Minggu, 24 Mei 2015

FUNITURE

FURNITURE DAN KOPI INDONESIA DIMINATI DI BULGARIA

     Oleh Zeynita Gibbons
    Sofia, 6/5 (Antara) - Produk furniture khas dan komoditas kopi yang bahan bakunya berasal dari berbagai daerah di Indonesia cukup diminati oleh masyarakat Bulgaria, sehingga pengusaha tertarik untuk mengimpornya.

         "Kopi Indonesia sangat enak dan taste (rasa, red) nya berbeda dengan produk serupa di Bulgaria," kata salah satu pengusaha Bulgaria kepada importir kopi asal Tanah Air yang menetap di Bremen, Jerman, Tati Buesing-Kock kepada Antara London, Selasa.

         Tati Buesing-Kock salah satu pengusaha asal Tanah Air yang hadir dalam Indonesia-Bulgaria Bisnis Forum dan one on one meeting yang diadakan KBRI Sofia bekerja sama dengan Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI di Hotel Kempinski, Selasa (5/5).

         Menurut Tati yang sudah lama berdomisili di Bremen, kopi Indonesia cukup diminati di Eropa dan sejak dua tahun lalu sudah mulai dipasarkan di masyarakat umum Jerman, Rusia dan juga di Inggris.

         Dengan kehadiran dalam bisnis forum Indonesia-Bulgaria, kopi dari Tanah Air diharapkan bisa dipasarkan di Bulgaria dan masyarakat Sofia bisa merasakan nikmatnya produk khas tersebut.

         Dalam pelaksanaan business meeting di Bulgaria produk kopi Indonesia diperkirakan memiliki potensi ekspor hingga mencapai 223.000 dolar AS per tahun guna memenuhi permintaan di negara itu.

         Sementara itu pengusaha funiture Gracia Jessica dari PT Benteng Berkat Makmur, Jakarta, mengatakan, minat masyarakat Bulgaria pada funiture Indonesia cukup besar karena kekhasan dari produk tersebut yang mengunakan kayu berkualitas dan harganya cukup kompetitif dibandingkan dengan produk serupa dari negara lain.

         "Saya senang dengan adanya showroom funiture Indonesia di Varna, karena menjadi representasi bagi produk khas dari negara kita yang kompeten di Eropa," ujar Gracia.

         Dikatakannya hal ini berkat adanya rekomendasi dan seleksi dari KBRI Sofia dan juga Kementerian Perdagangan RI. Dengan kehadiran di Bulgaria, dan juga adanya showroom akan menjadi pembuka jalan untuk mengakses produk funiture Indonesia khususnya di wilayah Eropa Tengah dan Timur.

         Produk Funiture dari Benteng Berkat Makmur dengan desain klasik dan semi minimalis kini sudah bisa masuk pasar di Kazastan, Korea dan Jepang.

         Menurut Gracia, umumnya pasar Eropa cukup sulit dimasuki produk asal Indonesia , namun dengan adanya akses dan kerja sama yang solit antara KBRI, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri, pihaknya berhasil memasarkan produk funiture bahkan sampai ke Hungaria dan Rumania. ***3***
(T.H-ZG/B/T. Susilo/T. Susilo) 06-05-2015 06:20:47

BISNIS FORUM

KBRI SOFIA GELAR "INDONESIA-BULGARIA BUSINESS FORUM"

         Sofia, 4/5 (Antara) - KBRI Sofia menggelar "Indonesia-Bulgaria Business Forum" dalam rangka meningkatkan perdagangan bilateral dengan Bulgaria dan promosi berbagai produk Indonesia di Eropa Timur, dihadiri sekitar 40 pengusaha Bulgaria di Hotel Kempinski, Sofia, Bulgaria, Senin.

        Dalam Indonesia-Bulgaria Business Forum yang bertemakan "strengthening economi relation through optimizing bilateral trade," yang difasilitasi Kementerian Peradagangan dan KBRI di Sofia, hadir Deputi Menteri Ekonomi Bulgaria, Lyuben Petrov, anggota Friendship Parlemen Indonesia Bulgaria, Roumen Lontchec dan Sekjen Bulgaria  Chamber of Commerce (BCCI) Vasil Todorov dan juga pengusaha dari Malang dan Bulgaria.

        Dubes RI untuk Sofia Bunyan Saptomo dalam sambutannya berharap  dengan digelarnya forum bisnis  maka pebisnis Indonesia maupun Bulgaria dapat saling menjalin kerjasama.

        Dubes Bunyan Saptomo, mengatakan salah satu misi KBRI Sofia untuk mempromosikan ekonomi Indonesia di Bulgaria oleh karena itu KBRI sering mengadakan busines meeting dan berpartisipasi pada beberapa acara pameran perdagangan.

        Dengan data indikator ekonomi yang dimiliki Indonesia merupakan negara yang memiliki  ekonomi yang stabil. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan, Indonesia akan membangun infrastruktur untuk menyokong pertumbuhan ekonomi antara lain 24 pelabuhan besar dan 200 pelabuhan kecil serta 65 pelabuhan ferry.

        Selain itu Indonesia akan membangun 15 bandara besar dan sembilan bandara kargo dan jalan kereta api. Untuk membangun itu semua Indonesia membuka kesempatan kerjasama dengan negara lain.

        Prioritas investasi Indonesia adalah infrastruktur pertanian dan pangan, energi dan sektor industri termasuk sektor pariwisata.

        Sementara itu Lyuben Petrov mengatakan Pemerintah Bulgaria mempunyai strategi jangka panjang dalam pembangunan ekonominya melalui promosi perdagangan ke sejumlah negara di dunia dan Indonesia salah satu target dalam strateginya.

        Bulgaria memberikan kemudahan dengan keringanan pajak kepada pengusaha yang ingin menanamkan modal di Bulgaria selain pajak nol persen untuk perusahaan yang memperkerjakan banyak karyawan untuk wilayah Uni Eropa.

        Dikatakannya Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta  merupakan pasar yang besar di Asia bagi berbagai produk Bulgaria diantaranya  otomotif, alat komputer, dan ketumbar.

        Dalam bisnis forum tampil mewakili Indonesia Walikota Malang, M Anton yang melakukan kunjungan kerja ke Bulgaria dengan membawa lima pengusaha dari kota Malang dalam rangka mencari peluang kerjasama dengan para pengusaha di Bulgaria selain upaya menjadikan Bulgaria menjadi sister city kota Malang.

        Walikota pengharapkan dengan kehadiran misi dagang dari kota Malang, para pengusaha dari Malang akan dapat menjalin kerjasama dengan pengusaha di Bulgaria. "Saya ingin memperkenalkan Malang ke berbagai negara khususnya Eropa Timur," ujar Walikota yang akan berencana akan melanjutkan kunjungan kerja ke Hungaria, Austria, Cheko, dan Kroasia.

        Selain mengadakan business forum di Sofiia Delegasi dagang yang dipimpin  Kepala Badan  Pengkajian dan  Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian perdagangan Tjahya Widayanti juga akan membuka Indonesian Business Showroom (IBS) di Varna pada 5 Mei 2015. ***3***
(ZG)
(T.H-ZG/B/B. Situmorang/B. Situmorang) 04-05-2015 19:11:25

BULGARIA

BUKU "INDONESIA DI MATA BULGARIA" DILUNCURKAN

         Sofia, 4/5 (Antara) - Seorang wartawan Bulgaria, Magdalena Gigova, menulis buku "Indonesia in the eyes of Bulgarians" yang diluncurkan di Sofia, Minggu malam (waktu setempat).

        Penulisan buku itu terinspirasi keindahan alam Indonesia serta  kecantikan budaya, tradisi yang beragam dan ritual dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

       "Saya terpana dengan tradisi Jawa pada upacara saat anak mulai melangkah yang dikenal dengan 'tedak sinten'," kata Magdalena Gigova kepada Antara London, pada acara peluncuran buku itu.

        Buku "Indonesia in the eyes of Bulgarians" (Indonesia Di Mata Bulgaria) ditulis dalam dua bahasa, Indonesia dan Bulgaria. Peluncuran  dihadiri Duta Besar RI untuk Bulgaria Bunyan Saptomo dan istri, Lia B Saptomo serta kalangan penulis dan pengusaha Bulgaria.

        Dalam tulisannya berjudul "The children's first steps-Indonesian Way 'tedak sinten' The Seven colours of wisdom, Magi," demikian Magdalena Gigova.

        Dia mengatakan, upacara sejenis juga ada dalam tradisi di Bulgaria. Hanya saja yang dilakukan di Indonesia sangat menarik dan penuh dengan ritual.

        Buku yang merupakan kumpulan artikel mengenai pengalaman wartawan dan penulis ketika berkunjung dan  menetap  di Indonesia tersebut ditulis selain Magdalena Gigova, juga Bilyana Trayanova, Harri Haralampiev dan Fani Bachvarova serta mantan Dubes Bulgaria untuk Indonesia Matei Karasimeonov dan mantan Diplomat Bulgaria di Indonesia Krassin Himmirski.

        Dubes Bunyan Saptomo mengatakan, peluncuran buku ini menunjukkan keragaman budaya Indonesia yang dilihat dari sisi masyarakat Bulgaria menjadi daya tarik tersendiri juga untuk promosi Indonesia kepada masyarakat Bulgaria.

        Dubes menyampaikan penghargaannya kepada para penulis yang sangat aktif memberikan kontribusi dalam mempromosikan Indonesia melalui tulisan dan berbagai artikel di koran yang secara langsung mempromosikan Indonesia di kalangan masyarakat Bulgaria.

        Selain tradisi "tedak sinten", Magi juga  sangat terkesan dengan kesenian tradisional Indonesia khususnya dari daerah Maluku berupa tarian bamboo gila.  "Saya sudah berkunjung ke-17 negara, namun Indonesia punya kesan tersendiri," ujar Magi yang  pernah berkunjung ke Maluku, Jakarta, Bali dan ke Borobudur serta sangat menyukai makanan Indonesia.

        Sementara itu, mantan diplomat Bulgaria yang pernah bertugas di Indonesia tahun 60-an, Dr Krassin Himmirsky yang menulis tentang "Meeting with Presiden Soekarno" sangat terkesan dengan Presiden RI pertama yang disebutnya sebagai seorang memiliki kepribadian yang kharismatik.

       Ia menilai Soekarno adalah orang yang hangat dan selalu menyapa setiap orang yang ditemuinya.

       Selain para penulis buku atau wakilnya dan delegasi misi dagang, hadir pada malam tersebut anggota Parlemen Frienship Group Indonesia Bulgaria, Ms Boyka G Marinska dan Rumen M Yontchev, wakil Kementerian Luar Negeri Bulgaria, sejumlah pengusaha  Bulgaria, akademisi dan para jurnalis.

        Peluncuran buku tersebut dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang juga ditujukan untuk menyambut kedatangan delegasi dagang Indonesia yang dipimpin Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan (BP2KP) Kemendag Tjahya Widayanti. Selama berada di Bulgaria misi dagang akan mengadakan bisnis forum dan membuka Indonesia Bisnis Showroom di kota Varna. ***1*** (ZG)

(T.H-ZG/B/S. Muryono/S. Muryono) 04-05-2015 22:49:23

MALANG

MALANG CARI PELUANG BISNIS DI BURGARIA

          Sofia, 4/5 (Antara) - Wali Kota Malang, Jawa Timur, M. Anton  melakukan kunjungan kerja ke Bulgaria dengan membawa lima pengusaha dalam rangka mencari peluang kerja sama dengan para pengusaha di Bulgaria, selain upaya menjadikan kota setempat menjadi "sister city" Kota Malang.

         Dalam 'Indonesia - Bulgaria Business Forum' yang bertemakan "Strengthening economi relation through optimizing bilateral trade," difasilitasi Kementerian Peradagangan dan KBRI di Sofia berlangsung di hotel Kempinski, Senin, Anton mengatakan Kota Malang hampir mirip dengan kota-kota di Bulgaria.

         Indonesia - Bulgaria Business Forum dihadiri sekitar 40 pengusaha Bulgaria dibuka Dubes RI untuk Sofia Bunyan Saptomo dan dihadiri Deputi Menteri Ekonomi Bulgaria Luben Petrov, Wali Kota Malang mengatakan seperti halnya Bulgaria yang dikelilingi pegunungan, Kota Malang juga dikeliling pegunungan dengan udara yang sejuk dan penduduk sekitar 850 ribu penduduk.

         Menurut M Anton, Malang juga dikenal sebagai kota pendidikan kota wisata dan kota industri yang berbasiskan industri masyarakat dalam upaya mengurangi pengangguran. Sebagai kota wisata, Malang tumbuh sebagai kota urbanisasi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup besar.

         Wali Kota pengharapkan dengan kehadiran misi dagang dari kota Malang, para pengusaha dari Malang akan dapat menjalin kerja sama dengan pengusaha di Bulgaria.

         "Saya ingin memperkenalkan Malang ke berbagai negara, khususnya Eropa Timur," ujar Wali Kota yang berencana melanjutkan kunjungan kerja ke Hungaria, Austria, Ceko, Kroasia dan Turki.

         Diharapkannya produk Kota Malang tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional, khususnya di Eropa Timur. Untuk itu, ia mengundang masyarakat dan juga pengusaha Bulgaria berkunjung ke Malang dan bisa menjalin kerja sama dengan para pengusahanya.

         Sementara itu Wali Kota M Anton juga mengatakan sebagai kota pendidikan, Malang memiliki lebih dari 50 perguruan tinggi negeri dan swasta dengan tercatat mahasiswa yang belajar 25 negara seperti Jepang, Jerman, Amerika.

         Selain sebagai kota pendidikan, Malang juga jadi berkembang sebagai kota indutri dengan membuat industri centre dengan menjalin kerja sama perguruan tinggi untuk membantu menciptakan kreativitas masyarakat.

         Berbagai produk kerajinan, busana, keramik, dari Malang juga sudah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia dan Tiongkok, diharapkannya dengan kehadiran di Bulgaria maka produk industri Malang juga bisa masuk ke wilayah Eropa Timur.

         Sementara itu, Kepala Promosi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Malang Tri Rudy Irawanto mengatakan, para pengusaha yang ikut dalam misi dagang ini di antaranya industri kontruksi, keramik, kerajinan 'glass painting' dan makanan ringan berupa keripik buah seperti keripik  buah apel, mangga, salak, nangka dan tempe Malang.

         Diharapkannya dengan kehadiran para pengusaha asal Kota Malang bisa memperoleh pasar di Bulgaria maupun di Eropa Timur, apalagi dengan akan diresmikannya "Indonesian Business Showroom" (IBS) di Kota Varna.

    ***3*** (T.ZG)
Chandra HN
(T.H-ZG/B/C. Hamdani/C. Hamdani) 04-05-2015 16:33:55

LAYANG2

INDONESIA IKUT FESTIVAL LAYANG-LAYANG DI PERANCIS

     Oleh Zeynita Gibbons
    London 3/5 (Antara) - Layang-layang khas Bali karya I Made Yudha dan I Wayan Duduk, terdiri jenis Jangang, Naga, Pecukan, dan Bebean berbentuk ikan, mewakili Indonesia memeriahkan Festival Cerf Volant di kota Berck-sur-Mer, Prancis.

         Karya kedua pelayang dari Bali itu dilengkapi "sendaren", alat berbentuk busur yang menghasilkan suara khas saat tertiup angin, dengan kerangka dari bambu berukuran 3,7 x 2,4 meter.

         Menurut Koordinator Pensosbud KBRI Paris Henry Kaitjily, kepada Antara London, Minggu, kehadiran layang-layang ber-sendaren itu mampu mewarnai suasana awal musim panas pada festival yang berlangsung di kota berjarak sekitar 250 kilometer arah utara Prancis tersebut.

         Dikatakannya pada festival layang-layang internasional ke-26 tersebut, panitia pelaksana berhasil menghadirkan para pelayang dari beberapa negara, antara lain RRT, India, Malaysia, Korea, Jepang, dan Indonesia yang diwakili dua pelayang dari Bali I Made Yudha dan I Wayan Duduk.

         Ketua panitia penyelenggara Gerard Clement mengatakan bahwa pihaknya sengaja mendatangkan para pelayang dari Indonesia karena layang-layang yang ditampilkan memiliki keterkaitan yang kuat dengan seni dan budaya di negaranya.

         Saat pengunjung memadati stan Indonesia, I Made Yudha dan I Wayan Duduk menjelaskan mengenai warna layang-layang Bebean yang memiliki makna khusus yaitu putih menandakan kelahiran, merah kehidupan, dan hitam berarti kematian.

         Dijelaskan juga bahwa pembuatan layang-layang di Bali pada umumnya berlangsung setelah musim panen padi periode Juli-Oktober. Untuk menarik minat para pengunjung, keduanya juga membawa beberapa handicraft (kerajinan tangan) asal Bali untuk dipromosikan.

         Dubes RI Paris, Dr Hotmangaradja Pandjaitan, yang hadir atas undangan Wali Kota Berck Sur Mer, menyampaikan apresiasi kepada pihak pemerintah kota dan panitia yang telah mengundang para pelayang Indonesia dan pada tahun berikutnya akan menjajagi partisipasi yang lebih banyak dari para pelayang daerah lain di Indonesia.

         Hotmangaradja yang dikenal gigih dengan program "Menghadirkan Indonesia di Prancis" akan mengupayakan agar layang-layang Indonesia dapat tampil secara maksimal tidak saja pada festival di kota Berck Sur Mer tetapi juga dalam ajang festival layang-layang internasional terbesar di Eropa yang akan dilaksanakan pada Mei 2016 di kota Dieppe, Prancis.

         Menurut Wali Kota Berck Sur Mer, Bruno Cousein, kegiatan internasional ini diperkirakan dihadiri oleh sekitar 750.000 pengunjung dari berbagai wilayah di Prancis termasuk wisatawan dari Eropa Barat. Khusus untuk tahun ini para peserta dari berbagai negara termasuk Indonesia diminta untuk memperagakan teknik pembuatan layang-layang.

         Festival layang-layang yang berlangsung dari tanggal 18 hingga 26 April lalu itu juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan seperti pameran, pelatihan membuat layang-layang, dan pelatihan koreografi layang-layang.

         Gerard Clement juga menginformasikan kepada Dubes RI ketertarikan pihak penyelenggara untuk menghadirkan layang-layang daun yang dibuat oleh para pelayang di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

         Menurut catatan dari situs gua yang ada di kota Muna, layang-layang telah dimainkan oleh masyarakat Muna sekitar 4.000 tahun yang lalu dan keunikannya layang-layang daun dibuat dari daun Kelope dan saat ini hanya beberapa orang di Kabupaten Muna yang dapat membuat jenis layang-layang ini.

         Berbagai jenis layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia yang semakin diminati oleh masyarakat di Prancis, kiranya perlu mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah pusat dan daerah termasuk Yayasan Masyarakat Layang-Layang Indonesia (YMLI) agar lebih banyak karya anak bangsa dapat tampil menghiasi langit Eropa.

         Ber-diplomasi tidak selalu harus lewat kata-kata tetapi juga karya buah tangan para pelayang Indonesia mempromosikan Tanah Air di mancanegara khususnya Prancis yang setiap tahun didatangi oleh sekitar 85 juta turis mancanegara, demikian Henry Kaitjily. ***4***
(T.H-ZG/B/T. Susilo/T. Susilo) 03-05-2015 14:58:52

BELANDA

INDONESIA - BELANDA GALANG KERJASAMA INFRASTUKTUR

          London, 2/5 (Antara) - Forum Infrastruktur Indonesia - Belanda yang ketiga bertema "Strengthening Indonesia-Netherlands Cooperation on Infrastructure Development", mengalang kerjasama di antara kedua negara, di Den Haag, Belanda.

         Forum pertemuan pelaku usaha dan pemerintah ini dibuka Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Den Haag, Ibnu Wahyutomo, dan dihadiri sekitar 170 peserta dari berbagai perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur dan pemerintah baik dari Belanda maupun Indonesia, demikian Minister Counsellor Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Den Haag, Azis Nurwahyudi kepada Antara London, Sabtu.

         Pada kesempatan pembukaan forum tersebut, KUAI KBRI Den Haag, Ibnu Wahyutomo, menyampaikan penyelenggaraan Forum Infrastruktur ketiga ini diharapkan dapat menjadi sarana kerjasama bagi para pelaku bisnis kedua negara.

        Dikatakannya  forum ini difokuskan pada peningkatan kerjasama bidang pelabuhan, perikanan, infrastruktur logistik, dan perkeretaapian. Diakuinya bahwa Belanda, selain negara-negara seperti Korea, Tiongkok dan Jepang, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadahi atas bidang kerjasama tersebut.

        Staf ahli Menteri Perhubungan Indonesia Sudiharjo menyampaikan bahwa forum ini merupakan wadah yang strategis untuk pembahasan kerjasama infrastruktur, terutama sektor transportasi mengingat Pemerintah Indonesia saat ini tengah memprioritaskan pembangunan sistem transportasi.

        Sementara Sekretaris Jenderal Kementerian Infrastruktur dan Lingkungan Belanda, Seibe Reidstra, menyampaikan perkembangan kota-kota besar di dunia, termasuk Jakarta. Oleh karena itu diperlukan infrastruktur yang memadahi tidak saja yang berupa "hard infrastructure" tetapi juga "soft infrastructure" sehingga diperlukan kerjasama dengan banyak pihak, termasuk Belanda.

        Selama forum berlangsung telah dilakukan paparan dari Van Oord, Port of Rotterdam, Nederland Maritiem Land, Randstad and Freight Pro Rail, Metropolitan Region Rotterdam-Den Haag, Strukton, PT. Pelindo, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan BKPM.

        Sedangkan berbagai pelaku bisnis yang hadir antara lain, Royal Boskalis, Pwerusahaan Konstruksi BAM Internasional, Alstom, Damen, Arcadis, Royal Haskoning DHV dan Witteveen+Bos, sedangkan dari Indonesia hadir PT Pelindo I ¿ IV, BKPM, PT Kereta Api Indonesia, PT LEN, dan Kementerian Perhubungan
   Kegiatan Forum Infrastruktur merupakan pertemuan antara para pengusaha Belanda dan Indonesia yang difasilitasi oleh Pemerintah kedua negara dalam rangka mendorong pengembangan kerjasama di berbagai bidang.

        Forum tahun ini difokuskan pada bidang pelabuhan, perikanan, serta pembangunan jalur kereta api sesuai prioritas agenda pembangunan Indonesia. Sebelumnya tahun 2012 Infrastruktur Forum dilakukan di Den Haag dan tahun 2013 di Jakarta, demikian Azis Nurwahyudi.  
(ZG)
(T.H-ZG/B/E.S. Syafei/E.S. Syafei) 02-05-2015 21:05:57

DWIKI D

DWIKI DHARMAWAN BAWAKAN VERSI JAZZ BENGAWAN SOLO

     Oleh Zeynita Gibbons
    London, 1/5 (Antara) - Musisi jazz Dwiki Dharmawan kembali menunjukkan kebolehannya dalam menggarap lagu tradisional Bengawan Solo dan Di Bawah Bulan Purnama menjadi bernuansa jazz dalam ajang yang digelar di Gedung Zelena 4 Centrum Bratisava, Slovakia.

         Kepada Antara London, Jumat, Dwiki menyebut konsernya dalam rangka memperkenalkan musik Indonesia itu mendapat sambutan meriah dan "standing ovation" dari penonton.

         Musisi jazz terkemuka itu melakukan lawatan konser di beberapa negara seperti  di Bratislava, Slovkia dan di beberapa kota di Polndia seperti Warsawa, Gdynia dan Katowice dalam upaya memperkenalkan musik jazz dan juga mempromosikan kampanye Garuda Indonesia "Fly with Garuda and please visit Wonderful Indonesia".

         Sebelumnya, Dwiki juga mengunjungi negara Ukraina dan menggelar konser di Master Jam fest di Odessa Theater, Ukraina.

         Di Slovakia, sebelum menggelar konser, Dwiki sempat dijamu makan malam  oleh Dubes RI di Bratislava Torro Purbo dan Ibu Pudji T Purbo.

         Dwiki memaparkan undang sudah berdatangan sejak pukul 20.00 waktu setempat dan tepat pukul 20:30 Dubes menyampaikan sambutan dan pertunjukan dibuka dengan nomor jazz for Freeport berirama Swing yang kental dengan menampilkan Pawel Urowski yang memainkan Bass Akustiknya ditimpali Drums Adam Golucki dan alunan Tenor Sax Piotr Checki.

         "Impresi audiens begitu terasa  mungkin banyak yang tadinya mengira bahwa Indonesia belum Modern dan hanya mampu menampilkan musik tradisional," ujar Dwiki yang melanjutkan pertunjukan dengan karya folksong asal Bali "Djanger" dan dilanjut "Clarissa" serta Medley "Cik Cik Periuk dan Paris Barantai".

         Dwiki mengatakan penonton sepertinya tidak berpikir bahwa dibalik modernitas yang dimiliki Indonesia juga terdapat keragaman buaya (Cultural Diversity).

         "Saya mencoba menginteprestasikan Djanger, Cik Cik Periuk dan Paris Barantai memiliki aroma jazz yang kental tetapi mempunyai ciri khas tradisional Indonesia," ujar Dwiki.

         Ia melakuanny dengan memodifikasi irama menjadi 6/8 serta memasukkan idiom tradisi Indonesia.

         "Sambutan begitu meriah membuat kami semakin terinspirasi dan bersemangat," ujar Dwiki yang juga menyajikan "Whale  Dance" dari album terbarunya  "Passion, Love, Life".

         Usai "Whale Dance" bassist Pawel Urowski mengganti akustik bass dengan Electric Bass dan mulailah sesi berikut yang beraliran Jazz Rock diawali nomor "The Dark of the Light" juga dari album "Passion Love, Life", dilanjut dua nomor yang sangat diaoresiasi audiens yaitu "Numfor" dan "Arafura".

        "Sebagai Encore karena audiens masih meminta kami terus bermain kami persembahkan 'The Spirit of Peace'," ujar Dwiki.

         Seusai pertunjukan Dwiki mengaku didatangi promotor yang ingin mengundang untuk datang lagi ke Bratislava tahun depan.

    (T.H-ZG/C/A. Novarina/A. Novarina) 01-05-2015 16:51:22