Jumat, 04 Desember 2009

KEPALA BKPM: INDONESIA TEMPAT BERINVESTASI MENARIK

KEPALA BKPM: INDONESIA TEMPAT BERINVESTASI MENARIK

London, 4/12 (ANTARA) - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan (43) mengatakan Indonesia merupakan tempat berinvestasi yang menarik di dunia bagi para investor dari manapun asalnya, sehubungan adanya iklim yang kondusif serta pelayanan terpadu satu pintu (PTSB).

Selain itu, Indonesia juga tidak terimbas adanya krisis ekonomi global, ujar Gita Wiryawan dalam wawancara khusus dengan koresponden ANTARA London, Kamis sore usai acara penandatangan kerja sama antara BKPM dengan produsen bahan bakar sintetis Sasol dari Afrika Selatan.

Afrika Selatan tertarik berinvestasi di bidang batubara di Indonesia dengan ditandatanganinya nota kesepahaman (Memorandum of Understanding-MoU) dengan Kepala BKPM Gita Wirjawan di kantor The Indonesian Investment Promotion Centre (IIPC) St Martins House, ST Paul London, Kamis sore.

Penandatangan kerja sama dengan produsen bahan bakar sintetis terbesar di dunia, Sasol, dilakukan Ketua BKPM Gita Wirjawan dengan Managing Director Sasol Synfuels Internasional, Ernst Oberholster, disaksikan Dutabesar Luar Biasa dan berkuasa Penuh RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia Yuri Thamrin.

Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan banyak pengusaha Inggris menyatakan dukungannya dengan melihat situasi di Indonesia yang kondusif serta demokratis.

Menurut Gita Wirjawan, Inggris merupakan investor terbesar kedua di Indonesia. Untuk itu, BKPM akan terus melakukan berbagai perbaikan, di antaranya dengan dibentuknya Indonesian Investment Promotion Centre (IIPC) yang representatif di tengah tengah pusat bisnis London.

Indonesia juga akan terus menjalin hubungan baik dengan pertimbangan perusahaan dari luar Inggris melihat Inggris sebagai tempat yang strategis untuk menjadi basis mereka melakukan investasi dan juga beroperasi, ujarnya.

Seperti perusahaan Sasol dari Afrika Selatan yang punya perwakilan yang cukup besar di Inggris yang menjadi pertimbangan mereka untuk melakukan penandatangan kerja sama tersebut.

Ia mengharapkan, adanya kerja sama dengan Sasol tersebut akan dapat mengurangi kekhawatiran akan pasokan minyak. "Kita harus berfikir jangka panjang dengan adanya batubara yang berlimpah di Indonesia," ujar peraih gelar Master of Public Administration dari Harvard University (2000) itu.

Menurut pendirikan Grup Ancora, Indonesia harus mempertimbangkan sumber daya alam lainnya seperti teknologi melukidisasi batubara menjadi minyak.


Selatan Selatan
Kepala BKPM mengatakan, acara menandatangan MoU atas nama Pemerintah Indonesia tersebut merupakan manifestasi kongkret dari kerja sama Selatan Selatan dan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Afrika Selatan pada pengembangan energi.

Selain itu merupakan hasil dari kunjungan Presiden Yudhoyono ke Afrika Selatan pada tahun 2005 yang dilanjutkan dengan kunjungan para pejabat dari kedua negara.

Managing Director Sasol Synfuels Internasional, Ernst Oberholster mengatakan, Sasol merupakan perusahaan publik berbasis bahan bakar sintetis terbesar di dunia yang beroperasi secara komersial dalam skala besar.

Dikatakannya, Sasol Synfuel Internasional berhasil mengembangkan Coal-to-Liquid (CTL) teknologi yang memberikan sumbangan kebutuhan energi dan juga Gas-to-Cairan teknologi yang digunakan di Afrika Selatan dan Qatar. Kapasitas Sasol sekitar 160.000 barel minyak mentah ekuivalen per hari, ujarnya.

Kepala BKPM Gita Wirjawan mengatakan, Pemerintah Indonesia percaya bahwa teknologi Sasol akan menghasilkan manfaat besar bagi negara.

Teknologi batubara menjadi cairan minyak merupakan salah satu pilihan sumber energi yang murah. Indonesia memiliki sekitar 60 miliar ton cadangan batubara, yang 85 persen di antaranya adalah batu bara muda.

Teknologi yang dimiliki Sasol dapat memproduksi sekitar 80.000 barel per hari dengan kualitas tinggi ultra-bersih bahan bakar transportasi di Indonesia. Biaya proyek terpadu diharapkan melebihi 10 miliar dolar AS.

Selain menandatangani kerja sama dengan BKPM, Sasol juga akan melakukan hal yang sama dengan perusahaan minyak dan gas negara Pertamina.

Penandatanganan MoU itu sekaligus peresmian Pusat Promosi Investasi di London. Hal ini sejalan dengan cetak biru kebijakan energi Indonesia 2025 yang bertujuan untuk diversifikasi dari minyak ke batubara. ***3***(U-ZG)

(T.H-ZG/B/P004/P004) 04-12-2009 06:54:04

Tidak ada komentar: