pertama jurusan arsitektur pada ISACF La Cambre Bruxelles adalah putra pasangan Aswita, wanita asal Minang yang menikah dengan Robert Leytens sejak lama berkeinginan mengenal lebih jauh Indonesia, tanah air ibunya.

"Saya ingin tahu lebih banyak lagi tentang negara kedua saya," ujar Alexandre Jean Robert Leytens, yang belajar bahasa Minang dan Indonesia dari ibunya dan masakan makanan Padang kesukaannya memberi modal besar untuk mewujudkan tekadnya mengenal Indonesia.

Kemandirian ini menguatkan keinginannya, tetap berangkat ke Indonesia, sekalipun di tengah bayangan perdebatan masalah keamanan, ujar P.L.E. Priatna, Koordinator Fungsi Pensosbud/Diplik KBRI Brussels.

Alex, warga Belgia yang bangga disebut urang awak ini, secara terbuka menyatakan telah jatuh cinta terhadap Indonesia. Dalam bahasa Minang yang cukup lancar, Alexandre menyatakan kegembiraannya dapat diterima dalam program Darmasiswa tahun ajaran 2009-2010 ini.

Calon mahasiswa Universitas Diponegoro tersebut juga mengungkapkan antusiasmenya untuk mempelajari seni dan budaya Indonesia, termasuk bahasa Jawa. Dengan demikian ia dapat mengenal Indonesia melampaui perspektif Minang yang dipahaminya.

Dubes Nadjib juga menyatakan apresiasinya terhadap partisipasi Alexandre dalam program Darmasiswa.

Dubes mengatakan KBRI Brussel mengemban tugas untuk pengembangan hubungan antara Belgia dengan Indonesia, termasuk dalam aspek pendidikan, budaya dan kesenian.

Diharapkan Alexandre dapat mengikuti seluruh program Darmasiswa dengan sebaik-baiknya dan kembali ke Belgia sebagai pribadi baru, sebagai orang Belgia yang memahami Indonesia.

Ia juga mengharapkan nantinya Alexandre dapat membantu menyukseskan program-program dan kegiatan KBRI Brussel untuk memperkuat hubungan people-to-people-relation antara masyarakat Belgia dan Indonesia, demikian PLE Priatna. ***5***

ZG/C/A011)
(T.H-ZG/B/A011/A011) 12-08-2009 09:41:27

Selasa, 11 Agustus 2009

DELEGASI INDONESIA KE "MOSAIC"

DELEGASI INDONESIA KE "MOSAIC" SIAP DORONG PERUBAHAN

London, 11/8 (ANTARA) - Empat pemuda yang menjadi delegasi Indonesia dalam Mosaic International Summer School yang berlangsung di Inggris belum lama ini menyatakan kesiapannya untuk mendorong perubahan ke arah yang lebih baik, sepulangnya mereka ke tanah air.

Izza Rohman dari Pusat Dialog dan Kerja sama Antarperadaban dalam keterangannya kepada koresponden Antara London, Selasa, mengatakan bahwa ada tiga bahasan utama yang difokuskan dalam program ini, yaitu 'communities', 'enterprise', dan 'environtment'.

Mosaic International Summer School adalah program dari Mosaic, yayasan yang didirikan Putra Mahkota Inggris Pangeran Charles bersama beberapa negara muslim, dengan tujuan untuk menumbuhkan sifat kepemimpinan, saling bertukar ide mengenai perkembangan dan permasalahan di negara-negara muslim.

Keempat delegasi Indonesia yang mengikuti program ini adalah Budi Pratama (Akbar's Financial Check Up), Dewi Prasetya (Departemen Keuangan Republik Indonesia/Bapepam), Ilan Asqolani (Prestasi Junior Indonesia), dan Izza Rohman (Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations/CDCC).

Dengan mengikuti program ini diharapkan para peserta mempunyai pemahanan mengenai perkembangan Islam di negara-negara lain, termasuk di negara nonmuslim misalnya Inggris, serta dapat memberikan gambaran mengenai hal tersebut di negara masing-masing.

Selain itu, mereka diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada komunitas mereka dengan nilai-nilai kepemimpinan yang diperoleh dan 'networking' yang dibangun dalam kegitan ini.

Kegiatan pengembangan kepemimpinan pemuda itu diikuti oleh 86 pemuda dari 13 negara, yaitu dari Bahrain, Bangladesh, Mesir, Jordan, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi Arabia, Turki, United Arab Emirates, Malaysia, Indonesia, dan Inggris.

Izza Rohman mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa mewakili Indonesia dalam kegiatan ini.

"Banyak pengalaman berharga yang diperoleh, di antaranya interaksi lintas budaya, pendalaman isu-isu global, dan termasuk pengalaman membangun persahabatan dan jejaring dengan para pemuda Muslim dari banyak negara," ujarnya.

Selain itu, mereka banyak mendapatkan kembali semangat untuk mendorong perubahan positif dalam masyarakat.

"Kami merekomendasikan ada lebih banyak pemuda dari Indonesia yang diberi kesempatan mengikuti program ini tahun depan," ujar Izza Rohman.

Dewi Prasetya dari Bapepam mengakui program ini tidak hanya memberinya pengetahuan, tapi juga pengalaman.

"Mosaic membuka mata saya akan apa yang terjadi di dunia, akan problem-problem yang dihadapi saudara-saudara muslim di belahan bumi lain, serta bagaimana mereka mengatasinya," ujar Dewi.

Menurut Demi, kegiatan ini banyak memberi manfaat lebih dari yang diharapkan.

"Kami sangat berterima kasih pada Mosaic dan Prudential yang telah memungkinkan delegasi Indonesia bisa ikut serta tahun ini," ujar Dewi Prasetya.

Peserta lainya, Ilan Asqolani dari dari Junior Achievement (Prestasi Junior), mengatakan, Mosaic Summer School Internasional telah memberikan inspirasi tersendiri bagi semua peserta yang ikut di dalamnya, khususnya delegasi dari Indonesia.

"Banyak sekali manfaat yang diperoleh dan masukan berharga yang menginspirasi sekaligus mendorong mereka untuk melakukan suatu perubahan untuk komunitas mereka," ujarnya.

Mereka berharap dapat memberikan inspirasi bagi pemuda-pemuda lainnya untuk melakukan hal yang sama.
"Ada banyak hal yang ingin kami perbuat atau perbaiki sepulang ke Tanah Air. Ini saja cukup menjadi bukti bahwa kegiatan ini, dan juga tindak lanjutnya nanti, sangat besar potensinya untuk mendorong peran pemuda dalam menyikapi masalah-masalah sosial dan lingkungan hidup," ujar Ilan Asqolani.

Budi Triadi Pratama mengakui program ini sangat menginspirasi para pesertanya tentang banyak hal.

"Kami jadi tahu ada banyak hal yang telah dilakukan atau didorong oleh tokoh seperti Pangeran Charles lewat lembaga-lembaga sosialnya--hal-hal yang ternyata belum semuanya terpikirkan atau terlaksanakan seperti di Indonesia," katanya.

Untuk itu ia menyampaikan penghargaan dan terima kasih buat dukungan semua pihak untuk kegiatan ini.

Ajang ini salah satu gerbang memasuki jaringan internasional. Cita-cita besarnya adalah diharapkan Mosaic International dapat memberikan pengaruh dan perubahan yang nyata bagi dunia, demikian Budi Triadi Pratama.

Mosaic tidak hanya sebagai wadah, tetapi juga diharapkan dapat menjadi media pelaksana dan jembatan antarnegara-negara muslim itu sendiri, dan dunia.

Mosaic International harus dapat berdiri sebagai organisasi dunia yang mewakili komunitas muslim dan negara-negara muslim itu sendiri.

Ini merupakan contoh sinergi yang baik antara budaya barat dan timur. Khususnya kerja sama negara maju dan negara berkembang. Dan Indonesia khususnya punya potensi yang sangat baik," demikian Budi Pratama.

Pada minggu pertama seluruh peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung di Cambridge, dan minggu berikutnya mengunjungi berbagai lembaga dan kerja-kerja komunitas di berbagai kota di Inggris seperti Bristol, London, Birmingham, dan Manchester.

Para peserta yang mempunyai beragam latar belakang--mulai dari aktivis LSM, wirausahawan, jurnalis, guru, akademisi, peneliti, pekerja perusahaan, hingga pegawai negeri-- bertukar wawasan mengenai empat topik utama saling berkait.

Keempat topik tersebut adalah pembangunan 'sustainable community', pengembangan peran kegiatan kewirausahaan terutama dalam mengurangi masalah sosial, dan penanganan masalah lingkungan hidup, serta pentingnya kepemimpinan dalam mewujudkan ketiga hal itu.

Dengan diselenggarakannya Mosaic yang pesertanya dari berbagai latar belakang yang sangat bervariasi untuk membahas hal-hal bersifat global yang beranjak dari contoh-contoh kasus lokal, diharapkan tercipta suatu kohesi untuk bergerak bersama membangun dunia, bukan lagi secara parsial. (U-ZG) ***5***
(T.H-ZG/B/H-KWR/H-KWR) 11-08-2009 22:30:17