RAKYAT IRAK MENYUKAI PRODUK INDONESIA
London, 21/7 (ANTARA) - Irak akan mengundang pengusaha Indonesia untuk membangun pabrik "furniture" di Erbil, Irak Utara, karena rakyat "Negeri Kisah 1001 Malam" ini menyukai produk dari negara kepulauan terbesar di dunia itu.
Konsul Jenderal Irak di Dubai, Hussein Sadiq Khalifa, juga memberi peluang importir asal Indonesia untuk mengimpor pakaian dan teh, demikian siaran pers Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai yang diterima ANTARA, Rabu.
"Rakyat Irak menyukai berbagai produk Indonesia yang selama ini diimpor dari pihak ketiga," katanya dalam pertemuan antara Konsulat Jenderal Irak dan KJRI Dubai di Fairmont Hotel, kota setempat.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Indonesia dipimpin Konsul Jenderal RI Dubai Mansyur Pangeran didampingi Counsellor Ekonomi Dede Ahmad Rifai, Nashiruddin Mawardi dari IKPT Overseas FZE, Jogindal (Yogi) B.M. dari Indowear Trading.
Selain itu, Gunawan dari Samudra Indonesia tampak hadir bersama Agung Udiyanto profesional Indonesia bekerja di SMOO Holdings, perusahaan milik keluarga penguasa Dubai Al Maktoum, M.N. Khan dari NAD Furniture (importir produk Olympic Indonesia), dan Ridwan Supriyadi dari KPB PTPN.
Dari kalangan pengusaha dipimpin Abdulla Fayez Al Gabour dan Dr. Ramzi Halasa, Direktur dan Development Manager Kantor Dr. Sheikh Sultan bin Khalifa Al Nahyan (anak penguasa UAE), Director General Zahrat Al Neel General Trading, Nyonya Ronak M. Kidhir, dan Al Olama Properties, Mark Boardman, perusahaan keluarga penguasa Dubai, dan Konjen Irak Dubai Hussein Sadiq Khalifa.
Konjen Hussein Sadiq Khalifa mengatakan bahwa Irak saat ini sedang mengalami masa transisi karena belum tercapainya konsensus politik dan belum terbentuknya pemerintah koalisi yang kokoh.
Di tengah situasi transisi tersebut, kata dia, Irak terus berupaya untuk memulihkan ekonomi dan mewujudkan stabilitas politik serta keamanan.
Dijelaskan upaya pemulihan ekonomi Irak tersebut ditopang oleh produksi minyak sebesar 2,5 juta barel per hari, dan diperkirakan tujuh tahun ke depan Irak menghasilkan 12 juta barel minyak/hari.
Adapun peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan pengusaha Indonesia, antara lain perluasan Bandara Internasional Baghdad yang akan dibangun tiga terminal baru, "business park" (kawasan bisnis), "cargo village" (perkampungan kargo), dan "free zone" (zona bebas) dengan biaya enam miliar dolar AS.
Konjen Irak menyebutkan pembangunan bandara baru di Karbala senilai satu miliar dolar AS dan perluasan Bandara Irbil senilai 250 juta dolar AS. Irak juga akan membenahi pelabuhan laut di Irak, yaitu Pelabuhan Faw di selatan Basra.
Di bidang pembangunan infrastuktur listrik, kata dia, saat ini Irak hanya mampu memproduksi listrik sebesar 7.000 megawatt, sementara itu kebutuhan listrik mencapai 13.000 MW.
Pembangunan stadion sepak bola di Basra yang berkapasitas 65.000 kursi dengan biaya 550 juta dolar AS, sedangkan "Basra Sport City" yang pembangunannya dimulai tahun lalu dengan biaya 450 juta dolar AS.
Dikemukakan pula, Irak juga akan membangun sedikitnya 3,5 juta rumah dalam jangka waktu 10 tahun, di samping pembangunan sektor industri Irak senilai 10 miliar dolar AS yang membutuhkan semen dan baja.
Konsorsium perusahaan Prancis dan Inggris sedang membangun pabrik semen di Karbala dengan kapasitas dua juta ton/tahun, dan pabrik semen berkapasitas 2,7 juta ton/tahun di Irak Utara.
Perusahaan baja Arcelor Mittal merencanakan untuk merenovasi pabrik baja di Basra dan bekerja sama dengan perusahaan Turki membangun pabrik baja di Sulaymaniyah, Irak Utara.
Pembangunan sektor pariwisata di Irak, khususnya kawasan pegunungan di Irak Utara dan pusat Shiah di Najef dan Karbala.
Perusahaan Inggris bekerja sama dengan perusahaan Abu Dhabi membangun hotel 650 kamar dengan biaya 110 juta dolar AS di Karbala. Sepanjang Sungai Tikirt dibangun kawasan pariwisata yang menarik minat perusahaan dari AS, Australia, Italia, Spanyol, dan Swedia.
Konjen RI di Dubai, Mansyur Pangeran mengimbau pengusaha Indonesia memanfaatkan Dubai sebagai pusat kegiatan berbisnis di Irak, mengingat ratusan pengusaha Irak tinggal di Dubai, adanya penerbangan langsung Dubai-Baghdad, dan dekatnya jarak Pelabuhan Jebel Ali, Dubai (PEA)-Basrah, Irak.
Irak Utara mendapatkan status otonomi khusus serupa Hong Kong dan proteksi dari Amerika Serikat dan sekutunya sejak era pemerintah Saddam Hussein sampai sekarang.
Di Irak Utara telah dibuka beberapa Konsulat Jenderal dari beberapa negara, seperti Turki, Iran, Amerika Serikat, Polandia, dan Inggris.
(Rw.ZG*D007)
(T.H-ZG/B/D007/D007) 21-07-2010 12:45:29
Blog ini berisi liputan dan berita serta artikel sekitar kejadian yang ada hubungannya diplomasi Indonesia di luar negeri khususnya wilayah Eropa yang saya kirim dan dimuat di LKBN Antara. Terima kasih untuk seluruh nara sumber diplomat yang memberikan kontribusi kepada saya sebagai koresponden LKBN Antara di Kerajaan Inggris dan juga mencakup wilayah Eropa
Selasa, 20 Juli 2010
"HALLSWORTH FELLOWSHIP AWARD"
AKADEMISI INDONESIA TERIMA "HALLSWORTH FELLOWSHIP AWARD"
London, 20/7 (ANTARA) - Akademisi asal Indonesia Dr. Yanuar Nugroho, peneliti di Institut Kajian Riset di Manchester Business School, Universitas Manchester, mendapatkan salah satu fellowship internasional paling bergengsi di bidang Ekonomi-Politik, "Hallsworth Fellowship Award", di Inggris.
Dr Yanuar Nugroho dalam keterangannya kepada koresponden ANTARA London, Selasa, mengatakan "Hallsworth Fellowship" merupakan skema penghargaan dan pengakuan atas capaian akademik yang dirintis Profesor H M Hallsworth tahun 1944 untuk mengembangkan studi Ekonomi-Politik.
Bagi Dr. Nugroho penghargaan itu adalah pengakuan dari komunitas akademik atas apa yang dikerjakan selama ini.
"Apa yang saya teliti, saya tulis, saya sampaikan, dan saya bicarakan dalam berbagai kesempatan --termasuk di Indonesia-- adalah sesuatu yang penting tak hanya secara kontekstual, namun juga secara teoretis. Semoga ini menjadi inspirasi dan semangat juga bagi para peneliti Indonesia lainnya," ujar Nugroho.
Pengembangan studi ekonomi-politik, menurut dia, memiliki dampak besar dalam perkembangan masyarakat karena menyangkut, bagaimana ekonomi bekerja, konsekuensi sosial dari aktivitas ekonomi, bagaimana tindakan pemerintah mempengaruhi kinerja ekonomi dan struktur institusional dari pemerintah.
"Hallsworth Fellowship" selama lebih dari dua dasawarsa terakhir telah menjadi salah satu fellowship internasional yang cukup bergengsi di dunia. Fellowship itu menarik minat para peneliti dari berbagai bidang di seluruh dunia, namun yang menerimanya harus melakukan penelitiannya di Universitas Manchester, Inggris.
Kajian Dr. Yanuar Nugroho tentang inovasi di "sektor ketiga" (non-pemerintah, non-bisnis) yang dilakukannya di Manchester Business School dipandang oleh Komite Hallsworth mempunyai dampak besar terhadap ekonomi-politik di negara berkembang maupun di negara maju.
Nugroho merintis kajian inovasi "sektor ketiga" sejak ia mengerjakan disertasi doktoralnya pada 2004 mengenai bagaimana organisasi masyarakat sipil di Indonesia berinovasi dalam gerakannya melalui penggunaan internet untuk demokratisasi.
Intisari gagasan penelitian itu diteruskan hingga saat ini. Ia mengkaji tak hanya "sektor ketiga" di Indonesia, melainkan juga di Eropa.
Nugroho menggagas "penanaman kembali inovasi pada konteks sosial yang konkrit" (re-embedding innovation into its real societal contexts).
Pada penelitian itu, ia menunjukkan kepada Komite Hallsworth bahwa studi inovasi yang umumnya dilihat dan dikaji secara sangat teknis dan terbatas dari kacamata studi sains dan teknologi, ekonomi dan sosiologi, ternyata punya implikasi ekonomi-politik yang sedemikian luas.
Penelitian dan kajian akademik di bidang itu juga membuat Nugroho mendapatkan penghargaan sebagai staf akademik terbaik di Manchester Business School, akhir 2009.
Selama di Manchester, Nugroho juga terlibat dalam lebih dari 17 penelitian yang didanai Dewan Riset Eropa, Dewan Riset Inggris, dan Dirjen Riset Uni Eropa.
Kajian Nugroho pada umumnya berfokus pada bidang inovasi dan keberlanjutan (Innovation and Sustainability). Beberapa tahun terakhir ini, ia juga ditunjuk menjadi fasilitator dalam perumusan kebijakan sains dan teknologi di beberapa negara anggota Uni Eropa. Ia telah memublikasikan gagasannya di sejumlah jurnal internasional, menyampaikan presentasi di berbagai konferensi internasional dan menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi bergengsi seperti di Oxford dan Cambridge.
Menurut catatan Universitas Manchester, Nugroho adalah warga Asia Tenggara pertama yang menerima "fellowship" ini sejak diberikan pertamakali tahun 1944.
Tahun ini, ada lebih dari 400 kandidat dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa termasuk Inggris.
Pada umumnya, penerima award ini berasal dari negara-negara maju dan baru pada tahun ini award ini jatuh ke tangan seorang peneliti dari negara berkembang.
Nugroho lahir dan besar di Solo, Jawa Tengah. Lulus dari SMA Negeri 3 Solo, ia meneruskan pendidikan S1-nya di ITB (1990-1994), S2 di UMIST Manchester (2000-2001), PhD di Universitas Manchester (2004-2007), Pascadoktoral di Universitas Manchester (2007-2008).
Selama di Indonesia, dalam kurun 1994-2004, ia aktif di sejumlah LSM dan organisasi masyarakat sipil seperti ELSPPAT (Bogor), Uni Sosial Demokrat (Jakarta), dan Business Watch Indonesia (Solo).
Sejak 2008 ia menjadi peneliti di Manchester. Karena ia bekerja di Univ Manchester, Fellowship ini memberinya kenaikan pangkat luarbiasa dari level "Associate" ke level "Fellow". Ia juga akan menggunakan dana riset dari "Fellowship" itu untuk meneruskan penelitian yang sudah dimulainya dan dikerjakannya selama ini.
***4***
(T.H-ZG/B/T010/T010) 20-07-2010 13:38:33
London, 20/7 (ANTARA) - Akademisi asal Indonesia Dr. Yanuar Nugroho, peneliti di Institut Kajian Riset di Manchester Business School, Universitas Manchester, mendapatkan salah satu fellowship internasional paling bergengsi di bidang Ekonomi-Politik, "Hallsworth Fellowship Award", di Inggris.
Dr Yanuar Nugroho dalam keterangannya kepada koresponden ANTARA London, Selasa, mengatakan "Hallsworth Fellowship" merupakan skema penghargaan dan pengakuan atas capaian akademik yang dirintis Profesor H M Hallsworth tahun 1944 untuk mengembangkan studi Ekonomi-Politik.
Bagi Dr. Nugroho penghargaan itu adalah pengakuan dari komunitas akademik atas apa yang dikerjakan selama ini.
"Apa yang saya teliti, saya tulis, saya sampaikan, dan saya bicarakan dalam berbagai kesempatan --termasuk di Indonesia-- adalah sesuatu yang penting tak hanya secara kontekstual, namun juga secara teoretis. Semoga ini menjadi inspirasi dan semangat juga bagi para peneliti Indonesia lainnya," ujar Nugroho.
Pengembangan studi ekonomi-politik, menurut dia, memiliki dampak besar dalam perkembangan masyarakat karena menyangkut, bagaimana ekonomi bekerja, konsekuensi sosial dari aktivitas ekonomi, bagaimana tindakan pemerintah mempengaruhi kinerja ekonomi dan struktur institusional dari pemerintah.
"Hallsworth Fellowship" selama lebih dari dua dasawarsa terakhir telah menjadi salah satu fellowship internasional yang cukup bergengsi di dunia. Fellowship itu menarik minat para peneliti dari berbagai bidang di seluruh dunia, namun yang menerimanya harus melakukan penelitiannya di Universitas Manchester, Inggris.
Kajian Dr. Yanuar Nugroho tentang inovasi di "sektor ketiga" (non-pemerintah, non-bisnis) yang dilakukannya di Manchester Business School dipandang oleh Komite Hallsworth mempunyai dampak besar terhadap ekonomi-politik di negara berkembang maupun di negara maju.
Nugroho merintis kajian inovasi "sektor ketiga" sejak ia mengerjakan disertasi doktoralnya pada 2004 mengenai bagaimana organisasi masyarakat sipil di Indonesia berinovasi dalam gerakannya melalui penggunaan internet untuk demokratisasi.
Intisari gagasan penelitian itu diteruskan hingga saat ini. Ia mengkaji tak hanya "sektor ketiga" di Indonesia, melainkan juga di Eropa.
Nugroho menggagas "penanaman kembali inovasi pada konteks sosial yang konkrit" (re-embedding innovation into its real societal contexts).
Pada penelitian itu, ia menunjukkan kepada Komite Hallsworth bahwa studi inovasi yang umumnya dilihat dan dikaji secara sangat teknis dan terbatas dari kacamata studi sains dan teknologi, ekonomi dan sosiologi, ternyata punya implikasi ekonomi-politik yang sedemikian luas.
Penelitian dan kajian akademik di bidang itu juga membuat Nugroho mendapatkan penghargaan sebagai staf akademik terbaik di Manchester Business School, akhir 2009.
Selama di Manchester, Nugroho juga terlibat dalam lebih dari 17 penelitian yang didanai Dewan Riset Eropa, Dewan Riset Inggris, dan Dirjen Riset Uni Eropa.
Kajian Nugroho pada umumnya berfokus pada bidang inovasi dan keberlanjutan (Innovation and Sustainability). Beberapa tahun terakhir ini, ia juga ditunjuk menjadi fasilitator dalam perumusan kebijakan sains dan teknologi di beberapa negara anggota Uni Eropa. Ia telah memublikasikan gagasannya di sejumlah jurnal internasional, menyampaikan presentasi di berbagai konferensi internasional dan menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi bergengsi seperti di Oxford dan Cambridge.
Menurut catatan Universitas Manchester, Nugroho adalah warga Asia Tenggara pertama yang menerima "fellowship" ini sejak diberikan pertamakali tahun 1944.
Tahun ini, ada lebih dari 400 kandidat dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Kanada, Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara di Eropa termasuk Inggris.
Pada umumnya, penerima award ini berasal dari negara-negara maju dan baru pada tahun ini award ini jatuh ke tangan seorang peneliti dari negara berkembang.
Nugroho lahir dan besar di Solo, Jawa Tengah. Lulus dari SMA Negeri 3 Solo, ia meneruskan pendidikan S1-nya di ITB (1990-1994), S2 di UMIST Manchester (2000-2001), PhD di Universitas Manchester (2004-2007), Pascadoktoral di Universitas Manchester (2007-2008).
Selama di Indonesia, dalam kurun 1994-2004, ia aktif di sejumlah LSM dan organisasi masyarakat sipil seperti ELSPPAT (Bogor), Uni Sosial Demokrat (Jakarta), dan Business Watch Indonesia (Solo).
Sejak 2008 ia menjadi peneliti di Manchester. Karena ia bekerja di Univ Manchester, Fellowship ini memberinya kenaikan pangkat luarbiasa dari level "Associate" ke level "Fellow". Ia juga akan menggunakan dana riset dari "Fellowship" itu untuk meneruskan penelitian yang sudah dimulainya dan dikerjakannya selama ini.
***4***
(T.H-ZG/B/T010/T010) 20-07-2010 13:38:33
Senin, 19 Juli 2010
Festival Ulysse Tunisia
Liga Tari Krida Budaya UI Tampil di Festival Ulysse Tunisia
Senin, 19 Juli 2010 06:12 WIB | Hiburan | Seni/Teater/Budaya | Dibaca 684 kali
London (ANTARA News) - Rombongan misi kesenian Indonesia Liga Tari Krida Budaya UI pimpinan Ninik El Karim mengikuti berbagai festival di Tunisia dan mengisi acara penutupan Festival Ulysse di Pulau Jerba, yang terletak sekitar 640 km selatan kota Tunis.
Rombongan yang akan ambil bagian dalam festival musim panas di berbagai kota tiba di Tunisia, Minggu tiba di Tunisia yang disambut langsung Dubes RI LBBP untuk Tunisia, M Ibnu Said beserta sejumlah staf KBRI Tunisia, di Bandara Tunis Carthage.
Pejabat Fungsi Pensosbud KBRI Tunis, Sugiri Suparwan, kepada koresponden Antara London, Senin mengatakan rombongan misi kesenian dari Universitas Indonesia yang berjumlah 11 orang diundangan Kementerian Kebudayaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah Tunisia untuk mengikuti berbagai festival.
Dikatakannya Mereka dijadwalkan akan ambil bagian dalam enam festival musim panas di beberapa kota di Tunisia dengan pementasan berbagai kesenian berupa tari-tari tradisional dari berbagai daerah di Indonesia
Dari Bandara rombongan Liga Tari Krida Budaya langsung menuju Pulau Jerba, di Tunisia yang akan tampil dalam acara penutupan Festival Ulysse di Pulau Jerba, yang terletak sekitar 640 km selatan kota Tunis.
Pulau Jerba merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Tunisia yang setiap tahunnya dikunjungi sekitar enam sampai tujuh juta wasatawan dari manca negara.
Sugiri Suparwan, yang mendampingi rombongan dalam perjalanan ke Jerba mengatakan mereka dijadwalkan akan ambil bagian dalam Karnaval Aoussou di Kota Sousse pada tanggal 24 Juli mendatang.
Menurut Sugiri Suparwan, Aouissou adalah karnaval tahunan terbesar dimana banyak negara Eropa, Afrika, Amerika dan Asia ikut berpartisipasi dan setiap tahunnya selalu dihadiri oleh Presiden Tunisia.
Selain itu, Krida Budaya, juga akan ikut memeriahkan Peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Tunisia pada tanggal 27 Juli mendatang di kota Tunis, dalam satu pementas bersama dengan grup musik bambu dari Bandung, Saung Angklung Udjo. (ZG/K004)
COPYRIGHT © 2010
Senin, 19 Juli 2010 06:12 WIB | Hiburan | Seni/Teater/Budaya | Dibaca 684 kali
London (ANTARA News) - Rombongan misi kesenian Indonesia Liga Tari Krida Budaya UI pimpinan Ninik El Karim mengikuti berbagai festival di Tunisia dan mengisi acara penutupan Festival Ulysse di Pulau Jerba, yang terletak sekitar 640 km selatan kota Tunis.
Rombongan yang akan ambil bagian dalam festival musim panas di berbagai kota tiba di Tunisia, Minggu tiba di Tunisia yang disambut langsung Dubes RI LBBP untuk Tunisia, M Ibnu Said beserta sejumlah staf KBRI Tunisia, di Bandara Tunis Carthage.
Pejabat Fungsi Pensosbud KBRI Tunis, Sugiri Suparwan, kepada koresponden Antara London, Senin mengatakan rombongan misi kesenian dari Universitas Indonesia yang berjumlah 11 orang diundangan Kementerian Kebudayaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah Tunisia untuk mengikuti berbagai festival.
Dikatakannya Mereka dijadwalkan akan ambil bagian dalam enam festival musim panas di beberapa kota di Tunisia dengan pementasan berbagai kesenian berupa tari-tari tradisional dari berbagai daerah di Indonesia
Dari Bandara rombongan Liga Tari Krida Budaya langsung menuju Pulau Jerba, di Tunisia yang akan tampil dalam acara penutupan Festival Ulysse di Pulau Jerba, yang terletak sekitar 640 km selatan kota Tunis.
Pulau Jerba merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Tunisia yang setiap tahunnya dikunjungi sekitar enam sampai tujuh juta wasatawan dari manca negara.
Sugiri Suparwan, yang mendampingi rombongan dalam perjalanan ke Jerba mengatakan mereka dijadwalkan akan ambil bagian dalam Karnaval Aoussou di Kota Sousse pada tanggal 24 Juli mendatang.
Menurut Sugiri Suparwan, Aouissou adalah karnaval tahunan terbesar dimana banyak negara Eropa, Afrika, Amerika dan Asia ikut berpartisipasi dan setiap tahunnya selalu dihadiri oleh Presiden Tunisia.
Selain itu, Krida Budaya, juga akan ikut memeriahkan Peringatan 50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Tunisia pada tanggal 27 Juli mendatang di kota Tunis, dalam satu pementas bersama dengan grup musik bambu dari Bandung, Saung Angklung Udjo. (ZG/K004)
COPYRIGHT © 2010
Olahraga Sambut HUT RI
Pertandingan Olahraga Sambut Ulang Tahun RI di Moskow
Senin, 19 Juli 2010 06:05 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 331 kali
London (ANTARA News) - Gelaran berbagai pertandingan olahraga dalam rangka HUT RI dimulai meski peringatan Hari Kemerdekaan RI masih sebulan lagi, hal ini mengingat awal bulan depan memasuki bulan suci Ramadhan.
Konselor Pensosbud KBRI Moskow, M. Aji Surya dalam keterangannya kepada koresponden Antara London, Senin mengatakan berbagai pertandingan olahraga di Moskow digelar di Sporthall Universitas Bauman.
Empat pertandingan dilakukan secara simultan seperti badminton, tenis meja, volley dan permainan anak-anak dimulai pada pukul 10 pagi dan berakhir pada 15.00, ujar M Aji Surya.
Dikatakannya olahraga ini meski menggunakan otot, namun hanya berhadiah doa. Para pemainpun mempersiakan diri untuk melakukannya sekedar untuk fun semata.
Udara Moskow yang sedang menuju puncak panas yang temperature terus merangkak mencapai angka 39 derajat Celcius mengiringi pertandingan di dalam ruangan.
Sekitar 100an peserta yang terdiri dari mahasiswa, masyarakat dan staf KBRI dituntut memiliki stamina yang prima. Satu kali pertandingan , dijamin keringat sudah bercucuran. "Lihat nih, keringat saya sejagung-jagung," kata Tursino selesai main badminton.
Sementara itu Dubes Hamid Awaludin menyatakan bahwa ada saatnya olahraga dibuat serileks mungkin dan tidak menimbulkan ketegangan. Semua akan senang tetapi mendapatkan puncak tujuan yakni kesehatan jasmani. Karenanya, tidak perlu ada ketegangan apalagi perselisihan.
"Kita semua yang menang dalam pertandingan ini saya jamin tidak akan dikirim ke ASEAN Games ataupun Olimpiade," ujar Dubes yang disambut dengan tepuk tangan dan gelak tawa.
Dengan prinsip tersebut, maka tidak disediakan hadiah apapun oleh panitia pertandingan. Bagi yang kalah mendapatkan kesehatan dan yang menang disediakan segudang doa. "Bagi pemenang, mari kita doakan agar sehat wal afiat sampai akhir hayat. Wassalam," ujar Dubes Hamid Awaludin.
Menurut M. Aji Surya, pertandingan cukup melelahkan, bukan hanya karena di dalam gedung tanpa AC di musim panas, namun karena sehari sebelumnya para pemain juga mengikuti pertandingan olahraga dalam rangka ulang tahun ASEAN yang diikuti 250an peserta.(ZG/K004)
COPYRIGHT © 2010
Senin, 19 Juli 2010 06:05 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 331 kali
London (ANTARA News) - Gelaran berbagai pertandingan olahraga dalam rangka HUT RI dimulai meski peringatan Hari Kemerdekaan RI masih sebulan lagi, hal ini mengingat awal bulan depan memasuki bulan suci Ramadhan.
Konselor Pensosbud KBRI Moskow, M. Aji Surya dalam keterangannya kepada koresponden Antara London, Senin mengatakan berbagai pertandingan olahraga di Moskow digelar di Sporthall Universitas Bauman.
Empat pertandingan dilakukan secara simultan seperti badminton, tenis meja, volley dan permainan anak-anak dimulai pada pukul 10 pagi dan berakhir pada 15.00, ujar M Aji Surya.
Dikatakannya olahraga ini meski menggunakan otot, namun hanya berhadiah doa. Para pemainpun mempersiakan diri untuk melakukannya sekedar untuk fun semata.
Udara Moskow yang sedang menuju puncak panas yang temperature terus merangkak mencapai angka 39 derajat Celcius mengiringi pertandingan di dalam ruangan.
Sekitar 100an peserta yang terdiri dari mahasiswa, masyarakat dan staf KBRI dituntut memiliki stamina yang prima. Satu kali pertandingan , dijamin keringat sudah bercucuran. "Lihat nih, keringat saya sejagung-jagung," kata Tursino selesai main badminton.
Sementara itu Dubes Hamid Awaludin menyatakan bahwa ada saatnya olahraga dibuat serileks mungkin dan tidak menimbulkan ketegangan. Semua akan senang tetapi mendapatkan puncak tujuan yakni kesehatan jasmani. Karenanya, tidak perlu ada ketegangan apalagi perselisihan.
"Kita semua yang menang dalam pertandingan ini saya jamin tidak akan dikirim ke ASEAN Games ataupun Olimpiade," ujar Dubes yang disambut dengan tepuk tangan dan gelak tawa.
Dengan prinsip tersebut, maka tidak disediakan hadiah apapun oleh panitia pertandingan. Bagi yang kalah mendapatkan kesehatan dan yang menang disediakan segudang doa. "Bagi pemenang, mari kita doakan agar sehat wal afiat sampai akhir hayat. Wassalam," ujar Dubes Hamid Awaludin.
Menurut M. Aji Surya, pertandingan cukup melelahkan, bukan hanya karena di dalam gedung tanpa AC di musim panas, namun karena sehari sebelumnya para pemain juga mengikuti pertandingan olahraga dalam rangka ulang tahun ASEAN yang diikuti 250an peserta.(ZG/K004)
COPYRIGHT © 2010
Minggu, 18 Juli 2010
PRASASTI JAKARTA
JAKARTA TERTERA PADA PRASASTI FERTRAKOS HUNGARIA
London, 18/7 (ANTARA) - Prasasti bertuliskan "Jakarta 11.000 KM" di kota Fertrakos, Hungaria yang berada di pinggir danau besar Ferto-to yang terletak antara Hungaria dan Austria, diresmikan Dubes RI di Budapest Mangasi Sihombing bersama Walikota Fertrakos.
Acara persermian prasasti Jakarta 11.000 Km itu dihadiri pejabat pemerintah daerah Fertrakos dan kota-kota sekitarnya serta Brigjen Pol. Dr. Zoltan Pantali dan Ibolya Pantali, Walikota Nagycenk, Otto Ivan Kovics, dan Wakil Walikota Sopron, Geza Abdai serta tokoh masyarakat setempat.
Sekretaris kedua, KBRI Budapest, Annie Puspa Rosita mengatakan Minggu, kota wisata Fertrakos setiap tahunnya menerima ribuan turis. Pemda setempat membuat sebuah prasasti batu di sebuah bukit yang dipahat nama-nama kota terkenal Hungaria dan manca negara diantaranya kota Jakarta.
Dikatakannya dari bukit Fertrakos pengunjung dapat menikmati panorama indah yang menembus jauh wilayah Austria bahkan di balik danau Ferto-to.
Dalam kunjungan ke Fertrakos, Dubes Mangasi Sihombing menyarankan agar kota Jakarta dapat diterakan dalam prasasti mengingat hubungan baik Indonesia-Hungaria. Usulan ini disepakati kedua pihak.
Bukit Fertrakos juga terkenal karena teater kotanya dibangun dalam gua Fertrakos yang merupakan bekas penambangan batu untuk membangun istana dan bangunan-bangunan penting dalam abad yang silam.
Walikota Fertrakos, Janos Pal Kovits menyambut baik dengan akan digelarnya kesenian Indonesia dalam teater ini dalam beberapa waktu yang tidak lama lagi.
Sebelum peresmian prasasti tersebut, Dubes berkesempatan memberikan ceramah di lembaga pemasyarakatan Sopron Kohida pimpinan Brigjen Pol. Pantali untuk pencerahan spiritual dan pengetahuan umum bagi para napi.
Ceramah ini merupakan yang ketiga kalinya oleh Dubes Mangasi Sihomning, kata Annie Puspa.
***4***
(U-ZG)
(T.H-ZG/B/S004/S004) 18-07-2010 10:49:46
London, 18/7 (ANTARA) - Prasasti bertuliskan "Jakarta 11.000 KM" di kota Fertrakos, Hungaria yang berada di pinggir danau besar Ferto-to yang terletak antara Hungaria dan Austria, diresmikan Dubes RI di Budapest Mangasi Sihombing bersama Walikota Fertrakos.
Acara persermian prasasti Jakarta 11.000 Km itu dihadiri pejabat pemerintah daerah Fertrakos dan kota-kota sekitarnya serta Brigjen Pol. Dr. Zoltan Pantali dan Ibolya Pantali, Walikota Nagycenk, Otto Ivan Kovics, dan Wakil Walikota Sopron, Geza Abdai serta tokoh masyarakat setempat.
Sekretaris kedua, KBRI Budapest, Annie Puspa Rosita mengatakan Minggu, kota wisata Fertrakos setiap tahunnya menerima ribuan turis. Pemda setempat membuat sebuah prasasti batu di sebuah bukit yang dipahat nama-nama kota terkenal Hungaria dan manca negara diantaranya kota Jakarta.
Dikatakannya dari bukit Fertrakos pengunjung dapat menikmati panorama indah yang menembus jauh wilayah Austria bahkan di balik danau Ferto-to.
Dalam kunjungan ke Fertrakos, Dubes Mangasi Sihombing menyarankan agar kota Jakarta dapat diterakan dalam prasasti mengingat hubungan baik Indonesia-Hungaria. Usulan ini disepakati kedua pihak.
Bukit Fertrakos juga terkenal karena teater kotanya dibangun dalam gua Fertrakos yang merupakan bekas penambangan batu untuk membangun istana dan bangunan-bangunan penting dalam abad yang silam.
Walikota Fertrakos, Janos Pal Kovits menyambut baik dengan akan digelarnya kesenian Indonesia dalam teater ini dalam beberapa waktu yang tidak lama lagi.
Sebelum peresmian prasasti tersebut, Dubes berkesempatan memberikan ceramah di lembaga pemasyarakatan Sopron Kohida pimpinan Brigjen Pol. Pantali untuk pencerahan spiritual dan pengetahuan umum bagi para napi.
Ceramah ini merupakan yang ketiga kalinya oleh Dubes Mangasi Sihomning, kata Annie Puspa.
***4***
(U-ZG)
(T.H-ZG/B/S004/S004) 18-07-2010 10:49:46
Sabtu, 17 Juli 2010
MAHASISWA RAIH SUMMA CUM LAUDE
Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Summa Cum Laude di Maroko
Sabtu, 17 Juli 2010 06:11 WIB | Peristiwa | Pendidikan/Agama | Dibaca 884 kali
London (ANTARA News) - Arip Rahman, mahasiswa Indonesia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude usai mempertahankan disertasinya berjudul "Syeikh Ahmad Deedat dan Upayanya Dalam Perdebatan Agama" dalam sidang yang berlangsung selama tiga jam di Auditorium Ahmed Hijji Fak. Adab dan Ilmu Humaniora , Universitas Mohamed V, Rabat, Maroko.
Arip yang juga bekerja sebagai lokal staf KBRI Rabat, Maroko mempertahankan disertasinya di hadapan empat tim penguji yang terdiri dari Ketua Prof. Dr. Mohamed Amin Al Ismaily, Promotor Prof. Dr. Jamal Al Sa'edy dan dua anggota Prof. Dr. Ahmad Al Boukily dan Prof. Dr. Ahmad Al Zeyadi, ujar Sekretaris III / Pelaksana Fungsi Pensosbud, Rahmat Azhari dalam keterangananya kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Rahmat Azhari mengatakan dalam acara sidang tersebut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta ibu Mahsusoh Ujiati , keluarga besar KBRI Rabat dan civitas akademika Universitas Mohamed V Rabat serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan Maroko.
Dalam disertasi setebal 400-an halaman yang ditulis dalam bahasa Arab, penulis mengemukakan pentingnya mendalami persoalan dialog dan perdebatan agama. Pemilihan Syeikh Ahmad Deedat sebagai tokoh yang dikaji dalam disertasi ini, menurut penulis, adalah karena perjuangan Syeikh dalam dialog antar agama khususnya antara Islam-Kristen layak mendapat apresiasi dan patut diteladani.
Sejak kemunculannya, Islam mempunyai karakteristik sebagai agama dakwah dan dialog yang mempunyai fitrah untuk dapat menembus batas negara, suku, bangsa dan bahasa. Dengan bekal basis teologi yang cukup dalam memahami Islam sebagai agama tauhid dan dakwah diharapkan umat Islam dapat menyampaikan pesan Islam yang Rahmatan lil `Alamin kepada pemeluk agama lainnya.
Disebutkan Syeikh yang mendalami persoalan-persoalan keagamaan dan banyak membaca literatur serta kitab suci agama lain secara otodidak. Oleh karenanya metode yang digunakan mempunyai karakteristik berbeda dari tokoh dialog agama lainnya yaitu cenderung lebih bebas, banyak menggunakan gaya bahasa cerita dan narasi namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam berdialog.
Perjuangan dakwahnya ditujukan untuk melawan gerakan kristenisasi yang sangat gencar dilakukan oleh para misionaris Kristen di kawasan Afrika.
Syeikh Ahmad Deedat lahir di India tahun 1918 dan kemudian menetap di Afrika Selatan sejak umur 9 tahun hingga wafat pada 2005. Beliau adalah pendiri Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan mendapat penghargaan King Faisal Award tahun 1986 atas dedikasinya selama 50 tahun berdakwah dan berdialog dengan umat agama lain. (U-ZG/R009)
Sabtu, 17 Juli 2010 06:11 WIB | Peristiwa | Pendidikan/Agama | Dibaca 884 kali
London (ANTARA News) - Arip Rahman, mahasiswa Indonesia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude usai mempertahankan disertasinya berjudul "Syeikh Ahmad Deedat dan Upayanya Dalam Perdebatan Agama" dalam sidang yang berlangsung selama tiga jam di Auditorium Ahmed Hijji Fak. Adab dan Ilmu Humaniora , Universitas Mohamed V, Rabat, Maroko.
Arip yang juga bekerja sebagai lokal staf KBRI Rabat, Maroko mempertahankan disertasinya di hadapan empat tim penguji yang terdiri dari Ketua Prof. Dr. Mohamed Amin Al Ismaily, Promotor Prof. Dr. Jamal Al Sa'edy dan dua anggota Prof. Dr. Ahmad Al Boukily dan Prof. Dr. Ahmad Al Zeyadi, ujar Sekretaris III / Pelaksana Fungsi Pensosbud, Rahmat Azhari dalam keterangananya kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Rahmat Azhari mengatakan dalam acara sidang tersebut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta ibu Mahsusoh Ujiati , keluarga besar KBRI Rabat dan civitas akademika Universitas Mohamed V Rabat serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan Maroko.
Dalam disertasi setebal 400-an halaman yang ditulis dalam bahasa Arab, penulis mengemukakan pentingnya mendalami persoalan dialog dan perdebatan agama. Pemilihan Syeikh Ahmad Deedat sebagai tokoh yang dikaji dalam disertasi ini, menurut penulis, adalah karena perjuangan Syeikh dalam dialog antar agama khususnya antara Islam-Kristen layak mendapat apresiasi dan patut diteladani.
Sejak kemunculannya, Islam mempunyai karakteristik sebagai agama dakwah dan dialog yang mempunyai fitrah untuk dapat menembus batas negara, suku, bangsa dan bahasa. Dengan bekal basis teologi yang cukup dalam memahami Islam sebagai agama tauhid dan dakwah diharapkan umat Islam dapat menyampaikan pesan Islam yang Rahmatan lil `Alamin kepada pemeluk agama lainnya.
Disebutkan Syeikh yang mendalami persoalan-persoalan keagamaan dan banyak membaca literatur serta kitab suci agama lain secara otodidak. Oleh karenanya metode yang digunakan mempunyai karakteristik berbeda dari tokoh dialog agama lainnya yaitu cenderung lebih bebas, banyak menggunakan gaya bahasa cerita dan narasi namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam berdialog.
Perjuangan dakwahnya ditujukan untuk melawan gerakan kristenisasi yang sangat gencar dilakukan oleh para misionaris Kristen di kawasan Afrika.
Syeikh Ahmad Deedat lahir di India tahun 1918 dan kemudian menetap di Afrika Selatan sejak umur 9 tahun hingga wafat pada 2005. Beliau adalah pendiri Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan mendapat penghargaan King Faisal Award tahun 1986 atas dedikasinya selama 50 tahun berdakwah dan berdialog dengan umat agama lain. (U-ZG/R009)
MAHASISWA RAIH SUMMA CUM LAUDE
Mahasiswa Indonesia Raih Gelar Summa Cum Laude di Maroko
Sabtu, 17 Juli 2010 06:11 WIB | Peristiwa | Pendidikan/Agama | Dibaca 884 kali
London (ANTARA News) - Arip Rahman, mahasiswa Indonesia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude usai mempertahankan disertasinya berjudul "Syeikh Ahmad Deedat dan Upayanya Dalam Perdebatan Agama" dalam sidang yang berlangsung selama tiga jam di Auditorium Ahmed Hijji Fak. Adab dan Ilmu Humaniora , Universitas Mohamed V, Rabat, Maroko.
Arip yang juga bekerja sebagai lokal staf KBRI Rabat, Maroko mempertahankan disertasinya di hadapan empat tim penguji yang terdiri dari Ketua Prof. Dr. Mohamed Amin Al Ismaily, Promotor Prof. Dr. Jamal Al Sa'edy dan dua anggota Prof. Dr. Ahmad Al Boukily dan Prof. Dr. Ahmad Al Zeyadi, ujar Sekretaris III / Pelaksana Fungsi Pensosbud, Rahmat Azhari dalam keterangananya kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Rahmat Azhari mengatakan dalam acara sidang tersebut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta ibu Mahsusoh Ujiati , keluarga besar KBRI Rabat dan civitas akademika Universitas Mohamed V Rabat serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan Maroko.
Dalam disertasi setebal 400-an halaman yang ditulis dalam bahasa Arab, penulis mengemukakan pentingnya mendalami persoalan dialog dan perdebatan agama. Pemilihan Syeikh Ahmad Deedat sebagai tokoh yang dikaji dalam disertasi ini, menurut penulis, adalah karena perjuangan Syeikh dalam dialog antar agama khususnya antara Islam-Kristen layak mendapat apresiasi dan patut diteladani.
Sejak kemunculannya, Islam mempunyai karakteristik sebagai agama dakwah dan dialog yang mempunyai fitrah untuk dapat menembus batas negara, suku, bangsa dan bahasa. Dengan bekal basis teologi yang cukup dalam memahami Islam sebagai agama tauhid dan dakwah diharapkan umat Islam dapat menyampaikan pesan Islam yang Rahmatan lil `Alamin kepada pemeluk agama lainnya.
Disebutkan Syeikh yang mendalami persoalan-persoalan keagamaan dan banyak membaca literatur serta kitab suci agama lain secara otodidak. Oleh karenanya metode yang digunakan mempunyai karakteristik berbeda dari tokoh dialog agama lainnya yaitu cenderung lebih bebas, banyak menggunakan gaya bahasa cerita dan narasi namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam berdialog.
Perjuangan dakwahnya ditujukan untuk melawan gerakan kristenisasi yang sangat gencar dilakukan oleh para misionaris Kristen di kawasan Afrika.
Syeikh Ahmad Deedat lahir di India tahun 1918 dan kemudian menetap di Afrika Selatan sejak umur 9 tahun hingga wafat pada 2005. Beliau adalah pendiri Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan mendapat penghargaan King Faisal Award tahun 1986 atas dedikasinya selama 50 tahun berdakwah dan berdialog dengan umat agama lain. (U-ZG/R009)
Sabtu, 17 Juli 2010 06:11 WIB | Peristiwa | Pendidikan/Agama | Dibaca 884 kali
London (ANTARA News) - Arip Rahman, mahasiswa Indonesia berhasil meraih gelar doktor dengan predikat Summa Cum Laude usai mempertahankan disertasinya berjudul "Syeikh Ahmad Deedat dan Upayanya Dalam Perdebatan Agama" dalam sidang yang berlangsung selama tiga jam di Auditorium Ahmed Hijji Fak. Adab dan Ilmu Humaniora , Universitas Mohamed V, Rabat, Maroko.
Arip yang juga bekerja sebagai lokal staf KBRI Rabat, Maroko mempertahankan disertasinya di hadapan empat tim penguji yang terdiri dari Ketua Prof. Dr. Mohamed Amin Al Ismaily, Promotor Prof. Dr. Jamal Al Sa'edy dan dua anggota Prof. Dr. Ahmad Al Boukily dan Prof. Dr. Ahmad Al Zeyadi, ujar Sekretaris III / Pelaksana Fungsi Pensosbud, Rahmat Azhari dalam keterangananya kepada koresponden Antara London, Sabtu.
Rahmat Azhari mengatakan dalam acara sidang tersebut hadir Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja beserta ibu Mahsusoh Ujiati , keluarga besar KBRI Rabat dan civitas akademika Universitas Mohamed V Rabat serta mahasiswa-mahasiswa Indonesia dan Maroko.
Dalam disertasi setebal 400-an halaman yang ditulis dalam bahasa Arab, penulis mengemukakan pentingnya mendalami persoalan dialog dan perdebatan agama. Pemilihan Syeikh Ahmad Deedat sebagai tokoh yang dikaji dalam disertasi ini, menurut penulis, adalah karena perjuangan Syeikh dalam dialog antar agama khususnya antara Islam-Kristen layak mendapat apresiasi dan patut diteladani.
Sejak kemunculannya, Islam mempunyai karakteristik sebagai agama dakwah dan dialog yang mempunyai fitrah untuk dapat menembus batas negara, suku, bangsa dan bahasa. Dengan bekal basis teologi yang cukup dalam memahami Islam sebagai agama tauhid dan dakwah diharapkan umat Islam dapat menyampaikan pesan Islam yang Rahmatan lil `Alamin kepada pemeluk agama lainnya.
Disebutkan Syeikh yang mendalami persoalan-persoalan keagamaan dan banyak membaca literatur serta kitab suci agama lain secara otodidak. Oleh karenanya metode yang digunakan mempunyai karakteristik berbeda dari tokoh dialog agama lainnya yaitu cenderung lebih bebas, banyak menggunakan gaya bahasa cerita dan narasi namun tetap memperhatikan kaidah-kaidah ilmiah dalam berdialog.
Perjuangan dakwahnya ditujukan untuk melawan gerakan kristenisasi yang sangat gencar dilakukan oleh para misionaris Kristen di kawasan Afrika.
Syeikh Ahmad Deedat lahir di India tahun 1918 dan kemudian menetap di Afrika Selatan sejak umur 9 tahun hingga wafat pada 2005. Beliau adalah pendiri Islamic Propagation Centre International (IPCI) dan mendapat penghargaan King Faisal Award tahun 1986 atas dedikasinya selama 50 tahun berdakwah dan berdialog dengan umat agama lain. (U-ZG/R009)
Langganan:
Postingan (Atom)