Sabtu, 10 Desember 2016

BOJONEGORO

BOJONEGORO TARIK PERHATIAN MASYARAKAT DUNIA DI INGGRIS
     Zeynita Gibbons

   London, 7/12 (Antara) - Bupati Bojonegoro Suyoto Ngartep Mustajab memaparkan program reformasi birokrasi, pemberdayaan masyarakat, tata kelola pemerintahan baik dan pembangunan selama sembilan tahun kepemimpinannya, kata Sekretaris Pertama Fungsi Politik KBRI London Gita Loka Murti kepada Antara London, Rabu.
        Ia menjadi pembicara tunggal pada seminar bertajuk "Open Government at the Subnational Level: Innovations in governance from Bojonegoro" di Institute for Development Studies (IDS), University of Sussex, Inggris, kata Gita.
        Seminar itu diadakan sebelum pelaksanaan Global Summit Meeting of the Open Government Partnership (OGP) di Paris, Prancis, 7-9 Desember 2016, tempat Bojonegoro menjadi salah satu dari 15 daerah terpilih dari seluruh dunia sebagai tempat program percontohan OGP di tingkat sub-nasional.
        Dalam seminar itu, Kang Yoto, sapaan akrabnya, mengatakan antara lain mengembangkan program aplikasi berbasis Internet dan telepon selular bernama LAPOR untuk menampung aspirasi warga Bojonegoro agar dapat ditanggapi cepat dan tepat oleh Pemerintah.
        Selain LAPOR, Pemda Bojonegoro juga membangun Dialog Jumatan, dengan warga berkumpul di alun-alun setiap Jumat untuk menyuarakan aspirasinya.
        Ia mengatakan sering mengadakan pelatihan bagi pegawai Pemda, yang berjumlah lebih kurang 12.000 orang.
        Dengan menyadari bahwa prasarana baik adalah unsur penting penunjang pembangunan ekonomi, maka seirama dengan program nasional, Pemda Bojonegoro melakukan perbaikan mutu prasarana, seperti, pembangunan jalan dan penghijauan daerah aliran sungai untuk mencegah banjir.  
   Kini, selain menjadi wakil Indonesia pada projek percontohan OGP, Bojonegoro juga menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia (19.47%), penurunan tingkat kemiskinan dari 16.6% menjadi 13,98%, dan peningkatan tingkat pemerataan ekonomi, yang ditandai dengan penurunan Ratio Gini daerah tersebut.
        Seminar itu dihadiri pengajar, peneliti dan mahasiswa IDS serta staf dan pimpinan NGO Making All Voices Count (MAVC), yang memusatkan studi dan aktivitasnya pada tata kelola pemerintahan baik Indonesia dan Bojonegoro.
        Pada kesempatan tersebut terungkap bahwa terdapat tujuh penelitian dengan sasaran kajian Bojonegoro. Pengajar IDS menyatakan akan memberikan hasil penelitian tersebut kepada Bupati Bojonegoro dan jajarannya untuk mendapatkan tanggapan.
        Seminar itu diadakan bekerjasama dengan LSM MAVC, yang juga bergerak di Indonesia, yang menjadi salah satu negara prioritas perhatian MAVC selain Filipina, Kenya, Afrika Selatan, Ghana dan Tanzania karena perkembangan demokrasinya.
        Sejumlah 15 tempat menjadi proyek percontohan OGP, yakni Austin (AS), Bojonegoro (Indonesia), Buenos Aires (Argentina), Elgeyo Marakwet (Kenya), Jalisco (Maksiko), Kigoma (Tanzania), La Libertad (Peru), Madrid (Spanyol), Ontario (Kanada), Paris (Perancis), Sao Paulo (Brazil), Skotlandia (Inggris), Sekondi-Takoradi (Ghana), Seoul (Korea Selatan), Tbilisi (Georgia).
        (U.ZG)
   ****2*****
(T.H-ZG/B/B. Soekapdjo/B. Soekapdjo) 07-12-2016 02:51:38
end

Tidak ada komentar: