Selasa, 05 Desember 2017

PARIS

INDONESIA BELAJAR MENARIK WISATA MUSEUM DI PARIS
     Oleh Zeynita Gibbons

    London, 25/11 (Antara) - Indonesia melalui KBRI Paris, Prancis belajar menarik minat kunjungan wisata museum yang juga berpotensi untuk meningkatkan pendapatan keuangan pemerintah pusat maupun daerah, Pensosbud KBRI Paris Jane Runkat melaporkan kepada Antara London, Jumat.
         Hal itu mengutip Dubes RI di Paris Hotmangaradja Pandjaitan dalam acara dialog budaya menampilkan co-founder Museum Pasifika Nusa Dua Bali, Philippe Augier, serta Rully Sukarno dan Prof Surya Rosa Putra dari KBRI setempat, Kamis (23/11).
         "Wisata museum atau berkunjung ke museum mempunyai potensi yang cukup besar tidak saja untuk pendidikan, tapi juga hiburan, dan tentunya dapat menjadi pemasukan keuangan pemerintah pusat maupun daerah," kata Hotmangaradja Pandjaitan.
         Pensosbud KBRI Paris Jane Runkat melaporkan, dialog budaya itu dihadiri 80 peserta dari kalangan pecinta seni, kolektor, kritikus, museum dan galeri, akademisi di Prancis.
         Lebih lanjut Dubes Hotmangaradja mengatakan bila dibandingkan  pengunjung seluruh museum di Indonesia yang berjumlah 10 juta per tahun, hampir sama dengan jumlah pengunjung yang datang ke Museum Louvre Paris. Padahal Museum Louvre hanya satu dari sekitar 44 ribu museum yang ada di seluruh Prancis. Sementara salah satu museum terbaik di Indonesia yaitu Museum Nasional di Jakarta atau populer disebut Museum Gajah, hanya dikunjungi sekitar 400 ribu orang tahun 2016. "Ini masih kurang dari jumlah pengunjung pameran pelukis Frédéric Bazille di Museum Orsay Paris, yang dikunjungi 426 ribu orang selama November 2016 - Maret 2017," ujarnya.
         Museum Centre Pompidou di Kota Metz, 350 km dari Paris, didatangi 500 ribu pengunjung per tahun. Untuk itu Dubes Pandjaitan menyebutkan perlunya peningkatan SDM, penggunaan teknologi, dan manajemen bagi perbaikan museum di Indonesia. Dikatakan penting digali kerja sama dengan Prancis sebagai pionir permuseuman dunia. Kerja sama Indonesia-Prancis terakhir tercatat antara Museum Guimet Paris dengan Museum Nasional Jakarta pada 2009.
         Sementara itu co-founder Museum Pasifika Nusa Dua Bali, Philippe Augier menjelaskan tentang misi seni dan budaya Museum Pasifika di Nusa Dua, Kabupaten Badung itu. Tinggal di Indonesia selama 30 tahun telah menumbuhkan ketertarikan Philippe Augier atas seni Indonesia, khususnya Bali yang dianggapnya sebagai pusat Asia-Pasifik, titik tengah antara Indochina dan Polinesia.
         Ia pun menceritakan tantangan mendirikan dan mengelola Museum Pasifika sejak tahun 2006 tidak hanya dari sisi kualitas benda seni yang dipamerkan, tapi juga dalam menjalin jaringan yang kuat dengan pelaku sektor pariwisata, pendidikan dan budaya.
         Termasuk di dalamnya adalah komunikasi dengan hotel, seniman, kolektor dan kritikus, media, serta pemerintah setempat.
         Kehadiran Philippe di Paris adalah untuk memperkenalkan bukunya yang berjudul "Museum Pasifika: Transcultural Expressions Tahiti-Bali". Ia juga didampingi kritikus seni senior Prancis, Yann le Pichon.
         Pemerintah Prancis telah berkomitmen untuk mengeluarkan anggaran sebesar 3,2 Miliar dolar AS guna meningkatkan sektor pariwisata tahun 2017. Angka ini naik 6,6 persen dari tahun 2016. Pendanaan museum mendapatkan kenaikan 5 persen.

         Hal ini dilakukan untuk menggenjot jumlah wisatawan yang turun akibat rangkaian serangan teror di Prancis. Pada semester pertama 2016, wisatawan ke Kota Paris turun 1 juta orang dan hilangnya pemasukan sebesar 841 Juta US Dollar. (ZG) ***4***
(T.H-ZG/C/T. Susilo/T. Susilo) 25-11-2017 05:37:42

Tidak ada komentar: