UGM PELAKSANA WTO CHAIR PROGRAMME WCP
London, 28/5 (ANTARA) - Dirjen WTO, Pascal Lamy, mengumumkan Universitas Gadjah Mada sebagai universitas pelaksana WCP dalam acara peluncuran WTO Chair Programme (WCP) yang diselenggarakan di Markas Besar WTO, Jenewa.
Sekretaris Pertama PTRI Jenewa, Yudi Triantoro, kepada koresponden Antara London, Jumat, mengatakan, WCP adalah salah satu outreach yang dilakukan WTO terhadap kalangan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan kapasitas akademis studi perdagangan internasional.
Melalui program tersebut, selama empat tahun ke depan, UGM akan memperoleh bantuan teknis, baik dalam wujud pendanaan ataupun pengiriman pakar WTO untuk membantu pengembangan kapasitas akademis dan riset yang terkait dengan perdagangan internasional.
Terjadinya sinergi antara kalangan perguruan tinggi dengan pemerintah, diyakini Dirjen WTO akan meningkatkan kemampuan suatu negara untuk berpartisipasi secara efektif dalam kegiatan perdagangan internasional.
Disamping itu, tercatat pula adanya 13 universitas lainnya di dunia yang mendapatkan kepercayaan serupa, antara lain University of Chile, Shanghai Institute of Foreign Trade - China, University of Nairobi - Kenya, the University of Jordan, Latin American Faculty of of Social Sciences - Argentina, St. Petersburg State University - Russia, Vietnam National University.
Riza Noer Arfani, selaku Chair Coordinator UGM, menyampaikan kesiapan UGM, baik dari aspek infrastruktur akademik dan fisik untuk melaksanakan WCP.
Beberapa tujuan yang akan dicapai UGM adalah terbentuknya kurikulum pengajaran studi perdagangan internasional pada tingkat graduate, kegiatan penelitian dan pembuatan data seputar WTO dan perdagangan internasional serta terciptanya networking antara UGM dengan pemerintah ataupun UGM dengan lembaga sejenis, baik dalam maupun luar negeri.
"Merupakan kebanggaan tersendiri Universitas kita diakui kredibilitasnya sebagai salah satu penerima program outreach yang dilakukan WTO terhadap kalangan perguruan tinggi dalam rangka mengembangkan kapasitas akademis studi perdagangan internasional," ujar Dian Triansyah Djani, Duta Besar/Wakil Tetap RI untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa.
Terpilihnya UGM sebagai mitra WTO untuk melaksanakan WCP, juga akan menjadikan UGM sebagai salah satu mitra pemerintah dalam membangun pemahaman dan kesadaraan publik mengenai pentingnya kegiatan perdagangan internasional sebagai sumber pertumbuhan dan pemerataan pembangunan nasional.
Tersedianya kapasitas riset yang handal dan sumber daya manusia yang memahami isu perdagangan internasional diharapkan akan berkontribusi besar pada kesiapan Indonesia dalam melakukan perundingan dan memanfaatkan kegiatan perdagangan internasional.
Sebagai salah satu negara berkembang Anggota WTO, Indonesia telah banyak memanfaatkan berbagai bantuan teknis yang disediakan oleh WTO. Bantuan teknis yang diterima oleh Pemerintah Indonesia selama ini lebih diarahkan untuk meningkatkan kapasitas para pejabat Pemerintah RI dalam memahami dan menangani berbagai isu perdagangan internasional.
Membanggakan
Duta Besar/Deputi Wakil Tetap RI untuk WTO di Jenewa, Erwidodo, yang juga hadir dalam acara peluncuran WCP, menyatakan, terpilihnya UGM sebagai salah satu penerima WCP adalah prestasi yang membanggakan. UGM bersama dengan 13 universitas lainnya berhasil menyisihkan 70 universitas lainnya yang mengikuti proses seleksi.
UGM dinilai oleh WTO dan WCP Advisory Board (yang terdiri dari akademisi berbagai perguruan tinggi terkemuka di dunia) mempunyai kemampuan dalam membangun networking dan mengembangkan suatu center of excellence dalam studi perdagangan internasional di Indonesia.
Dengan kepercayaan yang diberikan oleh WTO kepada UGM, tentunya akan lebih membuat isu-isu perdagangan internasional dipahami tidak terbatas hanya oleh kalangan pemerintah saja, namun juga oleh berbagai pemangku kepentingan secara luas.
(U-ZG)
(T.H-ZG/B/M012/M012) 28-05-2010 20:54:09
Blog ini berisi liputan dan berita serta artikel sekitar kejadian yang ada hubungannya diplomasi Indonesia di luar negeri khususnya wilayah Eropa yang saya kirim dan dimuat di LKBN Antara. Terima kasih untuk seluruh nara sumber diplomat yang memberikan kontribusi kepada saya sebagai koresponden LKBN Antara di Kerajaan Inggris dan juga mencakup wilayah Eropa
Jumat, 28 Mei 2010
KBRI BERLIN BANTU PEMULANGAN JENAZAH PESERTA PELATIHAN
KBRI BERLIN BANTU PEMULANGAN JENAZAH PESERTA PELATIHAN
London, 29/5 (ANTARA) - Perwakin RI di Jerman memfasilitasi penanganan dan pemulangan jenazah peserta pelatihan InWEnt di Mannheim, Jerman, almarhum Suratno yang meninggal karena sakit di Asrama InWEnt Mannheim, Jerman.
Perwakilan RI di Jerman bersama InWEnt melakukan penanganan pengurusan dan pemulangan jenazah guru SMKN 4 Semarang yang sedang mengikuti program pelatihan InWEnt di Mannheim, Jerman, ujar Pensosbud KBRI Berlin, Agus Priono, kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Segera setelah mendapatkan informasi mengenai meninggalnya almarhum Suratno, KBRI Berlin dan KJRI Frankfurt menugaskan stafnya ke Mannheim untuk melakukan pengurusan terkait dan untuk memastikan terlindunginya hak-hak almarhum, sebagai wujud dari upaya perwakilan RI untuk melakukan perlindungan terhadap WNI.
Dalam kaitan tersebut, telah dilakukan pertemuan dengan pihak- pihak terkait antara lain Kepolisian dan Kejaksaan setempat, rumah sakit serta InWEnt.
Sesuai informasi pihak-pihak terkait, almarhum Suratno meninggal pada 23 Mei di Asrama InWEnt Mannheim karena sakit.
KBRI Berlin dan KJRI Frankfurt telah mengupayakan secara optimal diselesaikannya pengurusan dokumen-dokumen serta pengurusan-pengurusan jenazah almarhum, sehingga pemulangan ke tanah air bisa dilakukan secepatnya.
Almarhum Suratno beserta 19 orang lainnya berada di Jerman dalam rangka mengikuti program pelatihan InWEnt yang berlangsung sejak tanggal 11 April dan akan berakhir pada 11 Juli.
Peserta pelatihan terbagi menjadi dua grup yaitu untuk bidang Human Resources Development (HRD) sebanyak 12 orang termasuk Almarhum Suratno dan bidang Renewable Energy sebanyak delapan orang.
InWEnt atau Internationale Weiterbildung und Entwicklung GmbH
Capacity Building International, Jerman merupakan organisasi nirlaba, yang beroperasi di bidang pengembangan kapasitas sumberdaya manusia, pelatihan, dan dialog di seluruh dunia.
(U-ZG)
(T.H-ZG/B/M012/M012) 29-05-2010 01:30:32
London, 29/5 (ANTARA) - Perwakin RI di Jerman memfasilitasi penanganan dan pemulangan jenazah peserta pelatihan InWEnt di Mannheim, Jerman, almarhum Suratno yang meninggal karena sakit di Asrama InWEnt Mannheim, Jerman.
Perwakilan RI di Jerman bersama InWEnt melakukan penanganan pengurusan dan pemulangan jenazah guru SMKN 4 Semarang yang sedang mengikuti program pelatihan InWEnt di Mannheim, Jerman, ujar Pensosbud KBRI Berlin, Agus Priono, kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Segera setelah mendapatkan informasi mengenai meninggalnya almarhum Suratno, KBRI Berlin dan KJRI Frankfurt menugaskan stafnya ke Mannheim untuk melakukan pengurusan terkait dan untuk memastikan terlindunginya hak-hak almarhum, sebagai wujud dari upaya perwakilan RI untuk melakukan perlindungan terhadap WNI.
Dalam kaitan tersebut, telah dilakukan pertemuan dengan pihak- pihak terkait antara lain Kepolisian dan Kejaksaan setempat, rumah sakit serta InWEnt.
Sesuai informasi pihak-pihak terkait, almarhum Suratno meninggal pada 23 Mei di Asrama InWEnt Mannheim karena sakit.
KBRI Berlin dan KJRI Frankfurt telah mengupayakan secara optimal diselesaikannya pengurusan dokumen-dokumen serta pengurusan-pengurusan jenazah almarhum, sehingga pemulangan ke tanah air bisa dilakukan secepatnya.
Almarhum Suratno beserta 19 orang lainnya berada di Jerman dalam rangka mengikuti program pelatihan InWEnt yang berlangsung sejak tanggal 11 April dan akan berakhir pada 11 Juli.
Peserta pelatihan terbagi menjadi dua grup yaitu untuk bidang Human Resources Development (HRD) sebanyak 12 orang termasuk Almarhum Suratno dan bidang Renewable Energy sebanyak delapan orang.
InWEnt atau Internationale Weiterbildung und Entwicklung GmbH
Capacity Building International, Jerman merupakan organisasi nirlaba, yang beroperasi di bidang pengembangan kapasitas sumberdaya manusia, pelatihan, dan dialog di seluruh dunia.
(U-ZG)
(T.H-ZG/B/M012/M012) 29-05-2010 01:30:32
Selasa, 25 Mei 2010
ANAK-ANAK DARI ITALIA BELAJAR MENDALANG
ANAK-ANAK DARI ITALIA BELAJAR MENDALANG
London, 26/5 (ANTARA) - Murid dari sekolah musik Instituto Comprensivo Dante Alighieri, Venezia berusia rata rata sembilan tahun dengan antusias mengikuti lokakarya belajar bermain musik, menari dan nyanyi serta mendalang.
Lokakarya mengenai alat-alat musik, tari dan lagu Sunda digelar di "Fundazione CINI" di Santa Giorgio, pulau kecil dan indah di Venezia, demikian "Counsellor" Pensosbud KBRI Roma, Musurifun Lajawa, Kepada koresponden ANTARA London, Rabu.
Pada akhir lokakarya, Ketua STSI Bandung, Drs Enoh, M.Hum menyerahkan sejumlah wayang kepada Instituto Comprensivo Dante Alighieri kepada kepala sekolah Prof Dr Roberto Santini.
Lokakarya diikuti sedikitnya 120 anak-anak dari sekolah musik Instituto Comprensivo Dante Alighieri, Venezia didampingi kepala sekolahnya, Roberto Sintini.
Selama mengikuti lokakarya, anak-anak umur rata-rata 9 tahun tampak sangat antusias bermain musik, menari dan nyanyi serta mendalang.
Para peserta dengan mudah mengikuti lokarya, karena alat-alat musik dari dunia timur atau oriental tidak membutuhkan pengantar teori yang rumit, ujar Musurifun Lajawa.
Prof Dr Roberto Sintini mengakui semua murid di sekolah yang diasuhannya sudah menguasai paling tidak dua alat musik.
Menurut dia, praktik langsung dalam lokakarya musik tradisional Indonesia ini, bukan hanya menjadi sarana pendidikan musik yang efektif, tetapi juga akan meningkatkan pemahaman dan kecintaan pada budaya lain sejak usia dini.
Pakar kebudayaan Sunda yang memperkuat misi STSI Bandung, Prof Dr Jacob Sumardjo menegaskan, pengenalan dan kecintaan terhadap berbagai ragam budaya akan melahirkan budaya damai di bumi.
Sebelum lokakarya digelar pertunjukkan "The Soul of West Java" dengan menampilkan Dwiki Dharawan dan STSI Bandung di Teatro Goldoni, Venezia
Dubes RI untuk Italia, Mohamad Oemar beserta isteri, menerima sambutan dari masyarakat Italia yang dengan sabar menyalami guna menyampaikan terima kasih dan kekaguman mereka.
Bukan kebiasaan di Venezia atau pun Italia, penonton menyalami tuan rumah pada akhir acara pertunjukan, ujar Prof Dr Giovanni Giuriati, Direktur Institut Perbandingan Musik di Venezia.
Dubes Oemar menyampaikan tari, musik dan lagu yang dipersembahkan STSI Bandung hanyalah satu dari sekitar 300 suku bangsa Indonesia, yang terdiri dari lebih 17.000 pulau Nusantara dan karenanya mengembangkan tradisi dan budaya serta bahasa yang berbeda-beda.
Karena itu, diplomasi kebudayaan sebagai salah satu sumber kekuatan "soft power" Indonesia perlu terus ditingkatkan dan diperluas cakupannya.
Venezia kota bersejarah dan salah satu tujuan utama pariwisata di Italia, yang dikenal sebagai kota terapung.
Di antara 700 penontong yang memadati Teatro Goldoni, di pusat keramaian kota Venezia, para wisatawan pun ikut menyaksikan pertunjukan kesenian Sunda yang eksotik.
Pertunjukan di Venezia mengakhiri kunjungan misi kebudayaan Sunda di Italia, setelah sebelumnya tampil sukses di Roma dan Napoli pekan lalu. Kunjungan budaya ini dilaksanakan atas kerja sama KBRI Roma dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan STSI Bandung. (U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 08:27:43
London, 26/5 (ANTARA) - Murid dari sekolah musik Instituto Comprensivo Dante Alighieri, Venezia berusia rata rata sembilan tahun dengan antusias mengikuti lokakarya belajar bermain musik, menari dan nyanyi serta mendalang.
Lokakarya mengenai alat-alat musik, tari dan lagu Sunda digelar di "Fundazione CINI" di Santa Giorgio, pulau kecil dan indah di Venezia, demikian "Counsellor" Pensosbud KBRI Roma, Musurifun Lajawa, Kepada koresponden ANTARA London, Rabu.
Pada akhir lokakarya, Ketua STSI Bandung, Drs Enoh, M.Hum menyerahkan sejumlah wayang kepada Instituto Comprensivo Dante Alighieri kepada kepala sekolah Prof Dr Roberto Santini.
Lokakarya diikuti sedikitnya 120 anak-anak dari sekolah musik Instituto Comprensivo Dante Alighieri, Venezia didampingi kepala sekolahnya, Roberto Sintini.
Selama mengikuti lokakarya, anak-anak umur rata-rata 9 tahun tampak sangat antusias bermain musik, menari dan nyanyi serta mendalang.
Para peserta dengan mudah mengikuti lokarya, karena alat-alat musik dari dunia timur atau oriental tidak membutuhkan pengantar teori yang rumit, ujar Musurifun Lajawa.
Prof Dr Roberto Sintini mengakui semua murid di sekolah yang diasuhannya sudah menguasai paling tidak dua alat musik.
Menurut dia, praktik langsung dalam lokakarya musik tradisional Indonesia ini, bukan hanya menjadi sarana pendidikan musik yang efektif, tetapi juga akan meningkatkan pemahaman dan kecintaan pada budaya lain sejak usia dini.
Pakar kebudayaan Sunda yang memperkuat misi STSI Bandung, Prof Dr Jacob Sumardjo menegaskan, pengenalan dan kecintaan terhadap berbagai ragam budaya akan melahirkan budaya damai di bumi.
Sebelum lokakarya digelar pertunjukkan "The Soul of West Java" dengan menampilkan Dwiki Dharawan dan STSI Bandung di Teatro Goldoni, Venezia
Dubes RI untuk Italia, Mohamad Oemar beserta isteri, menerima sambutan dari masyarakat Italia yang dengan sabar menyalami guna menyampaikan terima kasih dan kekaguman mereka.
Bukan kebiasaan di Venezia atau pun Italia, penonton menyalami tuan rumah pada akhir acara pertunjukan, ujar Prof Dr Giovanni Giuriati, Direktur Institut Perbandingan Musik di Venezia.
Dubes Oemar menyampaikan tari, musik dan lagu yang dipersembahkan STSI Bandung hanyalah satu dari sekitar 300 suku bangsa Indonesia, yang terdiri dari lebih 17.000 pulau Nusantara dan karenanya mengembangkan tradisi dan budaya serta bahasa yang berbeda-beda.
Karena itu, diplomasi kebudayaan sebagai salah satu sumber kekuatan "soft power" Indonesia perlu terus ditingkatkan dan diperluas cakupannya.
Venezia kota bersejarah dan salah satu tujuan utama pariwisata di Italia, yang dikenal sebagai kota terapung.
Di antara 700 penontong yang memadati Teatro Goldoni, di pusat keramaian kota Venezia, para wisatawan pun ikut menyaksikan pertunjukan kesenian Sunda yang eksotik.
Pertunjukan di Venezia mengakhiri kunjungan misi kebudayaan Sunda di Italia, setelah sebelumnya tampil sukses di Roma dan Napoli pekan lalu. Kunjungan budaya ini dilaksanakan atas kerja sama KBRI Roma dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan STSI Bandung. (U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 08:27:43
KESENIAN DAPAT MENJADI TONTONAN KOMERSIAL
KESENIAN DAPAT MENJADI TONTONAN KOMERSIAL
Moskow, 26/5 (ANTARA) - Kesenian tidak hanya menjadi khasanah kekayaan budaya suatu bangsa, melainkan juga dapat dipentaskan secara komersial dengan kemasan menarik yang pada akhirnya dapat mendatangkan devisa negara.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman kepada koresponden ANTARA London, Selasa malam, usai pagelaran Festival Budaya Indonesia dalam rangkaian peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Rusia.
Festival Budaya Indonesia yang tampil memukau publik di Moskow digelar di "Concert Hall MIR", Moskow, selama dua malam 24 dan 25 Mei itu, merupakan rangkaian pertunjukan kesenian Indonesia di tiga kota di Rusia yang berakhir hingga 31 Mei mendatang.
Tim kesenian DKI Jakarta dengan koordinator Nungki Kusumastuti juga membawa None dan Abang Jakarta 2009, Ayudya Ananda Putri dan Armanda Geraldy Amiarso serta 10 penari dan lima pemusik.
Selama pementasan di tiga kota di Rusia, Tim Kesenian DKI Jakarta menampilkan tarian Lenggang Betawi, Kembang Topeng, Zapin, Tari Saman dan Tari Kontemporer.
Menurut Arie Budhiman, keikutsertaan Tim Kesenian DKI Jakarta dalam festival budaya Indonesia merupakan kunjungan balasan setelah pada tahun lalu tim kesenian Rusia tampil di Gedung Kesenian Jakarta dan melakukan pameran foto di Pusat Perfilman Usmar Ismal Jakarta.
Diharapkannya, melalui kegiatan ini masyarakat Rusia semakin mengenal lebih dekat lagi Indonesia, khususnya Jakarta sebagai salah satu sotu tujuan wisata di Indonesia yang memiliki keragaman budaya.
Arie Budhiman menurutkan, tim kesenian dari DKI Jakarta merasa beruntung dapat menjadi bagian dari sejarah peringatan 60 tahun perayaan hubungan Persahabatan Indonesia-Rusia.
Untuk itu, Pemerintah DKI Jakarta perlu memberikan dukungan yang seoptimal mungkin dan tampil semaksimal mungkin dalam meningkatkan citra bangsa dimata dunia internasional khususnya Rusia, ujarnya.
Sementara itu, Nungki Kusumastuti menuturkan apa yang ditampilkan dalam acara festival Budaya Indonesia memperingati perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Rusia baru merupakan miniatur dari keanekaragaman seni di Indonesia, khususnya "perform art" musik dan tari.
Wanita kelahiran Banda Aceh, Desember 1958 ini mengatakan bahwa misi kesenian Indonesia kali ini masih sangat terbatas, padahal banyak garapan baru seperti apa yang ditampikannya pada malam pertama Tari kontemporer berjudul "Saat Membuka Saat menutup'.
Menurut dosen di Institut Kesenian Jakarta ini, tarian kontemporer yang dibawakannya merupakan transformasi manusia yang mengunakan topeng dan bila dibuka akan terliat manusia itu sesungguhnya karena dunia dinilai penuh dengann peperangan kebencian dan amarah untuk itu perlu di transpormasikan.
Tim delegasi budaya DKI Jakarta ke Rusia dengan 20 orang yang terdiri dari penari dari Sanggar Tari Ayub Zyura dan dari Institut Kesenian Jakarta serta pemain musik juga didukung Syahril Andika, anggota Komisi 8 DPRD DKI Jakarta, Kepala Bidang Promosi Sri Juniarty, Kepala Seksi Promosi Luar Negeri Hari Wibowo dan kepala sekretariat Jaman Subiyanto. (U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 08:01:40
Moskow, 26/5 (ANTARA) - Kesenian tidak hanya menjadi khasanah kekayaan budaya suatu bangsa, melainkan juga dapat dipentaskan secara komersial dengan kemasan menarik yang pada akhirnya dapat mendatangkan devisa negara.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman kepada koresponden ANTARA London, Selasa malam, usai pagelaran Festival Budaya Indonesia dalam rangkaian peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Rusia.
Festival Budaya Indonesia yang tampil memukau publik di Moskow digelar di "Concert Hall MIR", Moskow, selama dua malam 24 dan 25 Mei itu, merupakan rangkaian pertunjukan kesenian Indonesia di tiga kota di Rusia yang berakhir hingga 31 Mei mendatang.
Tim kesenian DKI Jakarta dengan koordinator Nungki Kusumastuti juga membawa None dan Abang Jakarta 2009, Ayudya Ananda Putri dan Armanda Geraldy Amiarso serta 10 penari dan lima pemusik.
Selama pementasan di tiga kota di Rusia, Tim Kesenian DKI Jakarta menampilkan tarian Lenggang Betawi, Kembang Topeng, Zapin, Tari Saman dan Tari Kontemporer.
Menurut Arie Budhiman, keikutsertaan Tim Kesenian DKI Jakarta dalam festival budaya Indonesia merupakan kunjungan balasan setelah pada tahun lalu tim kesenian Rusia tampil di Gedung Kesenian Jakarta dan melakukan pameran foto di Pusat Perfilman Usmar Ismal Jakarta.
Diharapkannya, melalui kegiatan ini masyarakat Rusia semakin mengenal lebih dekat lagi Indonesia, khususnya Jakarta sebagai salah satu sotu tujuan wisata di Indonesia yang memiliki keragaman budaya.
Arie Budhiman menurutkan, tim kesenian dari DKI Jakarta merasa beruntung dapat menjadi bagian dari sejarah peringatan 60 tahun perayaan hubungan Persahabatan Indonesia-Rusia.
Untuk itu, Pemerintah DKI Jakarta perlu memberikan dukungan yang seoptimal mungkin dan tampil semaksimal mungkin dalam meningkatkan citra bangsa dimata dunia internasional khususnya Rusia, ujarnya.
Sementara itu, Nungki Kusumastuti menuturkan apa yang ditampilkan dalam acara festival Budaya Indonesia memperingati perayaan 60 tahun hubungan Indonesia-Rusia baru merupakan miniatur dari keanekaragaman seni di Indonesia, khususnya "perform art" musik dan tari.
Wanita kelahiran Banda Aceh, Desember 1958 ini mengatakan bahwa misi kesenian Indonesia kali ini masih sangat terbatas, padahal banyak garapan baru seperti apa yang ditampikannya pada malam pertama Tari kontemporer berjudul "Saat Membuka Saat menutup'.
Menurut dosen di Institut Kesenian Jakarta ini, tarian kontemporer yang dibawakannya merupakan transformasi manusia yang mengunakan topeng dan bila dibuka akan terliat manusia itu sesungguhnya karena dunia dinilai penuh dengann peperangan kebencian dan amarah untuk itu perlu di transpormasikan.
Tim delegasi budaya DKI Jakarta ke Rusia dengan 20 orang yang terdiri dari penari dari Sanggar Tari Ayub Zyura dan dari Institut Kesenian Jakarta serta pemain musik juga didukung Syahril Andika, anggota Komisi 8 DPRD DKI Jakarta, Kepala Bidang Promosi Sri Juniarty, Kepala Seksi Promosi Luar Negeri Hari Wibowo dan kepala sekretariat Jaman Subiyanto. (U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 08:01:40
KEBUDAYAAN DAN KESENIAN PERERAT HUBUNGAN RI-RUSIA
KEBUDAYAAN DAN KESENIAN PERERAT HUBUNGAN RI-RUSIA
Moskow, 26/5 (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Asia Federasi Rusia Alexei Barodavkin mengakui kebudayaan dan kesenian akan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Rusia yang memasuki usia 60 tahun.
Hal itu disampaikan Alexei Barodavkin saat peresmian "gala premiere" Festival Budaya Indonesia yang diisi dengan penampilan kesenian serta peragaan busana karya perancang mode Indonesia dengan peragawati dari Rusia dan Indonesia diadakan di "Concert Hall MIR", Moskow, Selasa malam.
Festival Budaya Indonesia digelar di tiga kota di Rusia yaitu di Moskow, Tver dan St. Petersburg dari tanggal 24 hingga 31 Mei mendatang merupakan balasan dari kegiatan yang sama yang dilakukan Rusia di Indonesia tahun lalu di Jakarta serta Yogyakarta.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengakui kebudayaan dan pariwisata merupakan alat yang akan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Rusia.
"Kebudayaan memegang peranan penting dalam meningkatkan kerja sama antara Rusia dan Indonesia," ujar Menteri Jero Wacik.
Enam puluh tahun lalu, tepatnya pada 3 Februari 1950, RI-Rusia sepakat menjalin hubungan diplomatik. Tahun 1954, kedua negara membuka Kedutaan Besar di Moskow dan Jakarta.
Hubungan bilateral Indonesia-Federasi Rusia makin berkembang setelah ditandatanganinya "Declaration of the Republic of Indonesia and the Russian Federation on the Framework of Friendly and Partnership Relations in the 21st Century", oleh Presiden saat itu Megawati Soekarnoputri dan Presiden Vladimir V. Putin, 21 April 2003 di Moskow.
Dokumen ini membentuk landasan baru hubungan kerja sama strategis (strategic partnership) dalam tingkatan global, regional dan bilateral. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia dan Rusia menyepakati untuk lebih mempererat hubungan bilateral melalui kerja sama kebudayaan.
Langkah ini dikuatkan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia September 2007. Kedua Kepala Negara sepakat untuk menyelenggarakan Pekan Budaya di masing-masing negara secara bergantian.
Komitmen tersebut semakin diperkuat pada saat Sidang Komisi Bersama ke-5 RI-Rusia pada bulan Desember 2008 di Moskow.
Dalam rangka memenuhi komitmen tersebut, disepakatilah "Protocol between the Ministry of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia and the Ministry of Culture of the Russian Federation on the Organization of the Russian Cultural Days in 2009 and the Indonesian Cultural Days in Russia in 2010" yang ditandatangani pada 29 Mei 2009.
Realisasi dari penandatanganan itu dilakukan Kementerian dan Kebudayaan Federasi Rusia yang diwakili Vitaly N Bobylev dan dari Indonesia diwakili Kepala Biro Kerja sama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata N.W. Giri Adnyani.
Pekan Kebudayaan Rusia di Indonesia sudah diselenggarakan di dua kota besar, yaitu Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 28 Juli sampai 3 Agustus 2009.
Selama kurang lebih sepekan, masyarakat Indonesia menyambut meriah kekayaan budaya Rusia dalam bentuk pertunjukan tari balet dan tradisional, nyanyian, pemutaran film, dan pameran dari para pelaku seni kenamaan Rusia.
Tahun 2010 adalah giliran Indonesia untuk menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Indonesia di Rusia yang berthema Festival Budaya Indonesia di Rusia 2010: "Colours of Indonesia" yang digelar di Moskow, Tver dan di St. Petersburg.
Duta Besar RI untuk Federasi Rusia Hamid Awaluddin mengemukakan, Pemerintah Indonesia mengharapkan melalui penyelenggaraan Festival Budaya Indonesia di Rusia tahun 2010, hubungan bilateral antar kedua negara semakin erat dan serta pemahaman yang lebih baik antarrakyat kedua negara dapat dicapai.
Menteri Kebudayaan Federasi Rusia, Alexander Avdeyev mengatakan bahwa ia sangat menghargai kerja sama kebudayaan kedua negara dan juga sambutan hangat dari masyarakat Indonesia saat acara kebudayaan Rusia digelar di Indonesia.
Indonesia Raya
Pekan budaya Indonesia yang dihadiri korps diplomatik serta "Friend Of Indonesia" dan Miss Moskow 2009 yang juga Miss Earth 2010 Nadezda Zamolodskaya, diawali dengan diperdengarkannya lagu Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Federasi Rusia yang bergema di gedung di "Concert Hall MIR", Moskow, yang berkapasitar 800 orang.
Acara Festival Budaya diawali dengan tarian pembuka Tari Rakyat Gandran Bulo dari Sulawesi yang dibawakan anak-anak sekolah Moskow berusia dari 7 sampai 12 tahun di antaranya putra putri Dubes RI untuk Federasi Rusia yaitu Virginia dan Abraham diiringin dengan musik "The Rhythm of Indonesia" dengan komposer Dwiki Darmawan.
Sementara itu, Tari Lengang Betawi dibawakan penari dari Tim Kesenian DKI Jakarta di bawah koordinator Nungki Kusumastuti yang dilanjutkan dengan penampilan Gebyar Batik garapan Paranditya Wintami dengan penari Putria Retno Pudyastuti, Antis Tri Cahyani, Nurul Dwi Utami dari Yogyakarta.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata membawa delapan seniman dari "Sanggar Cantika" pimpinan Reitha F. Hanividya yang terdiri dari lima penari dan tiga pemusik, yang akan menampilkan Tari Pagelu dari Sulawesi Selatan, Tari Dadas Panaluh dari Kalimantan Tengah dan tari Mansorandak dari Papua.
Para perancang busana Indonesia ikut memeriahkan festival budaya Indonesia seperti Stephanus Hamy yang menampilkan busana rancangannya sulam tapis dari daerah Lampung di Sumatera, Didi Budiarjo mengangkat tema Pilgrimage yang diinspirasikan "Ballet Russes" dan disainer Tutik Cholid yang diperagakan peragawati dari Indonesia Nien Indriyati dan Laurensia Muljadi serta peragawati dari Moskow.
Dalam kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia Hamid Awaluddin dalam sambutannya membacakan puisi karya seniman Rusia yang mendapat sambutan dari undangan yang sebagian besar masyarakat Rusia. (U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 07:20:47
Moskow, 26/5 (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Asia Federasi Rusia Alexei Barodavkin mengakui kebudayaan dan kesenian akan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Rusia yang memasuki usia 60 tahun.
Hal itu disampaikan Alexei Barodavkin saat peresmian "gala premiere" Festival Budaya Indonesia yang diisi dengan penampilan kesenian serta peragaan busana karya perancang mode Indonesia dengan peragawati dari Rusia dan Indonesia diadakan di "Concert Hall MIR", Moskow, Selasa malam.
Festival Budaya Indonesia digelar di tiga kota di Rusia yaitu di Moskow, Tver dan St. Petersburg dari tanggal 24 hingga 31 Mei mendatang merupakan balasan dari kegiatan yang sama yang dilakukan Rusia di Indonesia tahun lalu di Jakarta serta Yogyakarta.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengakui kebudayaan dan pariwisata merupakan alat yang akan dapat mempererat hubungan antara Indonesia dan Rusia.
"Kebudayaan memegang peranan penting dalam meningkatkan kerja sama antara Rusia dan Indonesia," ujar Menteri Jero Wacik.
Enam puluh tahun lalu, tepatnya pada 3 Februari 1950, RI-Rusia sepakat menjalin hubungan diplomatik. Tahun 1954, kedua negara membuka Kedutaan Besar di Moskow dan Jakarta.
Hubungan bilateral Indonesia-Federasi Rusia makin berkembang setelah ditandatanganinya "Declaration of the Republic of Indonesia and the Russian Federation on the Framework of Friendly and Partnership Relations in the 21st Century", oleh Presiden saat itu Megawati Soekarnoputri dan Presiden Vladimir V. Putin, 21 April 2003 di Moskow.
Dokumen ini membentuk landasan baru hubungan kerja sama strategis (strategic partnership) dalam tingkatan global, regional dan bilateral. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia dan Rusia menyepakati untuk lebih mempererat hubungan bilateral melalui kerja sama kebudayaan.
Langkah ini dikuatkan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Indonesia September 2007. Kedua Kepala Negara sepakat untuk menyelenggarakan Pekan Budaya di masing-masing negara secara bergantian.
Komitmen tersebut semakin diperkuat pada saat Sidang Komisi Bersama ke-5 RI-Rusia pada bulan Desember 2008 di Moskow.
Dalam rangka memenuhi komitmen tersebut, disepakatilah "Protocol between the Ministry of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia and the Ministry of Culture of the Russian Federation on the Organization of the Russian Cultural Days in 2009 and the Indonesian Cultural Days in Russia in 2010" yang ditandatangani pada 29 Mei 2009.
Realisasi dari penandatanganan itu dilakukan Kementerian dan Kebudayaan Federasi Rusia yang diwakili Vitaly N Bobylev dan dari Indonesia diwakili Kepala Biro Kerja sama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata N.W. Giri Adnyani.
Pekan Kebudayaan Rusia di Indonesia sudah diselenggarakan di dua kota besar, yaitu Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 28 Juli sampai 3 Agustus 2009.
Selama kurang lebih sepekan, masyarakat Indonesia menyambut meriah kekayaan budaya Rusia dalam bentuk pertunjukan tari balet dan tradisional, nyanyian, pemutaran film, dan pameran dari para pelaku seni kenamaan Rusia.
Tahun 2010 adalah giliran Indonesia untuk menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Indonesia di Rusia yang berthema Festival Budaya Indonesia di Rusia 2010: "Colours of Indonesia" yang digelar di Moskow, Tver dan di St. Petersburg.
Duta Besar RI untuk Federasi Rusia Hamid Awaluddin mengemukakan, Pemerintah Indonesia mengharapkan melalui penyelenggaraan Festival Budaya Indonesia di Rusia tahun 2010, hubungan bilateral antar kedua negara semakin erat dan serta pemahaman yang lebih baik antarrakyat kedua negara dapat dicapai.
Menteri Kebudayaan Federasi Rusia, Alexander Avdeyev mengatakan bahwa ia sangat menghargai kerja sama kebudayaan kedua negara dan juga sambutan hangat dari masyarakat Indonesia saat acara kebudayaan Rusia digelar di Indonesia.
Indonesia Raya
Pekan budaya Indonesia yang dihadiri korps diplomatik serta "Friend Of Indonesia" dan Miss Moskow 2009 yang juga Miss Earth 2010 Nadezda Zamolodskaya, diawali dengan diperdengarkannya lagu Indonesia Raya dan lagu kebangsaan Federasi Rusia yang bergema di gedung di "Concert Hall MIR", Moskow, yang berkapasitar 800 orang.
Acara Festival Budaya diawali dengan tarian pembuka Tari Rakyat Gandran Bulo dari Sulawesi yang dibawakan anak-anak sekolah Moskow berusia dari 7 sampai 12 tahun di antaranya putra putri Dubes RI untuk Federasi Rusia yaitu Virginia dan Abraham diiringin dengan musik "The Rhythm of Indonesia" dengan komposer Dwiki Darmawan.
Sementara itu, Tari Lengang Betawi dibawakan penari dari Tim Kesenian DKI Jakarta di bawah koordinator Nungki Kusumastuti yang dilanjutkan dengan penampilan Gebyar Batik garapan Paranditya Wintami dengan penari Putria Retno Pudyastuti, Antis Tri Cahyani, Nurul Dwi Utami dari Yogyakarta.
Selain itu, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata membawa delapan seniman dari "Sanggar Cantika" pimpinan Reitha F. Hanividya yang terdiri dari lima penari dan tiga pemusik, yang akan menampilkan Tari Pagelu dari Sulawesi Selatan, Tari Dadas Panaluh dari Kalimantan Tengah dan tari Mansorandak dari Papua.
Para perancang busana Indonesia ikut memeriahkan festival budaya Indonesia seperti Stephanus Hamy yang menampilkan busana rancangannya sulam tapis dari daerah Lampung di Sumatera, Didi Budiarjo mengangkat tema Pilgrimage yang diinspirasikan "Ballet Russes" dan disainer Tutik Cholid yang diperagakan peragawati dari Indonesia Nien Indriyati dan Laurensia Muljadi serta peragawati dari Moskow.
Dalam kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Federasi Rusia Hamid Awaluddin dalam sambutannya membacakan puisi karya seniman Rusia yang mendapat sambutan dari undangan yang sebagian besar masyarakat Rusia. (U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 07:20:47
KOLABORASI MUSIK "RHYTHM OF INDONESIA" DI RUSIA
KOLABORASI MUSIK "RHYTHM OF INDONESIA" DI RUSIA
Moskow, 26/5 (ANTARA) - Musik Direktor "The Colour of Indonesia", Dwiki Dharmawan mengakui alunan musik etnis yang berjudul "Rhythm of Indonesia" dengan kolaborasi berbagai alat musik Nusantara menjadi salah satu kekuatan seni musik Indonesia.
Hal itu disampaikan Dwiki Dharmawan kepada koresponden ANTARA London, usai mengisi acara Festival Budaya Indonesia dalam rangkaian memperingati perayaan 60 tahun hubungan Indonesia dan Rusia digelar "Concert Hall MIR", Moskow, Selasa malam.
Festival Budaya Indonesia dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Asia Federasi Rusia Alexei Barodavkin, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Ketua Yayasan Sulam Indonesia Ny Triesna Wacik, anggota DPR RI Komisi X Hj. Oelfah A Syahrullah Harmanto dan Raihan Iskandar .
Dwiki Dharmawan yang baru kembali dari Italia mengatakan "Rhythm of Indonesia" selain mengiringi tari tarian yang ditampilkan dalam festival budaya Indonesia di Rusia yang bertema "The Colour of Indonesia", juga mengisi musik dalam peragaan busana karya disainer Indonesia.
Menurut pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 19 Agustus 1966, "Rhythm of Indonesia" memadukan musik yang intronya dari Kalimantan dan disambut vokal dari gaya Minang dan masuk Melayu serta diikuti musik dari Papua dan disusul musik dari Banyuwangi, juga dari daerah Sumatera Utara.
Kelompok Musik "Indonesia Ethnic Ansamble" menjadi pertunjukan yang menarik karena memadukan kekayaan dan keragaman musik Indonesia menggunakan instrumen Rebana (terbang), Gendang Melayu, Kendang Sunda, Talempong, Kecrek, Bedug Dol Tabuik dan lain lain dalam irama yang enerjik mendapat sambutan penonton.
Ia menjelaskan, adalah ritme nya, karena memang musik dan tari merupakan hal yang tidak terpisahkan. Seni tradisi di Indonesia pada awalnya berfungsi religius, karena bertolak dari sistem kepercayaan mereka yang berbeda-beda untuk tiap daerah, kemudian musik berkembang menjadi hiburan.
Anggota kelompok musik "Indonesia Ethnic Ansamble" juga beragam di antaranya kreografer Anter dari Yogyakarta dan Ayoub Zikra dari Jakarta bersama Yos serta "co music director" yang terdiri dari Djoko Suko Sudono dan Prasadja Budidharma dari Yogyakarta serta Armen dari Jakarta.
Dwiki yang didampingi sang istri penyanyi Ita Purnamasari mengatakan, alat musik yang dimainkan juga dari berbagai daerah seperti alat musik kendang, talempong, tifa, gong, boning, saron, demung, rebana, beduk, gendang Makasar, melodian dan "accordion".
Budaya yang beragam
Sementara itu, anggota DPR RI Komisi X Hj. Oelfah A Syahrullah Harmanto mengakui bahwa Indonesia memiliki budaya yang beragam yang perlu diketahui dunia luar, khususnya seni musik dari berbagai etnis.
Ia mengakui, selama ini masyarakat luar negeri hanya mengenal Bali, untuk itu dalam mempromosikan khususnya pariwisata juga hendaknya mengangkat daerah lainnya, selain Bali.
Promosi budaya yang diadakan dalam memperingati perayaan ke 60 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia, merupakan suatu hal yang baik terutama dalam mempromosikan Indonesia dikalangan generasi muda Rusia.
Dalam berpomosi di luar negeri, khsusunya promosi kebudayaan dan pariwisata harusnya ada kerja sama yang erat antara Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan Kementerian Luar Negeri, ujarnya.
Menurut Oelfah, Indonesia bagaikan suatu negara yang mini, di mana juga terdapat etnis dari bangsa kulit hitam yang bisa dilihat di masyarakat Papua atau etnis China di Sumatera.
Indonesia kaya dengan berbagai kebudayaan yang beragam. Perlu terus menerus dijalin dan ditingkatkan tidak hanya dengan Rusia, tetapi juga negara Eropa lainnya bahkan di Asia sendiri, paparnya
Festival Budaya Indonesia digelar di tiga kota di Rusia yaitu di Moskow. Tver dan St. Petersburg dari tanggal 24 hingga 31 Mei 2010, merupakan balasan dari kegiatan yang sama yang dilakukan Rusia di Indonesia tahun lalu.(U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 07:07:42
Moskow, 26/5 (ANTARA) - Musik Direktor "The Colour of Indonesia", Dwiki Dharmawan mengakui alunan musik etnis yang berjudul "Rhythm of Indonesia" dengan kolaborasi berbagai alat musik Nusantara menjadi salah satu kekuatan seni musik Indonesia.
Hal itu disampaikan Dwiki Dharmawan kepada koresponden ANTARA London, usai mengisi acara Festival Budaya Indonesia dalam rangkaian memperingati perayaan 60 tahun hubungan Indonesia dan Rusia digelar "Concert Hall MIR", Moskow, Selasa malam.
Festival Budaya Indonesia dihadiri Wakil Menteri Luar Negeri Urusan Asia Federasi Rusia Alexei Barodavkin, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dan Ketua Yayasan Sulam Indonesia Ny Triesna Wacik, anggota DPR RI Komisi X Hj. Oelfah A Syahrullah Harmanto dan Raihan Iskandar .
Dwiki Dharmawan yang baru kembali dari Italia mengatakan "Rhythm of Indonesia" selain mengiringi tari tarian yang ditampilkan dalam festival budaya Indonesia di Rusia yang bertema "The Colour of Indonesia", juga mengisi musik dalam peragaan busana karya disainer Indonesia.
Menurut pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 19 Agustus 1966, "Rhythm of Indonesia" memadukan musik yang intronya dari Kalimantan dan disambut vokal dari gaya Minang dan masuk Melayu serta diikuti musik dari Papua dan disusul musik dari Banyuwangi, juga dari daerah Sumatera Utara.
Kelompok Musik "Indonesia Ethnic Ansamble" menjadi pertunjukan yang menarik karena memadukan kekayaan dan keragaman musik Indonesia menggunakan instrumen Rebana (terbang), Gendang Melayu, Kendang Sunda, Talempong, Kecrek, Bedug Dol Tabuik dan lain lain dalam irama yang enerjik mendapat sambutan penonton.
Ia menjelaskan, adalah ritme nya, karena memang musik dan tari merupakan hal yang tidak terpisahkan. Seni tradisi di Indonesia pada awalnya berfungsi religius, karena bertolak dari sistem kepercayaan mereka yang berbeda-beda untuk tiap daerah, kemudian musik berkembang menjadi hiburan.
Anggota kelompok musik "Indonesia Ethnic Ansamble" juga beragam di antaranya kreografer Anter dari Yogyakarta dan Ayoub Zikra dari Jakarta bersama Yos serta "co music director" yang terdiri dari Djoko Suko Sudono dan Prasadja Budidharma dari Yogyakarta serta Armen dari Jakarta.
Dwiki yang didampingi sang istri penyanyi Ita Purnamasari mengatakan, alat musik yang dimainkan juga dari berbagai daerah seperti alat musik kendang, talempong, tifa, gong, boning, saron, demung, rebana, beduk, gendang Makasar, melodian dan "accordion".
Budaya yang beragam
Sementara itu, anggota DPR RI Komisi X Hj. Oelfah A Syahrullah Harmanto mengakui bahwa Indonesia memiliki budaya yang beragam yang perlu diketahui dunia luar, khususnya seni musik dari berbagai etnis.
Ia mengakui, selama ini masyarakat luar negeri hanya mengenal Bali, untuk itu dalam mempromosikan khususnya pariwisata juga hendaknya mengangkat daerah lainnya, selain Bali.
Promosi budaya yang diadakan dalam memperingati perayaan ke 60 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia, merupakan suatu hal yang baik terutama dalam mempromosikan Indonesia dikalangan generasi muda Rusia.
Dalam berpomosi di luar negeri, khsusunya promosi kebudayaan dan pariwisata harusnya ada kerja sama yang erat antara Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan Kementerian Luar Negeri, ujarnya.
Menurut Oelfah, Indonesia bagaikan suatu negara yang mini, di mana juga terdapat etnis dari bangsa kulit hitam yang bisa dilihat di masyarakat Papua atau etnis China di Sumatera.
Indonesia kaya dengan berbagai kebudayaan yang beragam. Perlu terus menerus dijalin dan ditingkatkan tidak hanya dengan Rusia, tetapi juga negara Eropa lainnya bahkan di Asia sendiri, paparnya
Festival Budaya Indonesia digelar di tiga kota di Rusia yaitu di Moskow. Tver dan St. Petersburg dari tanggal 24 hingga 31 Mei 2010, merupakan balasan dari kegiatan yang sama yang dilakukan Rusia di Indonesia tahun lalu.(U-ZG)
(T.H-ZG/B/C004/C004) 26-05-2010 07:07:42
Festival Budaya Indonesia Pukau Publik Moskow
Festival Budaya Indonesia Pukau Publik Moskow
Selasa, 25 Mei 2010 02:38 WIB | Hiburan | Seni/Teater/Budaya | Dibaca 727 kali
Moskow (ANTARA News) - Festival Budaya Indonesia tampil memukau publik di Moskow dalam acara peringatan ulang tahun ke-60 hubungan Indonesia dan Rusia yang digelar di Concert Hall MIR, Moskow, Senin (24/5) malam.
Penampilkan kesenian tari tarian dan peragaan busana karya perancang Indonesia dengan pragawati dari Rusia dan Indonesia mendapat sambutan dari masyarakat Rusia memenuhi gedung yang berkapasitas 900 tempat duduk.
"Bagus sekali," ujar Maria Mitsura (18), gadis Rusia yang tengah belajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskow jurusan sejarah Indonesia.
Sinta, panggilan Maria Mitsura, anak pertama keluarga Rusia itu datang bersama dua rekannya, Katkina Oksana, yang disapa Oka dan Ivanova Anastasia, yang dipanggil Niken, yang belajar di Universitas Negeri Moskow.
Sinta tidak henti hentinya mengagumi penampilan para penari Indonesia yang khusus dibawa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI untuk mengisi Festival Budaya Indonesia yang akan digelar di tiga kota di Rusia yaitu di Moskow, Tver dan St Petersburg.
Sementara itu Dwiki Dharmawan yang menampilkan musik "Rhythm Of Indonesia" mengakui kekayaan musik Indonesia sangat beragam dan bila dieksploitasi tidak akan ada habisnya.
Dwiki Dharmawan yang baru kembali dari Italia mengatakan bahwa musik tidak bisa lepas dari tari tarian yang ditampilkan dalam festival budaya Indonesia di Rusia yang bertema "The Colour of Indonesia".
Menurut Dwiki, penampilan "Rhythm of Indonesia" memadukan musik yang intronya dari Kalimantan dan disambut vokal dari gaya Minang dan masuk Melayu dan diikuti musik dari Papua dan disusul musik dari Banyuwangi dan juga dari daerah Sumatera Utara.
Kelompok Musik "Indonesia Ethnic Ansamble" itu menjadi pertunjukan yang menarik karena memadukan kekayaan dan keragaman musik Indonesia menggunakan instrumen Rebana (terbang), Gendang Melayu, Kendang Sunda, Talempong, Kecrek, Bedug Dol Tabuik dan lain lain dalam irama yang enerjik mendapat sambutan penonton.
Masuki babak baru
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Moskow Dr Hamid Awaluddin kepada koresponden Antara London mengakui bahwa hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Federasi Rusia telah memasuki babak baru dalam perjalanannya yang ke-60 tahun.
"Suatu periode yang cukup panjang dan dewasa dari perjalanan usia manusia. Dan kini, hubungan antara Indonesia dan Rusia pun telah memasuki babak yang semakin erat," ujarnya.
Penampilan hari pertama festival Budaya Indonesia merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia bersama Kementerian Kebudayaan dan Sinematografi Federasi Rusia.
Acara yang bertujuan tidak hanya untuk memperkenalkan keragaman Budaya Indonesia kepada rakyat Rusia, tetapi juga untuk mempererat hubungan antara kedua bangsa, sekaligus memperingati 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Rusia diawali dengan tarian Kembang Topeng, dari Jakarta yang disusul dengan tari Kerincing Mas dari Yogjakarta.
Sementara itu peragaan busana diawali dengan menampilkan rancangan busana karya perancang Didi Budiarjo yang diiringi musik karya composer Rusia Rachmaninov itu dibawakan oleh peragawati Indonesia dan juga Rusia itu sebagai simbol persahabatan kedua negara.
Peragaan busana dilanjutkan dengan karya rancangan Stephanus Hamy yang diiringi dengan alunan musik dari "Indonesian Ethnic Ansamble" dan dilanjutkan peragaan busana dari rancangan Tuti Cholid merupakan persembahan dari Yayasan Sulam Indonesia yang dibawa Kuntari Sapta Nirwandar.
Festiva Budaya Indonesia diakhiri persembahan Rateuh Saman dari Aceh dengan diiringi nyanyian yang disuarakan para penari sambil mengikuti gerak-gerak tarian dan dipandu oleh seorang Syeh.
Gerakan penari yang serentak menjadi makin cepat sambil mereka duduk bersimpuh dalam suatu barisan yang lurus di lantai yang merupakan perkembangan dari gerakan-gerakan ritual yang mengiringi Umat Islam yang sedang berdoa dengan memuja Asma Allah itu menutup festival Budaya Indonesia. (ZG/K004)
Selasa, 25 Mei 2010 02:38 WIB | Hiburan | Seni/Teater/Budaya | Dibaca 727 kali
Moskow (ANTARA News) - Festival Budaya Indonesia tampil memukau publik di Moskow dalam acara peringatan ulang tahun ke-60 hubungan Indonesia dan Rusia yang digelar di Concert Hall MIR, Moskow, Senin (24/5) malam.
Penampilkan kesenian tari tarian dan peragaan busana karya perancang Indonesia dengan pragawati dari Rusia dan Indonesia mendapat sambutan dari masyarakat Rusia memenuhi gedung yang berkapasitas 900 tempat duduk.
"Bagus sekali," ujar Maria Mitsura (18), gadis Rusia yang tengah belajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Moskow jurusan sejarah Indonesia.
Sinta, panggilan Maria Mitsura, anak pertama keluarga Rusia itu datang bersama dua rekannya, Katkina Oksana, yang disapa Oka dan Ivanova Anastasia, yang dipanggil Niken, yang belajar di Universitas Negeri Moskow.
Sinta tidak henti hentinya mengagumi penampilan para penari Indonesia yang khusus dibawa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI untuk mengisi Festival Budaya Indonesia yang akan digelar di tiga kota di Rusia yaitu di Moskow, Tver dan St Petersburg.
Sementara itu Dwiki Dharmawan yang menampilkan musik "Rhythm Of Indonesia" mengakui kekayaan musik Indonesia sangat beragam dan bila dieksploitasi tidak akan ada habisnya.
Dwiki Dharmawan yang baru kembali dari Italia mengatakan bahwa musik tidak bisa lepas dari tari tarian yang ditampilkan dalam festival budaya Indonesia di Rusia yang bertema "The Colour of Indonesia".
Menurut Dwiki, penampilan "Rhythm of Indonesia" memadukan musik yang intronya dari Kalimantan dan disambut vokal dari gaya Minang dan masuk Melayu dan diikuti musik dari Papua dan disusul musik dari Banyuwangi dan juga dari daerah Sumatera Utara.
Kelompok Musik "Indonesia Ethnic Ansamble" itu menjadi pertunjukan yang menarik karena memadukan kekayaan dan keragaman musik Indonesia menggunakan instrumen Rebana (terbang), Gendang Melayu, Kendang Sunda, Talempong, Kecrek, Bedug Dol Tabuik dan lain lain dalam irama yang enerjik mendapat sambutan penonton.
Masuki babak baru
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Moskow Dr Hamid Awaluddin kepada koresponden Antara London mengakui bahwa hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Federasi Rusia telah memasuki babak baru dalam perjalanannya yang ke-60 tahun.
"Suatu periode yang cukup panjang dan dewasa dari perjalanan usia manusia. Dan kini, hubungan antara Indonesia dan Rusia pun telah memasuki babak yang semakin erat," ujarnya.
Penampilan hari pertama festival Budaya Indonesia merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia bersama Kementerian Kebudayaan dan Sinematografi Federasi Rusia.
Acara yang bertujuan tidak hanya untuk memperkenalkan keragaman Budaya Indonesia kepada rakyat Rusia, tetapi juga untuk mempererat hubungan antara kedua bangsa, sekaligus memperingati 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Rusia diawali dengan tarian Kembang Topeng, dari Jakarta yang disusul dengan tari Kerincing Mas dari Yogjakarta.
Sementara itu peragaan busana diawali dengan menampilkan rancangan busana karya perancang Didi Budiarjo yang diiringi musik karya composer Rusia Rachmaninov itu dibawakan oleh peragawati Indonesia dan juga Rusia itu sebagai simbol persahabatan kedua negara.
Peragaan busana dilanjutkan dengan karya rancangan Stephanus Hamy yang diiringi dengan alunan musik dari "Indonesian Ethnic Ansamble" dan dilanjutkan peragaan busana dari rancangan Tuti Cholid merupakan persembahan dari Yayasan Sulam Indonesia yang dibawa Kuntari Sapta Nirwandar.
Festiva Budaya Indonesia diakhiri persembahan Rateuh Saman dari Aceh dengan diiringi nyanyian yang disuarakan para penari sambil mengikuti gerak-gerak tarian dan dipandu oleh seorang Syeh.
Gerakan penari yang serentak menjadi makin cepat sambil mereka duduk bersimpuh dalam suatu barisan yang lurus di lantai yang merupakan perkembangan dari gerakan-gerakan ritual yang mengiringi Umat Islam yang sedang berdoa dengan memuja Asma Allah itu menutup festival Budaya Indonesia. (ZG/K004)
Langganan:
Postingan (Atom)