Senin, 08 Juli 2013

AZAN DI TV

TV INGGRIS TAYANGKAN AZAN SUBUH SELAMA RAMADHAN

     Oleh Zenita Gibbon

   London, 4/7 (Antara) - Seminggu menjelang bulan suci Ramadhan, stasiun televisi Inggris Channel 4, menyebutkan akan menayangkan azhan shubu dan juga beberapa program Ramadhan lainnya, layaknya yang sering dijumpai masyarakat Indonesia di tanah air.

        "Saya sangat gembira mendengar Channel 4 UK akan menayangkan adzan shubuh dan beberapa program ramadhan yang lain," demikian Idham Ananta, staf Pengajar Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA di Gadjah Mada University yang tengah menuntut ilmu di University of Essex kepada ANTARA London, Kamis.

       Channel 4 di Inggris menayangkan laporan khusus mengenai pengalaman Muslim di Inggris dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan khususnya di musim panas yang akan dimulai pada hari Senin dalam prime time pada pukul delapan malam.

       Tayangan yang disebut dengan program '4Ramadan,' dengan judul 'A Very British Ramadan' diikuti dengan tayangan Ramadan Diaries setiap Selasa pukul 7.55 malam dan dimulai Selasa tanggal 9 Juli.

       Idham Ananta, yang pernah belajar di Universitas Gadjah Mada dan mengisi pengajian di KBRI London mengakui problem kami yang puasa di negeri empat musim seperti  Inggris selain durasinya yang panjang juga  kurangnya 'penerimaan' terhadap aktivitas puasa dan ibadah di bulan Ramadhan ini.

       Dikatakannya keputusan Channel4 ini seperti sambutan yang hangat Inggris terhadap mereka yang berpuasa. Dan ini harus diapresiasi.

       Menurut suami Kusmarwanti Noe, setelah kejadian pembunuhan di Woolwich, program semacam ini perlu diperkenalkan ke masyarakat Inggris secara luas, agar gambaran Islam yang diterima bisa lebih sesuai dengan keindahan, keagungan, dan kesantunan agama Islam sendiri.

       "Hal ini tentu akan membuat kami, para muslim yang tinggal disini merasa lebih at home," demikian ayah satu putra dan putri
  Idham Ananta mengakui puasa panjang di UK membutuhkan persiapan ekstra, pertama persiapan fisik, karena harus berpuasa hampir 19 jam, dan volume pekerjaan tidak berkurang. Kedua, persiapan mental juga karena puasa terjadi di musim panas, dimana 'gangguan' nya lebih lengkap.

       Ketiga, manajemen waktu, karena jarak dari Maghrib, Tarawih hingga Sahur sangat singkat, sehingga untuk mengoptimalkan ibadah di malam hari, tanpa mengganggu aktivitas siangnya perlu manajemen dan perencanaan yang lebih rapi.

       Walaupun demikian, menurut Idham  puasa di sini biasanya juga akan meninggalkan kesan tersendiri. Rasa solidaritas yang lebih kuat antara sesama muslim akan terjalin, dan juga persahabatan yang lebih erat dengan non muslim, ketika tahu  kita berpuasa, dan mereka mencoba berinteraksi dan bertoleransi .

       Tantangannya adalah bagaimana menampilkan sosok muslim yang tetap bagus kinerjanya ketika puasa, dan tetap akrab dengan masyarakat Inggris khususnya yang tinggal di Colchester yang lebih dari 90 persen adalah penduduk asli.

       Beda dengan di London yang masyarakatnya multicultural dan bahkan di pusat perbelanjaan di Oxford Street wanita bercadar jalan beriringan dengan wanita berbusana minim.

       Idham Anata mengakui senang dengan kisah beberapa mualaf seperti adik ipar mantan Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair, Lauren Booth  yang pernah mengisi acara di Essex University dalam acara Islamic Awarness.

       Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu universal, tidak hanya untuk suku, ras, atau bangsa tertentu saja. Kenyataan bahwa salah satu keluarga pejabat teras Inggris masuk Islam juga menunjukkan bahwa Islam pun bisa berinteraksi dengan baik di kalangan elit maupun non elit.

       Banyaknya pemain sepakbola yang muslim yang saat ini berlaga di Liga Inggris juga memperlihatkan gambaran utuh bahwa Islam bisa diterima dan berinteraksi dengan semua orang secara damai, akrab, dan hangat, demikian  staf pengajar Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika FMIPA di Gadjah Mada University.***4***
(ZG)
(T.H-ZG/B/E.S. Syafei/E.S. Syafei) 04-07-2013 09:29:28

          

Tidak ada komentar: