Jumat, 13 Mei 2011

"WHITLEY AWARD"

WANITA INDONESIA TERIMA "WHITLEY AWARD" PUTRI ANNE

London, 13/5 (ANTARA) - Wanita Indonesia, Dr Hotlin Ompusunggu, menerima penghargaan "Whitley Award 2011" dari "The Royal Princess", Putri Anne, dari Kerajaan Inggris, terkait pengabdian dalam pelestarian konservasi dan ikut penjaga kesehatan Indonesia.

"Dr Hotlin adalah dokter gigi dari 'Alam Sehat Lestari' yang telah menerima penghargaan dari Putri Anne dalam satu upacara di The Royal Geographical Society, London," kata Humas Whitley Awards 2011, Pam Beddard, kepada koresponden Antara London, Jumat.

Sementara itu, "Minister Counsellor/Act. Head of Chancery" KBRI London, Tumpal Hutagalung, yang hadir dalam acara pemberian penghargaan kepada Dr Hotlin Ompusunggu itu, mengatakan ia ikut bangga karena ada wanita Indonesia yang menerima penghargaan.

"Penghargaan untuk Dr Hotlin atas kontribusinya bagi pelestarian alam itu merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Saya melihat Putri Anne sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Dr Hotlin selama ini," ujarnya.

Penghargaan Whitley Awards yang diberikan kepada Dr Hotlin Ompusunggu, merupakan kompetisi tahunan yang pertama kali diadakan pada tahun 1994 itu didukung David Attenborough, yang diberikan kepada mereka yang telah membantu masyarakat dan proyek di seluruh dunia.

Penghargaan "The Royal Princess" yang diserahkan kepada Dr Hotlin Ompusunggu selaku seorang dokter gigi Sumatera yang bekerja di Kalimantan Barat, Kalimantan, itu merupakan peristiwa bersejarah bagi pekerjaan konservasi alam akar rumput.

Dalam 18 tahun sejak organisasi tersebut dimulai, telah memberikan hibah senilai lebih dari 6 miliar poundsterling untuk mendukung kerja para pemimpin inspiratif konservasi di 70 negara dan membangun jaringan lebih dari 120 alumni Whitley.

Bagi Dr Hotlin Ompusunggu, bekerja untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat hutan merupakan upaya penting untuk ikut membantu menjaga habitat global bagi burung owa, burung enggang, dan orangutan, di antara spesies lainnya.

Dr Ompusunggu adalah manajer program Alam Sehat Lestari (ASRI) yang merupakan sebuah badan amal kesehatan dan konservasi yang terletak di sebelah Taman Nasional Gunung Palang.

Ia menerima hadiahnya dalam upacara di Royal Geografis Society, London, yang diselenggarakan oleh The Whitley Fund for Nature (WFN) - badan amal Inggris yang berbasis di balik skema penghargaan internasional.

Penghargaan ini termasuk hibah proyek sebesar 30.000 Pounsterling yang disumbangkan "Goldman Sachs" dengan piala terukir, keanggotaan jaringan berpengaruh dari pemenang Penghargaan Whitley lainnya, pengakuan internasional, dan pelatihan pengembangan profesional.

Dr Ompusunggu mengakui usahanya untuk mengurangi pembalakan liar dengan menawarkan perawatan gigi dan medis lebih baik dan lebih murah untuk 60.000 penduduk desa yang tinggal di wilayah ini.

"Penawaran perawatan gigi memungkinkan mereka mendapatkan diskon pada perawatan dengan melihat setelah hutan hujan, berpartisipasi dalam kegiatan reboisasi dan belajar tentang konservasi," katanya.

Penghargaan tertinggi Whitley Gold Award diberikan untuk ahli biologi kelautan Dr Rachel Graham, Belize, atas usahanya menempatkan rencana aksi nasional untuk hiu dan mendapatkan lebih banyak orang lokal yang aktif terlibat dalam melindungi satwa laut.

Selain keanekaragaman hayati pesisir dan menjaga mata pencaharian lokal dan industri pariwisata ekonomis penting Belize.

Para penerima Whitley Awards lainnya mendapatkan dana 30.000 poundsterling diantranya pemimpin konservasi dari Argentina, Kroasia, India, Rusia dan Uzbekistan. (ZG) ***6***
(T.H-ZG/B/E011/E011) 13-05-2011 08:47:13

PELAJAR MAROKO

PELAJAR MAROKO GELAR SEMINAR PERAN GURU

London, 8/5 (ANTARA) - Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko bekerja sama dengan KBRI Rabat mengelar seminar bertemakan "Peran Guru Dalam Membangun Tunas Bangsa" di Maroko.

Seminar yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional 2011 itu, menampilkan pembicara Khoirur Rijal MA, dosen STAIN Lampung, dan Fakhrurrozi Muhammad Yunus MA, dosen IAIN Ar Ranieri Aceh.

Sekretaris III/Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Rabat, Rahmat Azhari dalam keterangan yang diterima Antara London, Minggu menyebutkan bahwa kedua pembicara juga terdaftar sebagai mahasiswa program doktoral di Universitas Moulay Ismail Meknes.

Seminar dengan moderator Hanif Fatkhurrahman, mahasiswa S1 di Univ Ibnu Tofail Kenitra-Maroko, mengundang antusias peserta yang terdiri dari staf KBRI Rabat, masyarakat Indonesia dan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Maroko.

Ketua Panitia Seminar, Burhan Ali dalam sambutan pembukaannya menyampaikan, Hardiknas sebagai momentum untuk mengingatkan betapa pentingnya pendidikan demi masa depan yang lebih cerah.

Tingkat kemajuan suatu bangsa dan negara bisa diukur melalui tingkat kesadaran pendidikan negara bersangkutan, ujarnya.

Sesuai dengan tema yang diusung pemerintah pada Hardiknas tahun ini yaitu "Pendidikan Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa: Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti", ia mengajak civitas akademika untuk menyikapi ilmu pengetahuan sebagai perangkat ke arah yang positif, bukan untuk memunculkan prilaku destruktif, anarkis dan radikalis seperti terjadi belakangan ini.

Pembicara pertama banyak menyinggung tentang kedudukan dan peran guru sebagai pendidik dan pembimbing baik dalam instansi pendidikan yang bersifat formal maupun peran mereka dalam masyarakat sehari-hari.

Sedangkan pembicara kedua lebih banyak menitikberatkan presentasinya terhadap status seorang guru sebagai profesi dan panggilan jiwa.

Seminar ini mendapat sambutan baik dengan antusiasme para peserta saat sesi tanya jawab, dan juga para pembicara yang hadir dapat menyampaikan materinya dengan bahasa yang lugas dan mudah difahami oleh seluruh peserta.(ZG)
(T.H-ZG/B/P004/P004) 08-05-2011 05:55:51

Rabu, 11 Mei 2011

KERJA KERAS RAKYAT

PRESIDEN: PENGHARGAAN PBB PENGAKUAN KERJA KERAS RAKYAT

Jenewa, 10/5 (ANTARA) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, penghargaan "Global Champion for Disaster Risk Reduction" yang diterimanya dari PBB merupakan pengakuan dari tekad dan kerja keras seluruh rakyat Indonesia dalam menghadapi bencana alam.

Hal itu disampaikan Presiden Yudhoyono yang menerima Penghargaan atas Upaya Pengurangan Risiko Bencana atau "Global Champion for Disaster Risk Reduction" yang diumumkan di Jenewa oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon, Selasa siang.

Koresponden ANTARA London di Jenewa, Swiss, melaporkan, dalam kesempatan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutannya melalui rekaman video sekitar lima menit.

Pemberian penghargaan tersebut dilakukan bersamaan dengan Opening Ceremony Sidang ke-3 Global Platform for Disaster Risk Reduction yang dihadiri Direktur Bank Dunia Sri Mulyani Indrawati.

Presiden Yudhoyono menyampaikan ucapan terima kasih atas penghargaan yang diberikan dan menyatakan bahwa itu merupakan hasil kerja keras seluruh bangsa Indonesia.

"Saya menerima ini sebagai pengakuan dari tekad dan kerja keras dari seluruh Indonesia dalam menghadapi tantangan bencana alam," ujarnya.

Menurut Presiden Yudhoyono, Indonesia merupakan negara yang paling rentan terhadap bencana alam dan sebagai konsekuensinya, menghadapi bencana telah menjadi sangat tertanam dalam pola pikir nasional.

"Jika ada sesuatu yang baru dalam strategi jangka pendek, menengah dan panjang kami pembangunan jangka panjang itu adalah pengurangan risiko bencana," ujarnya.

Dikatakannya, Indonesia telah mengesahkan Undang-Undang pada 2007 yang membuat pengurangan risiko bencana merupakan faktor wajib dalam semua perkembangan baik di pabrik, bangunan, prasarana, kantor, sekolah, rumah, dan lainnya.

Manajemen bencana adalah salah satu prioritas utama pemerintah dan sejak tahun 2008 anggaran yang dialokasikan meningkat, kata Presiden Yudhoyono.
Menurut Presdien, banyak pelajaran yang diperoleh beberapa tahun terakhir ini yang ingin dibaginya kepada seluruh anggota sidang. Pertama kita perlu mengubah paradigma kita, dari reaktif ke proaktif dari tanggap darurat ke pengurangan risiko, dan dari pemerintah untuk masyarakat sipil.

Kedua perlu membuatnya secara komprehensif dan mencakup semua aspek pembangunan nasional. "Kita menyelesaikan peta risiko bencana tahun ini untuk membantu perencanaan dan kesadaran mulai di tingkat provinsi," ujarnya.

Dia menekankan perlunya menanamkan budaya keselamatan nasional, pencegahan dan kesiapsiagaan jauh lebih baik daripada bereaksi dan berkabung.

Menurut Presiden, Pemerintah tidak bisa melakukan hal itu sendiri dan masyarakat harus terlibat. "Kami telah membentuk tim penanggulangan bencana lokal, siap untuk bertindak dalam keadaan darurat," ujarnya.

Dikatakannya, yang lebih penting adalah kepemimpinan lokal, selama bencana, dan komunikasi serta masalah logistik dan peran aktor lokal sangat dibutuhkan.

Akhirnya, presiden menyebutkan bahwa ia berusaha memanfaatkan kearifan lokal, ini adalah apa yang orang-orang di Pulau Simeulue lakukan untuk menghindari kerusakan tsunami pada 2004.

"Mereka melarikan diri ke bukit ketika mereka melihat tanda-tanda tsunami, berwawasan lokal diberikan oleh nenek moyang mereka," ujarnya.

Secara regional, Indonesia telah menyampaikan berbagai inisiatif untuk kesiapan bencana, seperti latihan bersama di daerah dan sistem peringatan dini mengadopsi, di Asia Tenggara, ASEAN berusaha untuk mencapai visi umum negara yang tahan terhadap bencana pada tahun 2015.

Sementara di tingkat global, melalui Persatuan Bangsa-Bangsa, Indonesia dapat memupuk koordinasi yang lebih besar dan kerjasama dalam manajemen bencana.

Dikatakannya pada bulan Juni mendatang Indonesia akan mengumumkan peluncuran "World Economic Forum?s Third Country Network of the Disaster Resource Partnership".

Program nasional, regional dan global bertujuan tidak saja untuk kesiapan dalam menghadapi bencana tetapi juga membangun solidaritas di seluruh Negara, demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengumuman pemberian penghargaan tersebut dilakukan di depan 82 delegasi negara yang 17 di antaranya dipimpin menteri dan pejabat setingkat menteri, 24 organisasi internasional, dan dihadiri 2.500 delegasi dari seluruh dunia, termasuk Delegasi RI yang dipimpin Kepala BNPB, Dr Syamsul Maarif.

Sekjen PBB, Ban Ki Moon, menyampaikan bahwa pemberian penghargaan tersebut diharapkan dapat menjadi pendorong bagi masyarakat internasional untuk mencontoh keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pencegahan bencana, serta menerapkannya dalam kebijakan nasional yang efektif.

Sekjen PBB menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan penghargaan kepada Presiden RI sebagai global champion di bidang DRR atas keberhasilan Indonesia menerapkan dan mengimplementasikan kebijakan di bidang ini secara baik. ***6***
(H-ZG/B/A041)

(T.H-ZG/B/A041/A041) 11-05-2011 10:08:27

INDONESIA BERPENGALAMAN TANGANI BENCANA

KEPALA BNPB: INDONESIA BERPENGALAMAN TANGANI BENCANA

Jenewa, 10/5 (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif mengatakan, Indonesia sangat berpengalaman dalam mengatasi bencana karena seringnya bencana melanda seperti tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta dan Sumatera Barat.

Hal itu disampaikan Dr Syamsul Maarif dalam pidatonya pada "Roundtable Discussion World Reconstruction Conference" yang diadakan oleh World Bank di Jenewa, Swiss, Selasa pagi.

Konferensi bertema "Berinvestasi Untuk Hari Esok yang Lebih Aman: Meningkatkan Investasi Dalam Tindakan Lokal" itu diikuti lebih dari 2.500 wakil dari pemerintah, organisasi non-pemerintah (LSM), masyarakat sipil dan sektor swasta dari berbagai negara. Acara tersebut berlangsung pada 10-13 Mei mendatang.

Dalam "Keynote Speech at the Roundtable Discussion" yang bertajuk "Strengthening Local Recovery as a Key to Building-Back-Better" dalam World Reconstruction Conference, lebih lanjut Syamsul Maarif mengatakan, salah satu fakta yang dapat dipelajari adalah bahwa penduduk yang terkena bencana dapat mekanisme bertahan hidup memang ada dan merupakan bagian dari kearifan lokal mereka mewarisi dari nenek moyang mereka.

Kearifan lokal yang mereka proses telah memungkinkan mereka untuk memahami lebih baik tentang lingkungan dan bahaya alam yang dihadapi, ujarnya.

Selanjutnya Dr Syamsul Maarif juga mengungkapkan pentingnya penggunaan pendekatan "people-centered" dalam penanggulangan bencana.

"Pendekatan "people-centered" yang dimaksud di antaranya adalah cara pengambilan keputusan dalam penanggulangan bencana harus melibatkan komunitas lokal yang memiliki kearifan dalam mengatasi problem yang dihadapi.

Menurutnya, ketika bencana terjadi memerlukan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Di sinilah peran komunitas di tingkat bawah yang tahu betul kondisi di lapangan, katanya.

Ia mengingatkan bahwa pengambilan keputusan pascabencana jangan birokratis, yang kemudian dapat menghambat penanggulangannya. "Inilah yang disebut dengan pendekatan 'people-centered' yang harus diterapkan," katanya lagi.

Pada bagian lain Dr Syamsul juga mengungkapkan bahwa ada kecenderungan sektor swasta yang belakangan ini mulai tergerak untuk membiayai sejumlah program kemanusiaan.

Keuntungan mereka dalam bisnis tampaknya ingin diimbangi dengan cara berbagi kepada sesama manusia yang kurang beruntung, utamanya karena bencana.

Ia memberi contoh membangun perumahan, rumah sakit, sekolah dan sebagainya. "Sektor swasta kini menjadi mitra strategis untuk ikut terlibat dalam memberdayakan pemulihan masyarakat yang terkena bencana," kata Dr Syamsul.
Ia juga mengungkapkan keterlibatan sejumlah BUMN di Indonesia dalam pemulihan pasca bencana. "Mereka (BUMN) adalah mitra potensial. Keterlibatan BUMN di Indonesia masih bisa ditingkatkan lagi keterlibatannya dalam penanggulangan bencana alam," ujarnya.

***4***
(H-ZG/B/A041)

(T.H-ZG/B/A041/A041) 11-05-2011 09:47:07

Jumat, 06 Mei 2011

GUS MUS

GUS MUS LUNCURKAN BUKU DI PARLEMEN EROPA

London, 7/5 (ANTARA) - KH Achmad Mustofa Bisri, atau yang dikenal dengan Gus Mus, tokoh pemuka agama Islam Indonesia meluncuran buku "Ilusi Negara Islam" versi Bahasa Inggris di Parlemen Eropa, yang dihadiri sejumlah politisi Uni Eropa, di Brussel.
Menurut Gus Mus, Eropa perlu melihat Indonesia sebagai titik referensi pemahaman Islam karena pemeluk agama Islam terbesar di dunia menunjukkan fakta Islam berjalan seiring dengan demokrasi, toleransi, dan menghormati masyarakat agama lain, demikian keterangan pers KBRI Brussel yang diterima ANTARA London, Sabtu.

Dubes RI di Brussel, Arif Havas Oegroseno dan Dr Werner Langen, anggota Parlemen Eropa asal Jerman yang menjabat sebagai Ketua Delegasi Parlemen Eropa untuk negara di kawasan Asia Tenggara dan ASEAN, menjadi tuan rumah bersama peluncuran buku yang sebelumnya diluncurkan di Indonesia dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Dr Langen, yang baru saja berkunjung ke Indonesia bulan Februari lalu, menyampaikan kebanggaannya menjadi salah satu promotor peluncuran buku yang baginya penting untuk memberikan horison yang lebih luas kepada masyarakat Eropa mengenai Islam.

Menurut Dr Langen, upaya menjelaskan gambaran Islam di Indonesia yang toleran adalah sejalan dengan salah satu prinsip Uni Eropa, yaitu mendukung dan memajukan dialog antar agama dan antar budaya di Eropa.

Sebelum peluncuran, Gus Mus secara khusus mengadakan dialog dengan beberapa politisi anggota Parlemen Eropa serta sejumlah penasehat politik anggota Parlemen Eropa guna membahas kehidupan toleransi beragama di Indonesia serta bagaimana Indonesia bisa menjadi model transisi politik menuju suatu negara demokrasi.

Menurut Dubes Havas, pemilihan Parlemen Eropa sebagai tempat peluncuran buku didasarkan pada kenyataan institusi tersebut adalah salah satu pusat pemajuan semangat toleransi antar agama di Eropa. Suatu lembaga yang berperan penting di tengah maraknya kelompok-kelompok radikal kanan yang Islamophobia, ujarnya.

Dubes Havas mengakui kehadiran Gus Mus di Brussels adalah sebagai bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia dalam arti yang berbeda dengan diplomasi budaya dengan format seni dan tari-tarian tradisional.

Budaya pluralisme dan toleransi bangsa Indonesia adalah suatu budaya yang kuat dan mengakar dalam diri bangsa Indonesia.

Diiringi dengan demokrasi, pluralisme dan toleransi, Indonesia dapat menjadi titik referensi bagi sejumlah bangsa yang tengah bergolak dewasa ini. Faktanya, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim dengan demokrasi yang terbesar di dunia.

Dengan membaca "The Illusion of an Islamic State", Gus Mus mengharapkan masyarakat Eropa dapat memperoleh gambaran sepenuhnya mengenai Islam dan mendapatkan sudut pandang mengenai Islam yang tidak hanya berasal dari sumber-sumber, "yang biasanya datang dari jazirah Arab."
"Islam adalah agama yang damai yang mengedepankan cinta dan kasih sayang. Islam adalah agama adalah untuk membangun dan bukan untuk menghancurkan," tegas Gus Mus.

Gus Mus berada di Brussels didampingi oleh KH Yahya Cholil Staquf dan KH Adib Bisri Hattani dari organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) serta C Holland Taylor, CEO LibForALL Foundation.

Setelah peluncuran buku di Parlemen Eropa, Gus Mus menggelar konferensi pers di Brussels Press Club yang diwarnai dengan berbagai pertanyaan dari kalangan media. Gus Mus secara terpisah diwawancarai secara khusus dua stasiun TV Eropa, Eesti Rahvusringhaaling dari Estonia dan Televiziunea Romană dari Romania.

Pertanyaan yang mengemuka saat itu adalah terkait dengan perkembangan di Timur Tengah, prospek Islam moderat, serta tolok ukur pengetahuan masyarakat Eropa pada umumnya mengenai Islam.

Selain itu juga digelar pertemuan dengan berbagai tokoh lintas agama di Belgia yang terdiri dari kalangan media, akademisi, peneliti, pejabat pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat.
Gus Mus dan rombongan juga mengadakan pertemuan dengan pemuka agama lain di kota Antwerpen, Belgia.

Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus dan rombongan bertemu dengan Uskup Antwerpen, Johan Jozef Bonny dan Imam Masjid Antwerpen, Wim van Ael. Mereka saling bertukar pandangan mengenai filosofi keagamaan serta peranannya dalam menciptakan perdamaian dunia.

Menutup kunjungan Gus Mus di Brussel, digelar sarasehan dengan yang menghadirkan masyarakat Indonesia di Belgia. Gus Mus yang juga seorang seniman dan terkenal dengan berbagai puisi-puisinya, mengajak untuk saling menghormati antar sesama.

"Kita harus berusaha untuk menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia lainnya," ujar Gus Mus.

"Artinya kita, antara lain, harus menghargai dan menghormati manusia lain terlepas dari latar belakang agama dan kepercayaannya. Hal ini lah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya," ujarnya.

Dari Brussel, Gus Mus dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Washington DC, untuk melakukan peluncuran buku "The Illusion of an Islamic State" di negara demokrasi terbesar ke-dua di dunia tersebut dengan misi yang sama, yaitu meningkatkan citra Islam Indonesia di dunia. ***6***
(ZG)
(T.H-ZG/B/B012/B012) 07-05-2011 05:38:01

PARLEMEN INGGRIS

ANGGOTA PARLEMEN INGGRIS AKUI KEMAJUAN DEMOKRASI INDONESIA

London, 7/5 (ANTARA) - Inggris mengakui keberhasilan Indonesia dalam membangun kehidupan demokrasi dan peningkatan penghormatan terhadap hak asasi manusia, seperti disampaikan anggota Partai Buruh Inggris yang sekaligus juga sebagai Chairman dari All Party Group on Indonesia (APGI), Khalid Mahmood MP.

Sekretaris satu Pensosbud KBRI London Novan Ivanhoe Saleh kepada ANTARA London, Sabtu, pernyataan tersebut disampaikannya pada pertemuan antara Delegasi Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI dengan anggota Parlemen Inggris yang diadakan di gedung parlemen Inggris, Westminster.

Lebih lanjut Khalid Mahmood MP menyatakan Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk mayoritas Muslim merupakan bukti nyata bahwa Islam dan Demokrasi dapat hidup berdampingan dan tumbuh berkembang secara harmonis.
Selain Khalid Mahmood MP dan John Speller MP keduanya adalah anggota House of Commons (Majelis Rendah) dari Partai Buruh Inggris serta Baroness Cox dan Lord Ahmed dari House of Lords (Majelis Tinggi). Sementara delegasi BURT DPR RI berangggotakan 13 anggota dan dipimpin dr. Indrawati Sukadis.

Pertemuan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari kunjungan kerja delegasi BURT DPR RI ke Inggris yang bertujuan untuk peningkatan kinerja dan upaya penguatan kelembagaan DPR RI melalui sharing of best practices sekaligus guna mempererat link antara anggota parlemen Indonesia dengan anggota parlemen Inggris serta meningkatkan kerjasama parliament-to-parliament antara anggota parlemen Indonesia dan parlemen Inggris.

Tujuan kunjungan delegasi BURT DPR RI tersebut mendapatkan sambutan positif dari anggota Parlemen Inggris yang memandang pertemuan antara anggota parlemen Indonesia dan Inggris dapat mendorong kerjasama antara parliament-to-parliament kedua negara.

Anggota Parlemen Inggris menyampaikan harapan mereka agar pertemuan antara anggota parlemen Indonesia dan Inggris dapat terus ditingkatkan agar kerjasama antara parlemen kedua negara dapat semakin erat terjalin.

Dalam pertemuan tersebut dilakukan diskusi dan tukar pendapat antara anggota DPR RI dan Parlemen Inggris terkait beberapa isu penting.Antara lain upaya pemajuan demokrasi di kawasan Asia, peningkatan kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi antara Indonesia-Inggris serta kerukunan antar umat beragama (interfaith dialogue).

Pada pertemuan tersebut disampaikan anggota parlemen Inggris bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki peranan yang semakin penting, baik secara regional maupun internasional. Oleh karena itu Parlemen Inggris juga menyambut baik atas peran aktif Indonesia (regional role Indonesia dalam konteks ASEAN) dalam mengatasi tantangan global saat ini.

Selain itu anggota Parlemen Inggris juga menyampaikan apresiasinya terhadap upaya aktif Indonesia dalam mendorong kehidupan demokrasi dan rekonsiliasi nasional di Myanmar. ***6***
(ZG)
(T.H-ZG/B/B012/B012) 07-05-2011 05:38:04

BUDI MULIA DAN SWISS

PERGURUAN BUDI MULIA RINTIS KERJASAMA DENGAN SWISS

London, 7/5 (ANTARA) - Perguruan Budi Mulia Dua, penyelenggara pendidikan dari Taman Bermain sampai Tingkat Sekolah Menengah Umum di Yogyakarta, menandatangani nota kesepahaman MOU dengan Mittelschule, setingkat Sekolah Menengah Pertama di Frutigen, Swiss.

Dalam MOU disepakati pertukaran pelajar Perguruan Budi Mulia Dua Yogyakarta dan SMP Frutigen Swiss, demikian keterangan pers KBRI Bern yang diterima Antara London, Sabtu.

Perguruan Budi Mulia Dua yang diwakili Siti Nurnisa Dewanta, Direktur Perguruan dan Junita Widiati Arfani, Kepala SMP/SMA Budi Mulia Dua menyatakan program pertukaran pelajar ini adalah ketiga setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan program yang sama dengan SMP di Praha, Ceko dan SMP di Nagoya, Jepang.

Menurut Siti Nurnisa Dewanta, program pertukaran pelajar yang sebelumnya sudah berjalan tersebut sangat berguna untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia.

Dengan mengikuti program ini, selain menambah wawasan dan pergaulan, siswa juga menjadi kreatif, mandiri dan percaya diri.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, perwakilan Perguruan Budi Mulia Dua mengadakan pertemuan dengan Yayasan CH untuk Kerjasama Konfederasi Swiss dan menyampaikan hasil persetujuan kerjasama pertukaran pelajar antara kedua sekolah.

Pertemuan Perguruan Budi Mulia Dua dan Mittelschule Frutigen ini dapat tercapai berkat fasilitasi penuh oleh Yayasan CH.

Perwakilan Yayasan CH menyambut dengan ditandatanganinya kerjasama ini dan menawarkan kepada sekolah dan universitas di Indonesia untuk menjalin kerjasama menyangkut kurikulum, pertukaran siswa dengan institusi pendidikan di Swiss.

Yayasan CH didirikan pada tahun 1967 oleh 26 Kanton di Swiss dan memiliki misi untuk memfasilitasi kerjasama sekolah di Swiss dengan sekolah di luar Swiss.

Sebagai pengejawantahan nota kesepakatan MoU, Perguruan Budi Mulia Dua akan mengirimkan siswa SMP selama dua minggu Oktober mendatang mengikuti proses pendidikan dan kehidupan sosial di Mittelschule Frutigen dan menularkan berbagai seni kebudayaan tradisional Indonesia.

Di akhir program pertukaran pelajar, siswa kedua sekolah akan mengadakan malam pertunjukan menampilkan kebudayaan kedua negara. ***6***
(ZG)
(T.H-ZG/B/B012/B012) 07-05-2011 05:38:07