Senin, 16 Mei 2011

DUBES DJANI

DUBES DJANI: BANYAK ORANG AKUI KEBERHASILAN INDONESIA

Oleh Zeynita Gibbons

Duta besar Dian Triansyah Djani mengakui bahwa keberhasilan yang dicapai Indonesia selama ini diakui banyak orang di dunia, tapi sayangnya di dalam negeri kurang mendapatkan apresiasi.

Hal itu disampaikan Dutabesar luar biasa dan berkuasa penuh/Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), WTO dan organisasi internasional lainnya di Jenewa kepada Koresponden ANTARA London saat menemui Dian Trainsyah Djani yang tengah berada di bandara.

Hari-hari Dian Triansyah Djani diwarnai dari satu sidang ke sidang lain dari satu pertemuan ke pertemuan lain dan dari satu jamuan ke jamuan bahkan dari gedung PTRI yang berada di diantara flat perumahan sampai ke Bandara Jenewa dilakoninya dengan penuh tanggung jawab.

"Nanti malam saya harus menghadiri jamuan makan malam," ujar diplomat karir kelahiran Jakarta pada tanggal 9 Juli 1962.

"Saya habis mengantarkan Ketua Badan Nasional Penangulangan Bencana, Syamsul Maarif yang kembali ke tanah air setelah atas nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan dari Badan PBB di Jenewa," ujarnya.
Setelah mengantarkan Ketua BNPB Syamsul Maarif, Dubes Dian Triansyah Djani juga harus menemui rombongan kesenian Indonesia yang singgah di bandara Jenewa usai melakukan lawatan di Turki.

Saat berbincang bincang di sebuah warung kopi di bandara Jenewa, Bandar Udara Internasional Cointrin Jenewa, yang hanya berjarak lima kilometre ke pusat kota, Dian Triansyah Djani tidak tampak lelah meskipun seharian mengikuti pertemuan dan bahkan harus menghadiri berbagai jamuan.

"Saya adalah salah seorang diplomat yang diijon oleh Deplu, ujar ayah satu anak.

Sebagai penjaga gawang di garda terdepan negeri tempatnya badan badan PBB dunia bermarkas, Dian Triansyah Djani memang tidak bertugas menangani keberadaan masyarakat Indonesia di luar negeri atau mempromosikan Indonesia di Negara itu.

Namun seluruh anggota diplomat PTRI Jenewa mendapatkan tugas untuk mengikuti sidang setiap harinya, seperti halnya diplomat muda Kamadipraja Ismono yang bertugas mengikuti sidang HAM setiap harinya.

Menurut Dubes Dian, pekerjaan diplomat khususnya di multilateral membutuhkan kesabaran dan orang sekali mengharapkan hasilnya segera, pada kenyataannya dibutuhkan waktu bernegosiasi bertahun tahun.

Seperti halnya Piagam ASEAN membutuhkan waktu 40 tahun, ujarnya yang mengakui bahwa organisasi ASEAN yang saat ini keketuaannya di jabat oleh Indonesia dibutuhkan tahunnya untuk bernegosiasi.

Organisasi Negara Negara di Asia Tenggara itu dinilai cukup berhasil setelah Uni Eropa, ujar Dian Triansyah Djani.
Dian Triansyah Djani menyerahkan surat kepercayaan sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh / Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa Maret 2009 lalu itu adalah diplomat karir yang sebelumnya pernah ditugaskan di Jenewa.

Dian Triansyah Djani yang menerima gelar sarjana Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia dan Program Pasca Sarjana Ekonomi Pembangunan di Vanderbilt University, USA meniti karirnya sebagai seorang diplomat di Departemen Luar Negeri Republik Indonesia pada tahun 1985 dan tugas pertama di Misi Tetap Republik Indonesia di New York pada 1991-1994 serta Perwakilan Tetap Republik Indonesia di Jenewa pada 1997-2001.

Dian Triansyah Djani, sebelumnya menjabat sebagai Direktur Multilateral Perdagangan dan Investasi pada tahun 2002 mengakui bahwa dari dulu karirnya memang di multilateral.

Diakuinya semua organisasi PBB berada di Jenewa, begitupun organisasi seperti Palang Merah Dunia dan LSM atau NGO.

"Benturan ada juga sich," ujarnya namun dengan adanya keterbukaan dan transparansi semua persoalan dapat diatasi.

Begitupun dalam rapat rapat multilateral yang diikuti oleh wakil dari seluruh Negara yang menjadi anggota PBB, tercatat 192 negara berkantor di Jenewa mewakili negaranya .
Dubes Dian Triansyah Djani mengakui bahwa banyak negara yang mengakui keberhasilan Indonesia dan juga sering menjadi "key player" dalam berbagai sidang. "Nama Indonesia sering kali berkibar," ujarnya.

Seperti pada sidang sesi ke-3 "Global Platform for Disaster Risk Reduction", di mana Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono mendapat anugerah "Global Champion for Disaster Risk Reduction" yang diumumkan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ban Ki Moon.
Sebagai Direktur Kerjasama Intra-Regional Asia-Pasifik dan Afrika (2004 - 2005) Dian Triansyah Djani, bertugas mengatasi berbagai masalah keamanan, politik, sosial dan ekonomi di berbagai organisasi regional di kawasan Asia Pasifik dan Afrika.

Dian Triansyah Djani yang memiliki latar belakang ekonomi sangat membantu meringankan tugasnya dalam mempromosikan APEC kerjasama dan membuka jalan bagi Baru Asia Afrika Kemitraan Strategis / NAASP.

Sebelum menduduki jabatannya di PTRI Jenewa , Dian Triansyah Djani pernah menjabat sebagai Direktur Kerjasama Ekonomi ASEAN yang bertanggung jawab untuk meningkatkan kerjasama ekonomi ASEAN serta negosiasi di berbagai FTA dengan ASEAN mitra dialog.

Dubes Dian juga terlibat dalam berbagai forum internasional lainnya dan pertemuan, yang mewakili Indonesia baik di tingkat regional dan multilateral, seperti Gerakan Non-Blok (NAM), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), D8, G77, G15, Forum Regional ASEAN ( ARF), Dialog Kerjasama Asia (ACD), Dialog Asia Timur-Tengah (Amed), Majelis Umum PBB (UNGA), UNCTAD, UNDP, Asia-Afrika Summit, dan Konferensi Internasional Tokyo pada Pembangunan Afrika (TICAD).

Ia mewakili Indonesia dalam keamanan banyak dan forum politik seperti ARF on Maritime Security, Pelucutan Senjata Nuklir, Counter Terorisme.

Dia juga Ketua delegasi Indonesia untuk berbagai pertemuan ASEAN Zona Bebas Senjata Nuklir (SEANWFZ) dan ke APEC "Counter Terrorism Task Force".

Ia menjabat sebagai anggota delegasi Indonesia pada Pertemuan berbagai WTO khususnya tentang isu-isu yang berhubungan dengan investasi, pengadaan pemerintah dan kebijakan persaingan.

Dia juga Ketua Delegasi Indonesia di Komite WTO mengenai Perdagangan dan Lingkungan
Selama masa jabatannya sebagai Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN, posisi yang dipegangnya sejak Januari 2005 sampai dengan Desember 2008, Dian Triansyah Djani menjabat sebagai Kepala Delegasi Komite Tetap ASEAN yang mewakili Indonesia dalam Pertemuan ASEAN lainnya serta Pertemuan ASEAN dengan Mitra Dialog.

Ia berpengaruh dalam penciptaan Komunitas ASEAN. Pada tahun 2007, ia juga ditunjuk sebagai Perwakilan Indonesia ke "High Level Task Force" (HLTF) dan diberi mandat untuk menyusun Piagam ASEAN, yang mulai berlaku pada November 2008.

Saat ini, Duta Besar Djani menjabat sebagai Wakil Presiden Dewan HAM PBB. Dia juga Presiden Perdagangan dan Pembangunan UNCTAD Dewan untuk 2009 juga menjadi co-ketua Komite Tetap di Stockpile kehancuran bagi Konvensi Anti Ranjau untuk tahun 2010.

Dubes yang menjadi dosen tamu di berbagai institusi pendidikan tinggi pada perundingan multilateral, politik dan keamanan serta perdagangan internasional/isu-isu ekonomi, baik di Indonesia dan luar negeri masih menyempatkan menyalurkan hobbynya olahraga, membaca dan bepergian. ***3***
(T.H-ZG/B/A025/A025) 15-05-2011 10:14:54

Tidak ada komentar: