Rabu, 13 Februari 2013

SWEDIA



WANITA BERBAGAI BANGSA KAGUMI MUTIARA ASAL INDONESIA

          Stockholm, 13/2 (ANTARA) - Wanita berbagai bangsa yang ada di Stockholm,  Swedia mengagumi perhiasan yang terbuat dari mutiara karya disainer perhiasan asal Indonesia Nunik Anurningsih,  dalam acara pertemuan "Women International Club (WIC)"  digelar di Wisma Duta KBRI Stockholm, Selasa siang.

         "Its very beautiful," ujar Sofia Ericson, istri Dubes Australia di Swedia usai menyaksikan presentasi mengenai mutiara yang disampaikan Nunik Anurningsih dalam acara pertemuan yang diadakan Dharma Wanita KBRI Stockholm kepada ANTARA London, Rabu.

         Nunik Anurningsih sebelumnya menjelaskan mengenai "Indonesian South Sea Pearls," mulai dari geografi, sejarah hingga proses budidaya  mutiara yang dilakukan peternak di Indonesia dihadapan lebih dari 30 istri dutabesar yang ada di Swedia dan juga dihadiri Dubes RI di Stockholm Juniarta Sastrawan.

         Dikatakannya Indonesia memproduksi sekitar 53 persen dari produksi mutiara dunia, sayangnya dunia kurang mengetahui bahwa sebagian besar mutiara yang digunakan untuk perhiasan berasal dari Indonesia, ujar anggota Asosiasi Budidaya Mutiara  Indonesia.

         "Saya Ingin memperkenalkan mutiara Indonesia ke seluruh dunia," ujar ibu dua putra dan seorang putri yang berangkat dewasa yang menetap di daerah Oxford Inggris.

         Nunik bercita cita ingin memperkenalkan keindahan dan kekayaan Indonesia kepada  dunia melalui disain inovatif perhiasan yang mengunakan mutiara dalam bentuk kalung, gelang dan cincin dan giwang, manset buat pria, kancing  dan bros cantik yang terinspirasi dari kekayaan flora dan fauna Indonesia.

         Salah satunya dengan memenuhi undangan dari berbagai instansi dan perwakilan Indonesia di seluruh dunia dalam upaya  mensosialisasikan keindahan mutiara Indonesia yang sering disebut dengan Indonesia South Sea Pearl.

         Seperti pada Minggu lalu Nunik yang menjadi pendiri  Yayasan Segitingga Terumbu Karang atau Coral Triangle Community Fondation di Wakatobi menjadi pembicara dalam pertemuan anggota Anglo Indonesia Society di London yang anggotanya sebagian besar masyarakat Inggris.

         Selain itu dalam kunjungannya di Stockholm memenuhi undangan pengurus Dharwa Wanita KBRI Swedia, Ninuk mensosialisasikan mutiara Indonesia kepada anggota Dharma Wanita, serta para istri dutabesar asing di Swedia juga kepada anggota Women Internasional Society di Stokcholm serta diaspora yang ada di Swedia.

         Dalam tiga event yang diadakan oleh KBRI di Stockholm dan Dharma Wanita Persatuan  respon dari para undangan yang hadir menunjukkan perartian yang sangat besar dan bahkan sangat mengagumi mutiara yang didisain menjadi berbagai perhiasan. 
    Istri Dubes Australia di Swedia, Sofia Ericson, mengakui presentasi yang dibawakan oleh Ninuk Anurningsih mengenai asal usul mutiara sangat menarik dan ilmiah.

         "Kami di Swedia baru pertama kalinya mengetahui proses terjadinya mutiara," ujar Sofia yang berasal dari Swedia yang baru tahu bedanya antara mutiara yang dihasilkan dari air tawar dan mutiara yang terbentuk dari alam.

         Diakuinya tidak heran bila proses pembentukan mutiara membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun mulai dari pembibitan kerang pinctada maksima dan akhirnya menjadi perhiasan yang sangat indah ditangan Nunik. 
    Menurut Sofia, disain perhiasan yang dibuat  Nunik sangat menarik dan atraktif bahkan lucu dengan bentuk disain perhiasan yang berbentuk burung dengan bentuk mutiara yang alami.   
    Hal yang sama juga disampaikan istri Dutabesar Irak, Ny Arije El Aina sangat senang bisa mengetahui asal usul terbentuknya mutiara dan akhirnya menjadi perhiasan yang menarik.

         Ny Arije El Aini yang membeli cincin yang bermatakan mutiara itu mengakui ternyata mutiara juga mempunyai spectrum warna yang luas bukan hanya warna putih yang selama ini dikenal tetapi juga tetapi juga cream , silver, pink,   jellow, champagne dan bahkan ada yang berwarna emas.

         "Presentasi yang dibawakan Nunik sangat berarti dalam menambah ilmu pengetahuan saya mengenai mutiara," ujar Arije yang mengakui bahwa tidak heran harga mutiara relative mahal yang memang membutuhkan waktu lama.

         Sementara itu Istri Dubes Perancis Muge Lacroix mengatakan presentasi yang disampaikan Ninuk sangat menarik. "Its very interesting," ujarnya menambahkan bahwa sekarang ia banyak mengetahui mengenai mutiara.

         Dalam acara yang diadakan Dutabesar RI di Stockholm dan Ny Hanna Juniarta Sastrawan yang dihadiri istri diplomat berbagai bangsa yang ada di Stockholm mengatakan kehadiran perancang perhiasan Nunik Arnuningsih sangat berrati dalam memperkenalkan seni budaya Indonesia.

         "Saya ingin sekali mempromosikan Indonesia kepada orang Swedia khususnya kalangan diplomatic dan wanita berbagai bangsa melalui seni dan budaya," ujar ibu tiga putri yang masih belia. 
    Ny Hanna yang senang menari pun aktif dalam mengalang kelompok pemain gamelan dan tari dan bahkan pernah mentas bermain gamelan pada perayaan Hari kemerdekaan RI tahun lalu di gedung kesenian di kota Stockholm.

         Nunik membawa perhiasan karyanya terdiri dari kalung berhiasan mutiara, gelang yang disebutnya dengan sahabat, anting anting serta bros yang juga bisa dipakai sebagai kalung serta bros berupa semut yang banyak diminati oleh undangan.

         Mimpinya adalah mendirikan museum mutiara di Indonesia, namun demikian ia membutuhkan dukungan banyak  pihak untuk dapat mewujudkannya.

    ***3***
(ZG)
(T.H-ZG/B/M. Yusuf/M. Yusuf) 13-02-2013 05:52:58

Tidak ada komentar: