Senin, 30 Juni 2014

WAYANG


WAYANG KANCIL DIPAMERKAN DI BALAI KOTA DENHAAG

     Oleh Zeynita Gibbons
    
    Denhaag, 11/6 (Antara) - Sebanyak 100 lebih wayang kancil yang menggambarkan berbagai jenis binatang yang ada di udara darat dan laut dipamerkan di Atrium City Hall atau Gedung Balai Kota Den Haag, Belanda.

         "Saya senang wayang kancil dipamerkan di dalam gedung Balaikota Denhaag," ujar dalang kancil Ki Ledjar Subroto kepada Antara London, di sela-sela Festival Tong Tong (Tong Tong Fair) di Lapangan Malieveld, Denhaag, Rabu.

        Ia menjelaskan pameran itu digelar Sanggar Wayang Kancil Yogyakarta bekerja sama dengan Atrium City Hall Den Haag, Tong-Tong Fair, Wayang Bank Project Europe, sejak tanggal 26 Mei hingga 14 Juni mendatang
   "Setiap tahun, saya rutin mengikuti pameran di pasar malam dan tahun ini diminta khusus membuat pameran tunggal di gedung Balaikota. Saya mempersembahkan burung Bango kepada wali kota sebagai souvenir," ujarnya.

        Ia mengakui pameran berupa binatang termasuk Komodo itu dipersiapkan pada siang dan malam. "Tapi, saya bangga bisa menyiapkan semua binatang, bahkan yang sudah punah sekalipun dalam upaya melestarikan setiap binatang yang juga dapat dijadikan sarana pendidikan bagi generasi muda," ujarnya.

        Ki Ledjar Soebroto bersama sang cucu  Ananto Wicaksono dari Yogyakarta, Indonesia, berkolaborasi dengan Professor Hedi Hinzler menyiapkan berbagai bentuk wayang yang dipamerkan di gedung Balai Kota Denhaag.

        Sementara itu, Professor Hedi Hinzler mengatakan misi dari pameran wayang kancil yang mempertunjukkan berbagai macam binatang adalah untuk pelestarian dan juga pengenalan semua bentuk binatang mulai yang berkaki empat, bersayap dan juga binatang dari berbagai jenis dari binatang yang hidup di darat, di laut dan juga alam teknologi saat ini.

         "Wayang dalam berbagai bentuk binatang dikelompokkan dalam tiga alam yaitu binatang yang bisa terbang, binatang bawah laut dan binatang yang hidup di darat," kata dalang yang sampai saat ini masih terus berkarya menyiapkan wayang kancil di stand dalam Festival Tong Tong di lapangan Malieveld itu.

         Sementara itu, sang cucu, Nanang Kancil Djinantaka, mengatakan pameran wayang di gedung walikota Denhaag itu khusus menampilkan wayang kancil buatan mbah Ledjar.

         "Jumlah wayangnya kurang lebih ada 100 wayang dengan tokoh binatang seluruh dunia dan juga tokoh binatang yang terdapat dalam cerita dongeng kancil," ujarnya.

         Menurut Nanang, persiapan pameran memang sudah dilakukan mulai tahun lalu, tetapi karena proses pembuatan wayang tidak bisa dibuat secara instan maka sampai sekarang pun mbah Ledjar masih terus berkarya.

         "Mbah bekerja siang malam tanpa lelah agar memenuhi target pameran yaitu mengenalkan jenis binatang langka di seluruh dunia dan juga mengenalkan budaya wayang, khususnya wayang kancil," katanya.

         Secara terpisah, Pensosbud KBRI Denhaag, Danang Waskito, mengatakan kegiatan pameran dan eksebisi wayang di Atrium Staadhuis Den Haag tentunya sangat positif bagi promosi Indonesia di Belanda, dan perlu diapresiasi dan digalakkan.

         "Makanan Indonesia sudah begitu dikenal di Belanda, tentunya penting pula warga Belanda mengenal lebih jauh produk asli budaya lainnya, seperti wayang," ujarnya .

         Ki Ledjar Subroto dalam pameran tersebut juga memperlihatkan keragaman jenis wayang, tidak saja berupa wayang kulit seperti yang selama ini dikenal publik, tetapi juga wayang kulit berbentuk binatang-binatang (wayang kancil) dengan warna warni yang begitu indah dan mencolok.

         "Wayang kancil tentunya sangat menarik bagi kalangan anak-anak dan siswa-siswi Belanda, sehingga akan semakin meningkatkan hubungan secara people to people contact Indonesia dan Belanda," katanya. ***3*** (ZG)
(T.H-ZG/B/E.M. Yacub/E.M. Yacub) 11-06-2014

Tidak ada komentar: