Senin, 29 Oktober 2012

IDUL ADHA DI LONDON

               
DUBES-WNI LONDON SHALAT IDUL ADHA DI HOTEL

          London, 27/10 (ANTARA) - Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris dan Ny Lastry Hamzah Thayeb bersama 300 warga negara Indonesia dari berbagai kawasan di Inggris mengikuti Shalat Idul Adha di Hotel Best Western Palm Hotel, 76 Hendon Way, London.

         "Biasanya, Shalat Idul Adha diadakan di KBRI London, namun karena ruangan di KBRI London digunakan rapat tim advance kunjungan kenegaraan Presiden SBY dan KPK, maka pelaksanaan Shalat Idul Adha diadakan di hotel," ujar Dubes Hamzah Thayeb kepada ANTARA London, Jumat.

         Shalat Idul Adha dilaksanakan dengan imam H Hamim Syaaf dan khotbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1433 H disampaikan dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, Muhammad Muhtar Arifin Sholeh PhD.

         Dalam khotbah berjudul "Membangun Masyarakat Taqwa melalui Ibadah Qurban dan Haji", Muhtar Arifin Sholeh yang sedang studi di Information School, University of Sheffield itu menyampaikan makna dari ibadah haji dan qurban.

         "Berqurban adalah tradisi dan tuntunan kemanusiaan yang paling akbar yang dimulai semenjak generasi manusia yang pertama, yaitu Qabil dan Habil, putra Nabi Adam," katanya.

         Secara mendalam, kurban diajarkan dan diperintahkan Allah  kepada Nabi Ibrahim untuk mengurbankan putranya Ismail. "Makna qurban sebenarnya upaya mendekatkan diri kepada Allah, yang berasal dari 'qaraba' yang berarti mendekatkan diri," katanya.

         Dalam arti ritual, berqurban adalah penyembelihan binatang pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan tiga hari sesudahnya, sedangkan dagingnya dibagikan ke fakir, miskin, dan yang berhak menerimanya.

         Selain arti ritual, berqurban dalam arti aktual, yaitu mengorbankan apa saja, seperti tenaga, pikiran, ilmu, nasehat, waktu, uang, harta, dalam rangka untuk mendekatkan diri dan taat kepada-Nya.

         "Membangun masyarakat yang taqwa dapat dilakukan melalui berqurban (ritual dan aktual) dan beribadah haji (ritual dan aktual),"
katanya.

         Sementara haji adalah pelaksanaan ibadah ritual seperti ihram, tawaf, sa'i, wukuf, lempar jumrah, dan tahalul di Makkah al-Mukaramah, sedangkan haji aktual adalah mengamalkan makna simbolik dari haji ke dalam kehidupan sehari-hari.

         "Tawaf, mengelilingi Kabah tujuh kali, membentuk konfigurasi lingkaran yang mempunyai makna simbolik yang mendalam. Seluruh isi jagat raya, baik jenis makro-kosmos maupun mikrokosmos, menunjukkan konfigurasi lingkaran," katanya.

         Dalam skala makro, bulan mengelilingi bumi sembari berputar pada porosnya. Bulan dan bumi dan mengelilingi matahari, sementara dalam skala mikro diketahui setiap benda mempunyai molekul yang terdiri dari atom-atom. Inti atom dikelilingi elektron.

         "Gerakan melingkar dalam tawaf  merupakan simbolisasi gerakan kehidupan yang terus-menerus disiplin," ujarnya.

         Sementara Sa'i adalah berlari-lari kecil dari bukit Shofa ke Marwa, sampai tujuh kali. Ini mengenang kembali peristiwa ketika istri Nabi Ibrahim yaitu Siti Hajar mondar-mandir mencari air untuk anaknya Ismail.

         "Sa'i memberi makna simbolik tentang peran dan perjuangan seorang wanita," ujarnya.

         Wukuf adalah tinggal di Padang Arafah dalam waktu tertentu yang dipenuhi dengan kegiatan ibadah seperti shalat, zikir, baca Al Quran, dan mendengarkan ceramah agama.

         Padang Arafah adalah padang kehidupan dunia-akhirat. Kegiatan ibadah tersebut juga harus tetap dilakukan di "Padang Arafah" lainnya apakah bernama Indonesia, United Kingdom, Jakarta, London, Semarang, bahkan di "Padang Arafah" rumah sendiri.

         "Sedangkan lempar jumrah merupakam gambaran permusuhan manusia dengan syetan sebagai musuh yang sesungguhnya," katanya.

         Shalat Idul Adha masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai kota diakhiri dengan ramah tamah dengan hidangan makanan kecil berupa lemper,  kue risoles dan kue sus dan air putih.

         Sementara itu, sebagian masyarakat melakukan "open house" seperti yang dilakukan Tjahjati Dewi Mukti, staf lokal di bagian Atase Pendidikan yang kebetulan rumahnya berada di belakang hotel tempat penyelenggaraan Shalat Idul Adha.

         Mbak Dewi, demikian Tjahjati Dewi Mukti biasa disapa rekan- rekannya, menyiapkan berbagai makanan seperti sate Padang, bakso, somai dan juga lontong sayur nangka lengkap dengan rendang dan telur balado serta kue lebaran seperti nastar dan kastengel.

         "Senang bisa berkumpul bersama sama dalam suasana kekeluargaan, apalagi kita sambil mendengarkan tausiah yang disampaikan Rikie Fasha dari Reading," ujar Aliendheasja Fawilia, yang baru saja menyelesaikan master di King Collage London. (ZG)
(T.H-ZG/C/E011/E011) 27-10-2012 07:43:51

               

Tidak ada komentar: