Rabu, 10 September 2014

AKUTANSI

Akuntansi Islam menjawab pencarian keadilan ekonomi

4 hari lalu | Dibaca 3810 kali
London (ANTARA News) - Guru besar Akuntansi Islam di Inggris, Ros Haniffa dan Mohammad Hudaib menilai Akuntansi Islam sangat diperlukan untuk mencari keadilan ekonomi melalui prosedur, pengawasan, dan pelaporan yang terstruktur dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pandangan kedua guru besar Akuntansi Islam itu sesuai dengan istilah Akuntansi Syariah yang digunakan untuk salah satu program studi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia. Demikian dikatakan Dosen STEI Tazkia, Murniati Mukhlisin, yang saat ini tengah menuntut ilmu di University of Glasgow, Skotlandia, di London, Sabtu.

Menurut mahasiswi yang memperoleh beasiswa Diktis, Kementerian Agama RI dan sedang belajar di University of Glasgow itu, setelah lima tahun berjalan, istilah Akuntansi Syariah dirubah menjadi Akuntansi Islam sejajar dengan istilah yang digunakan oleh perguruan tinggi Islam.

Sementara Pembantu Ketua I STEI Tazkia, Sugiyarti Fatma Laela, secara terpisah menyebutkan program studi Akuntansi Islam di STEI Tazkia berhasil memperoleh predikat A di peringkat nasional.

"Sungguh amanah yang berat bagi Program Studi kami ke depannya," ujar Laela yang merupakan kandidat doktor Akuntansi Islam dari Universitas Indonesia ini.

Istilah Akuntansi Islam itu sendiri dicetuskan pertama kali oleh Toshikazu Hayashi tahun 1989, seorang mahasiwa S2 di International University of Japan, dengan bukunya yang terkenal "On Islamic Accounting: Its Future Impact on Western Accounting."

Bagi Hayashi, Akuntansi Islam punya lima makna; Yahsaba yang artinya mengukur, menghitung amal seseorang; Hasaba artinya menjadi netral; dan Tahasaba artinya mengharap imbalan di hari akhir, dan menjadi pemegang tanggung jawab.

"Arti luas ini paralel dengan asma-asma Allah seperti Al Hasiib dan Al Muhshy, yang bermakna bahwa Allah senantiasa menghitung dengan teliti dan memperhatikan dengan seksama semua yang terjadi dan berlaku di dunia yang kelak semua manusia akan ditanya pertanggung jawabannya," ujar Muhammad Syafii Antonio, Motivator Asmaul Husna dan juga Ketua STEI Tazkia ini.

Memandang pentingnya makna Islam sebagai "way of life", Hussien Shehata, seorang Guru Besar Universitas Al-Azhar Mesir tahun 2001, mengatakan bahwa semua sistem baik sistem sosial, ekonomi, manajemen, dan akuntansi harus terintegrasi bagi semua pemeluk agama Islam.

Guru Besar bidang Akuntansi Islam Universitas Trisakti, Almarhum Sofyan Safri Harahap berkecimpung aktif dalam riset dan sosialisasi akuntansi Islam semasa hidupnya.

Tidak ada komentar: