Senin, 22 Desember 2008

MENDIKNAS DI OSLO

MENDIKNAS HADIRI PERTEMUAN "HIGH LEVEL GROUP" DI OSLO

London, 23/12 (ANTARA) - Pertemuan kelompok tingkat tinggi ke-8 Pendidikan untuk semua ("High Level Group Meeting on Education for All"/ HLG on EFA) yang dihadiri Mendiknas Prof. Dr. Bambang Sudibyo di Oslo, Norwegia menyepakati deklarasi bersama yang disebut "Oslo Declaration".

Pertemuan diadakan secara periodik untuk mengevaluasi pencapaian program "Millenium Development Goals" Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yakni Pendidikan untuk Semua ("Education for All"/EFA), kata Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Oslo Mansyur Pangeran kepada Antara London, Senin.

Dia mengatakan bahwa pertemuan tersebut membahas tiga tema utama yaitu "Strengthening Governance and the Commitment to Equity", "Recruiting and Rewarding Teachers" dan "Financing EFA : Respecting the Compact".

Pada pembahasan "Strengthening Governance and the Commitment to Equity, Global Monitoring Report (GMR) 2009" disimpulkan target Pendidikan untuk Semua tahun 2015 dikhawatirkan tidak tercapai.

Hal ini disebabkan karena kegagalan masyarakat internasional menghadapi masalah kesenjangan secara global dan kegagalan pemerintah dalam menangani kesenjangan di dalam negerinya masing-masing ditambah krisis ekonomi yang sedang melanda dunia saat ini, kata dia.

Peserta pertemuan bertekad krisis ekonomi saat ini tidak akan mengurangi belanja nasional dan bantuan internasional untuk pendidikan.

Pada sessi pembahasan "Recruiting and Rewarding Teachers" yang dipimpin Mendiknas RI bersama Menteri Pendidikan Norwegia, akhirnya disetujui pembentukkan "Task Force on Teachers for EFA" dan komitmen negara donor memberikan kontribusi bagi kelompok kerja yaitu dari Uni Eropa sebesar 1,5 juta euro, dari Norwegia sebesar satu juta Euro, dan dari Jerman namun belum menyebutkan angka.

Para pembicara umumnya menyampaikan pokok pikiran bahwa guru yang berkualitas dan bermotivasi adalah kunci bagi pendidikan yang berkualitas.

Selain itu, kebijakan yang terkait guru harus mencakup pelatihan, status, kondisi kerja, serta sistem penggajian bagi guru.

Pada pertemuan itu disepakat menggunakan hasil kesepakatan pertemuan "E-9 Ministerial Meeting" di Bali pada bulan Maret 2009 dan E-9 SOM di Jakarta, Oktober lalu sebagai salah satu rujukan kegiatan kelompok kerja (Pokja) guru tersebut.


Anggaran 20 Persen

Mansyur mengatakan bahwa pada sessi pembahasan mengenai "Financing EFA: Respecting the Compact", disepakati untuk mengajak setiap negara mengalokasikan sumber daya domestiknya untuk pendidikan sebesar 4-6 persen dari Produk Nasional Bruto (PNB) atau 15-20 persen dari total anggaran pemerintahnya.

Sementara itu, mitra EFA serta donor diminta meningkatkan bantuan dan melakukan investasi di bidang pendidikan.

Menurut Mansyur Pangeran, dalam kaitan ini Delegari Indonesia menyampaikan Pemerintah Indonesia menganggarkan 20 persen total anggaran tahun 2009 untuk pendidikan.

"Oslo Declaration" dinilai mempunyai langkah-langkah konkrit untuk sebagai upaya untuk mencapai tujuan-tujuan "Pendidikan untuk Semua" tahun 2015.

Dia mengatakan bahwa UNESCO bersama Pemerintah Norwegia sangat serius mempersiapkan "HLG on EFA" kali ini, termasuk dalam pembuatan rancangan "Oslo Declaration" sejak pelaksanaan "Working Group on EFA" di Paris pada November lalu, dan melakukan konsultasi dengan pihak-pihak terkait melalui e-mail.

Selain itu, Norwegia juga melakukan "lobby" secara bilateral kepada negara-negara kunci EFA, termasuk Indonesia.

Dalam pembahasan Oslo Declaration, Indonesia berhasil memasukkan rujukan terhadap "E-9 Bali Declaration", yang merupakan hasil dari Pertemuan Menteri E-9 di Bali Maret lalu.

Sementara butir-butir hasil E-9 tersebut dimasukkan ke dalam "Plan of Action on Teacher" yang akan mulai dibahas pada Pebruari 2009 oleh "TaskForce on Teachers for EFA".


Pertemuan Bilateral

Mendiknas RI Prof. Dr. Bambang Sudibyo selama di Oslo mengadakan pertemuan dengan Menteri Pendidikan Norwegia Vegar Solhjell, Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi Norwegia Tora Aasland, serta Menteri Pendidikan Nigeria Aishatu Jibril Dukku.

Saat bertemu dengan Menteri Solhjell, Mendiknas menyampaikan usulan kemungkinan kerjasama pertukaran pelajar tingkat SMA untuk periode singkat.

Mendiknas mengemukakan pertukaran siswa SMA merupakan cara efektif untuk memperkenalkan budaya pada tingkatan usia dini. Lama pertukaran cukup untuk dua atau tiga minggu.

Sementara itu pada pertemuan dengan Menteri Aasland, kedua menteri membahas kerjasama antar universitas di Norwegia dan Indonesia.

Kedua Menteri sependapat kedua pemerintah menyepakati suatu perjanjian yang menjadi payung berbagai kerjasama antar universitas. Mendiknas menyatakan akan mengirimkan Dirjen Dikti ataupun Sekjen Diknas untuk membicarakan MOU dengan pihak Norwegia.

Pertemuan dengan Menteri Pendidikan Nigeria, Aishatu Jibril Dukku, menghasilkan kesepakatan kerjasama kedua negara dalam Pendidikan Madrasah, yang merupakan salah satu dari hasil E9 SOM yag diadakan di Jakarta Oktober lalu.

Menteri Pendidikan Nigeria menyampaikan rencananya berkunjung ke Indonesia awal 2009 untuk melihat langsung pelaksanaan pendidikan madrasah.(U-ZG)***4***
(T.H-ZG/B/Y006/B/Y006) 23-12-2008 07:10:01

Tidak ada komentar: