Senin, 13 Desember 2010

DIRJEN KEMLU

DIRJEN KEMLU: SAATNYA PCA DIIMPLEMENTASIKAN

London, 13/12 (ANTARA) - Direktur Jenderal Amerika Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Retno Marsudi mengatakan, saatnya dilakukan implementasi secara komprehensif "Partnership and Cooperation Agreement" antara Indonesia dan Uni Eropa.

Hal itu disampaikan Retno Marsudi pada pertemuan Pejabat Tingkat Tinggi antara Indonesia dan Uni Eropa di Brusel, Belgia, ujar Sekretaris III Penerangan, Sosial Budaya dan Diplomasi Publik KBRI Brusel Punjul S Nugraha dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Senin.

Pertemuan Senior Officials Meeting (SOM) Indonesia-Uni Eropa tersebut, menurut Dirjen Amerop, memiliki arti penting karena merupakan SOM pertama setelah penandatanganan PCA dan berlakunya Traktat Lisabon.

Sementara itu, delegasi Uni Eropa yang diketuai Direktur Asia Komisi Eropa, James Moran mengatakan, sebagian besar negara anggota Uni Eropa sedang melakukan proses ratifikasi.

Diharapkan proses ratifikasi ini akan selesai pada semester kedua tahun 2011, dengan puncak ratifikasi akan dilakukan Parlemen Eropa.

Dalam pertemuan SOM tersebut dibahas berbagai isu substantif yang menjadi perhatian bersama Indonesia dan Uni Eropa, seperti kerja sama penerbangan, lingkungan hidup, peningkatan kerja sama keimigrasian dan pembangunan.

Sebagai hasil konkrit SOM ditandatangani nota kesepahaman antara Indonesia dan Uni Eropa terkait dengan skema bantuan dalam kerangka 2nd Multi Indicative Program.

Skema bantuan dalam bentuk hibah untuk periode 2011-2013 tersebut bernilai 200 juta Euro atau sekitar 2,3 triliun rupiah.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Bappenas Dewo Broto Joko Putranto dan Direktur Asia Komisi Eropa, James Moran.

"Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya, sejumlah 144 juta Euro, atau sekitar Rp 1,65 triliun adalah untuk bantuan pendidikan," ungkap Dewo Broto.

Sementara itu, terkait perhubungan udara, dilakukan pembahasan mengenai langkah lanjut untuk pengangkatan maskapai penerbangan Indonesia dari daftar larangan beroperasi di wilayah Uni Eropa.
Indonesia dan Uni Eropa saat ini dalam tahap akhir penandatangan suatu Kesepakatan Horisontal dalam bidang kerja sama penerbangan.

Dalam konteks lingkungan hidup, kedua belah pihak sepakat meningkatkan kerja sama dalam upaya global menangani perubahan iklim, termasuk memastikan produk hasil hutan yang berkesinambungan.


Ditinjau kembali
Dubes RI di Brusel, Arif Havas Oegroseno kembali menegaskan bahwa sustainability criteria minyak sawit Indonesia oleh Uni Eropa perlu ditinjau kembali.

Terlebih lagi mengingat minyak sawit mempunyai daya serap CO2 yang tinggi karena dihasilkan dari pohon sawit dan dapat meningkatkan taraf kehidupan para pelakunya, yang sebagian besar adalah petani kecil.

Uni Eropa menyatakan bahwa sustainability criteria untuk biodiesel yang mulai ditetapkan pada Mei lalu dapat diubah dengan scientific evidence.

Sementara dalam bidang perdagangan dan investasi, pembentukan Vision Group yang bertugas menjajaki pembentukan kerja sama ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa akan diadakan pertemuan pada Februari 2011.

Vision Group yang digagas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso pertama kali saat keduanya bertemu di Brussels, Desember 2009.

Pihak Uni Eropa meyakini bahwa kerja sama perdagangan menyeluruh tersebut akan dapat diwujudkan mengingat saat ini Indonesia dan Uni Eropa telah memiliki PCA.

Schengen visa
Dalam bidang kerja sama keimigrasian, Dirjen Amerop melontarkan kembali gagasan agar Uni Eropa mempermudah perolehan visa bagi warga Indonesia yang akan berkunjung ke Eropa.

Menurut Dirjen Amerop, saat ini masih terdapat beberapa kesulitan bagi pergerakan warga Indonesia untuk berkunjung ke wilayah Schengen.

Terlebih lagi, sudah saatnya bagi Uni Eropa untuk memberikan nilai tambah signifikan bagi PCA 2009.

Dubes Oegroseno menegaskan "Tujuan akhir kita tentu saja pembebasan Visa Schengen bagi WNI".

Dalam pembahasan isu global, Uni Eropa memandang Indonesia sebagai mitra penting Uni Eropa dan bahwa Indonesia merupakan contoh sukses dalam demokratisasi dan saat ini telah menjadi salah satu pemain utama dunia.

Indonesia juga semakin memiliki suara politis dan diplomatis yang semakin meningkat pengaruhnya, contohnya melalui perannya di kelompok G20, demikian Dubes Oegroseno. ***4*** (ZG)
(T.H-ZG/C/S023/S023) 13-12-2010 15:42:46

Tidak ada komentar: