Selasa, 23 Desember 2008

RESESI INGGRIS RAYAKAN NATAL

RESESI TAK HALANGI MASYARAKAT INGGRIS RAYAKAN NATAL

Oleh Zeynita Gibbons

London, 23/12 (ANTARA) - Resesi yang kini melanda Kerajaan Inggris, tampaknya tidak menyurutkan minat masyarakatnya untuk merayakan Hari Natal, meskipun perayaan itu sendiri terkesan lebih banyak diwarnai dengan komersialisasi.

Natal dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran", adalah hari raya bagi umat Kristen yang jatuh tanggal 25 Desember, peringatan kelahiran Yesus Kristus.
Namun, segi komersial perayaan Natal di Kerajaan Ratu Elizabeth tersebut belakangan ini lebih kental ketimbang segi religi.

Bagaimana tidak? Sejak tiga bulan lalu, hampir semua toko menjual berbagai hadiah Natal dengan berbagai cara, seperti beli dua dapat tiga, atau diskon sampai 50 persen. Selain itu, ada pula sejumlah toko menghiasi etalenya dengan ornamen natal. Lagu Natal pun terdengar bergema di mana-mana.

Bahkan, di sepanjang jalan Oxford Street, pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari KBRI London, gedung 'superstore' ternama seperti Marks and Spencer, Debenham, Selfridges, House of Fraser, tampak dihiasi dengan lampu warna-warni.

Pasar-pasar dadakan juga muncul di beberapa daerah seperti di dekat Westminter, tidak jauh dari gedung Parlemen, dan di sekitar Big Ban.

Pasar dadakan yang dikenal dengan 'Christmas Market' itu menjual berbagai macam pernak-pernik Natal dan bahkan beberapa negara ikut dalam pameran makanan di sana, mulai dari coklat Jerman, manisan Turki, hingga kue Natal ala Swedia.

Ternyata dalam tradisi Barat, peringatan Natal mengandung aspek non-agamis, di mana segi komersial lebih kentara ketimbang segi relegius. Umat Kristiani yang melakukan misa di malam hari seperti di Indonesia, tidak terlihat di Inggris.

Tradisi Natal berasal dari kebiasaan pra-Kristen barat yang diadopsi ke dalam tradisi Kristiani, ditandai dengan datangnya Santa Claus atau Sinterklas, dan saling bertukar kartu Natal dan hadiah antara teman dan anggota keluarga.


Christmas Pudding
Minuman anggur serta kalkun panggang disertai kentang rebus dan kol mini yang dikenal dengan nama 'sprouts' dituang saus daging atau gravy, menjadi hidangan utama saat mereka berpesta-pora, ditutup dengan Christmas Pudding yang terdiri atas buah buahan plus brendi.

Pesta-pora pun tidak lengkap bila di meja tidak terdapat "Christmas Crackers", semacam kertas bulat panjang yang berisi aneka pertanyaan lucu, lengkap dengan hadiahnya.

Sebulan sebelumnya beberapa rumah penduduk Inggris pun dihias bukan hanya dengan lampu Natal, tetapi juga boneka Natal, dengan lampu-lampu yang dipasang di luar rumah.

Krisis moneter tampaknya tidak berpengaruh pada minat warga inggris untuk belanja barang, ujar Yeffry H Putra yang tengah melakukan studi banding selama tiga bulan mengenai Sensor Bawahlaut di Essex University.

Sepertinya buat orang Inggris Natal berarti waktunya untuk membeli barang setiap hari, ujar staf pengajar di Universitas Komputer Bandung (Unikom) lulusan SI ITB jurusan Teknik Fisika dan Master di ITB bidang Instrumen Kontrol iitu.

Penggemar komik dan kolektor koin itu melihat masyarakat kota Colchester, meskipun di udara dingin empat derajat celcius, tetap sibuk lalu-lalang di pusat kota.

Menurut Yeffry, Gereja Baptis di Colchester mengawali aneka kegiatannya dengan acara kopi malam bagi penduduk di sekitarnya seminggu sebelum Natal. Dana untuk ini dikumpulkan melalui beberapa amplop amal selama dua minggu.

Di sekolah-sekolah digelar drama Natal, yang menggambarkan kelahiran Yesus Kristus, sementara anak-anak berkumpul di berbagai tempat untuk menonton kabaret.

Selain itu, pengamen jalanan yang mangkal di tengah kota secara trio memainkan musik Natal dengan kualitas setara seorang maestro, Alunan musik yang mereka mainkan terdengar sangat indah, sehingga menambah ramainya lalu-lalang pengunjung.

Sementara itu, di beberapa tempat hiburan, restaurant, kampus, dan perkantoran, acara Natal disambut dengan beberapa 'Christmas Party', di mana para remaja mengenakan baju ala Sinterklas dengan warna merah.

Acara tukar-menukar kado merupakan tradisi Natal yang tidak terlupakan di kalangan masyarakat Inggris. Beberapa Mall seperti Tesco, Asda, dan restoran menawarkan paket Natal dengan harga yang murah seperti Christmas Dinner dengan ayam kalkunnya.

Dua penganan paling terkenal selama Natal, yaitu 'mince pies' dan 'Christmas pudding' yang menggunakan alkohol, semakin beralkohol semakin mahal dan enak.

Hal lain yang juga menjadi bagian dari tradisi perayaan Natal di Inggris adalah menyaksikan Ratu menyampaikan pidato melalui televisi.

Ratu Elizabeth kali pertama menyampaikan pesan Natal pada tahun 1952, setelah sang ayahnya meninggal dunia. Lima tahun kemudian, pada hari Natal tahun 1957, Ratu menyampaikan pesan Natal yang pertama melalui televisi.

"Keluarga saya sering berkumpul untuk menonton televisi, seperti yang tengah mereka lakukan saat ini, dan itulah yang saya bayangkan sekarang," kata Elizabeth, kala itu.

Kartu Natal
Bagi masyarakat Inggeris, perayaan Natal tidak lengkap rasanya bila tidak disertai dengan saling berkirim kartu Natal.

Kartu Natal pertama dicetak di London atas perintah Sir Henry Cole pada tahun 1843. Waktu itu, sekitar 1.000 lembar kartu laku dijual dengan harga 1 shilling per lembar.
Kartu Natal kemudian berkembang menjadi berbagai macam ukuran dan bahan baku. Berbagai macam gambar juga menjadi populer, seperti gambar binatang atau anak kecil yang lucu-lucu dan ada juga yang bertema keagamaan atau musim dingin.

Kantor Pos bahkan sudah mengeluarkan pengumumkan tentang waktu yang tepat mengirimkan kartu dan juga batas akhir pengiriman kartu, agar sampai di alamat yang dituju tepat waktu.

Aneka kegiatan tersebut setidaknya menggambarkan bahwa di tengah himpitan resesi ekonomi sekalipun, rakyat Inggris tetap setia meneruskan tradisinya dalam merayakan Natal.U-ZG)(T.H-ZG/B/H-KWR/H-KWR) 23-12-2008 21:08:12

Tidak ada komentar: