Senin, 29 Juli 2013

PERAWAT


TENAGA PERAWAT INDONESIA BERUPAYA TEMBUS JERMAN

Oleh Zeynita Gibbons

Jakarta, 19/7 (Antara) - Delapan tenaga perawat Indonesia asal Tasikmalaya saat ini tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan di Rumah Sakit Marienhaus Klinikum, Jerman, dalam upaya menembus pasar tenaga kerja di bidang keperawatan di negara tersebut.

Pelaksanaan diklat merupakan kerja sama antara Politeknik Tasikmalaya, RS Marienhaus Klinikum, Universitas Kejuruan (Applied Sciences) Hochschule Koblenz yang difasilitasi perusahaan konsultan Jerman HMP Consulting, dan didukung Pemkot Tasikmalaya, Pusat Pendidikan dan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI serta KBRI Berlin.

Counsellor Pensosbud KBRI Berlin Ayodhia G.L. Kalake kepada Antara, Jumat, menjelaskan bahwa kedelapan tenaga perawat Tasikmalaya tersebut mengikuti program diklat yang tersebar di RS Marienhaus Klinikum, yaitu di kota Bitburg, Bad Münster, dan di Wiesbaden.

Dikatakannya pelaksanaan diklat akan berlangsung selama 10 minggu dan saat ini sudah memasuki minggu ke-7. Dari hasil evaluasi sementara, terdapat penilaian yang positif dari pihak RS Marienhaus Klinikum terhadap para perawat Tasikmalaya yang mengikut diklat.

Mereka dinilai cukup baik dalam mengikuti diklat dan praktik penanganan pasien. Kendala terberat adalah masalah penguasaan bahasa Jerman yang dinilai masih kurang. Oleh karena itu, diperlukan kursus yang lebih intensif.

Pihak Marienhaus Klinikum dan Hochschule Koblenz menyatakan adanya kebutuhan yang tinggi untuk tenaga perawat di Jerman dan keinginan mereka untuk merekrut tenaga perawat dari Indonesia.

Pihaknya menyadari terdapat perbedaan kurikulum dan tingkat akademik antara pendidikan perawat di kedua negara yang menjadi kendala bagi perekrutan tenaga perawat dari Indonesia.

Pendidikan perawat di Indonesia minimal D-3, sementara Jerman menggunakan sistem pendidikan dual system yang menggabungkan praktik magang di rumah sakit/klinik dan pendidikan keperawatan di sekolah kejuruan (professional-education on the job).

Pihak Marienhaus Klinikum dan Hochschule Koblenz menegaskan bahwa situasi itu bukan tanpa solusi. Kesenjangan (gap) yang muncul akibat perbedaan sistem pendidikan tersebut dapat dijembatani melalui on-job-training program (matrikulasi) selama sembilan bulan di rumah sakit di Jerman bagi tenaga perawat Indonesia.

Selanjutnya, tenaga perawat tersebut harus mengikuti tes akhir guna memperoleh sertifikat keperawatan yang memungkinkan mereka bekerja sebagai tenaga perawat di Jerman.

Pihak Hochschule Koblenz menawarkan program studi Master of Business Administration (MBA) selama empat semester yang dapat ditempuh setelah perawat dimaksud memperoleh sertifikat keperawatan Jerman bila perawat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di bidang manajemen keperawatan dan rumah sakit.

Pihak Politeknik Kesehatan Tasikmalaya menyampaikan harapan agar perawat Tasikmalaya yang saat ini tengah mengikuti diklat dapat langsung mengikuti on-job-training program selama semulan bulan di rumah sakit Marienhaus Klinikum.

KBRI Berlin menyebutkan program tersebut merupakan pilot project yang jika berhasil dapat selanjutnya dituangkan ke dalam satu kesepakatan kerjasama antara Politeknik Kesehatan Tasikmalaya dan Marienhaus Klinikum serta Hocschule Koblenz untuk kontinuitas pelaksanaan program ke depannya.

Program Terobosan

Dubes RI Dr. Eddy Pratomo menuturkan, sejak akhir tahun 2010, KBRI Berlin telah secara aktif mengawal inisiasi Politeknik Kesehatan Tasikmalaya untuk mengirimkan tenaga perawat Tasikmalaya bekerja di Jerman.

Dubes Eddy Pratomo melakukan pertemuan secara khusus dengan Wali Kota Tasikmalaya dan pihak-pihak terkait di Koblenz untuk merealisasikan rencana tersebut.

Berbagai penjajakan untuk merealisasikan pengiriman tenaga perawat tersebut telah dilakukan Politeknik Kesehatan Tasikmalaya melalui fasilitasi HMP Consulting (perusahaan konsultan Jerman).

Kesediaan pihak Marienhaus Klinikum untuk memberikan on-job-training program selama sembilan bulan merupakan raihan yang sangat berarti dari hasil diklat 10 minggu yang tengah diikuti kedelapan perawat Tasikmalaya saat ini.

Dikatakannya pelaksanaan on-job-training program ini merupakan terobosan yang sangat signifikan bagi upaya Indonesia menembus pasar tenaga kerja di bidang keperawatan di Jerman yang selama ini diketahui sangat sulit bagi negara non-Uni Eropa.

Menurut Ayodhia G.L. Kalake, jika kerja sama tersebut berjalan sukses, dapat ditingkatkan pada kesepakatan kerja sama bilateral antara pemerintah Indonesia dan Jerman. Hal ini sejalan dengan komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerjasama sektor kesehatan tertuang dalam Deklarasi Jakarta.

***4***
D.Dj. Kliwantoro
(T.H-ZG/B/D. Kliwantoro/D. Kliwantoro) 19-07-2013 13:39:02

Tidak ada komentar: