Senin, 10 Februari 2014

SAROTIN

SAROTIN DISOROTI "DAILY MAIL" JADI TANTANGAN JKN

Oleh Zeynita Gibbons

London, 9/2 (Antara) - Seorang ibu bernama Sarotin (46) yang terusir dari desanya di Bandung, Jawa Barat, karena menderita tumor neurofibromatosis, dan disoroti koran Inggris, Daily Mail, menjadi tantangan bagi penyedia layanan di era Jaminan Kesehatan Nasional.

"Berita itu ditulis koresponden Daily Mail, Jill Reilly," kata pengamat masalah kesehatan masyarakat Dono Widiatmoko yang juga menjadi Senior Lecturer in Evidence-Based Practice and Health Economics, School of Health and Social Care, Teesside University, Middlesbrough, kepada ANTARA London, Minggu
Dalam berita itu, Reilly menyebutkan Sarotin dipaksa meninggalkan desanya karena menderita penyakit yang dideritanya selama tiga tahun terakhir dengan wajah dan badannya tertutup benjolan-benjolan tumor.

"Bila dilihat dari sisi medis, penanganannya cukup dikuasai tenaga medis. Biasanya yang menjadi masalah adalah aspek pembiayaan dan aspek sosialnya," ujar lulusan Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) itu.

Menurut dia, aspek pembiayaan di era Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN yang dilaksanakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) seharusnya sudah mencakup semua masalah kesehatan secara paripurna.

"Namun, patut diakui di awal era JKN/BPJS ini masih banyak kekurangan dari detail tindakan yangg bisa dibayarkan oleh BPJS," ujar ayah dua putri dan satu putra hasil pernikahannya dengan Lusi Widawati yang kini menetap di Manchester itu.

Untuk kasus yang dilaporkan "Daily Mail" itu sudah termasuk kategori status penyakit yang cukup ekstrem, sehingga penanganan medisnya cukup besar dan kemungkinan tercakup pembiayaannya secara keseluruhan agak sulit.

Sementara dari aspek sosial, penyakit ini mungkin mempunyai stigma negatif yang ukup besar, sehingga masyarakat mungkin mengucilkan penderitanya dari pergaulan sosial, karena secara visual penyakit ini tampak menjijikkan dan aneh.

Sarotin yang kini tinggal di kawasan Jakarta Timur itu tetap belum terobati tumornya dan penderita merasa tak mampu mencari pengobatan untuk penyakitnya itu.

Kisah Sarotin yang ditulis oleh Daily Mail lengkap dengan foto Sarotin yang wajahnya tertutup oleh tumor itu menunjukkan pengakuan penderita yang tak mampu mencari pengobatan untuk penyakitnya.

Neurofibromatosis adalah penyakit genetik berupa pertumbuhan jaringan tubuh tak terkendali di sepanjang syaraf tepi penderita. Sarotin menderita penyakit ini selama tiga tahun terakhir. Kini wajah dan badannya tertutup benjolan-benjolan tumor.

Kasus Sarotin bukan satu-satunya di Indonesia, apalagi di dunia. Kasus lain ditemukan di Jawa Timur, yakni Slamet dari Nguntoronadi, Magetan yang mengalami kondisi yang sama dengan Sarotin sejak 1991, namun Slamet mendapat bantuan dari tetangga yang baik hati dengan membuatkan grup untuk pengumpulan dana di Facebook.

Pada November 2013, foto Vinicio Riva yang juga mengalami kondisi serupa dengan Sarotin menjadi sorotan dunia ketika dia disambut hangat oleh Paus Fransiskus di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. ***3*** (ZG)
(T.H-ZG/B/E.M. Yacub/E.M. Yacub) 09-02-2014 19:54:19

Tidak ada komentar: