Selasa, 28 September 2010

YUNANI BERI KEMUDAHAN

YUNANI BERI KEMUDAHAN TRANSPORTASI UNTUK PENYANDANG CACAT

London, 27/9 (ANTARA) - Pemerintah Yunani sangat memperhatikan keberadaan warganya yang menderita kecacatan dengan menyediakan berbagai kemudahan seperti akses di tranpostasi umum, potongan harga di toko, akses untuk pekerjaan dan pensiun khusus bagi penyandang cacat.

Bahkan penyandang cacat di Yunani mendapatkan jatah dua kursi di parlemen ujar Wakil Ketua National Confederation for the Disable People (ESAEA) Yunani Thomas Kiskotis dalam pertemuannya dengan Ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI), Siswadi Abdul Rochim di kantor pusat ESAEA, Athena, Yunani.

Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Athena, Jani Sasanti dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA, Senin mengatakan bahwa PPCI menjajaki kerjasama dengan National Confederation for the Disable People (ESAEA) Yunani .

Pertemuan yang diprakarsai Dubes RI untuk Yunani, Ahmad Rusdi berkaitan dengan digelarnya Olimpiade Spesial untuk para penyandang Cacat Tunagrahita di Athena, Yunani pada bulan Juni tahun 2011 mendatang.

Dikatakannya kunjungan Ketua PPCI itu juga untuk mengetahui lebih rinci mengenai penanganan bagi penyandang cacat di Yunani yang menarik perhatian adalah terwakilnya penyandang cacat di Parlemen Yunani yang mendapatkan jatah dua kursi.

Sementara Ketua PPCI menyatakan dalam tataran peraturan, Pemerintah telah menyiapkan semua peraturan yang berkaitan dengan kemudahan bagi orang cacat, namun semua itu terbentur dengan kendala di tataran pelaksanaan.

Dikatakannya PPCI adalah organisasi induk dari seluruh organisasi sosial kecacatan nasional di Indonesia bertujuan untuk mengadvokasi kebijakan bagi penyandang cacat di Indonesia. Keanggotaan PPCI telah terwakili di 32 propinsi dari 33 provinsi di Indonesia, ujarnya.

Dalam kesempatan itu Wakil Ketua ESAEA Thomas Kiskotis, menyampaikan apresiasinya atas kedatangan Ketua PPCI untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan di bidang kecacatan secara umum.

Organisasi ESAEA, seperti juga PPCI, merupakan organisasi payung bagi seluruh kecacatan di Yunani, dimana didalamnya termasuk juga para penderita penyakit berat seperti Diabetes dan Thalasemia.

Pembicaraan antara kedua wakil organisasi ini difokuskan pada masalah pendidikan untuk anak penyandang cacat, peran pemerintah dalam pendanaan organsiasi dan kemudahan bagi para penyandang cacat.

Untuk bidang pendidikan, Ketua PPCI menyampaikan bahwa di Indonesia pendidikan untuk anak cacat bersifat inklusi.
Sementara pihak ESAEA menyatakan Pemerintah Yunani mensahkan UU yang memandatkan setiap anak cacat untuk bersekolah.

Dalam pertemuan itu kedua pihak sepakat mengenai pentingnya keberadaan organisasi orang tua yang memiliki anak cacat.

Ketika menyentuh kepada peran pemerintah dalam pendanaan organisasi, Ketua PPIC menyatakan bahwa selama ini organisasi yang diketuainya hanya menerima anggaran dari para donatur.

Hal ini berbeda sekali dengan ESAEA yang mendapatkan anggaran sekitar 1.300.000 dolar AS per tahun untuk menjalankan kegiatan sesuai dengan pendirian ESAEA dimandatkan UU di Yunani.

Selain itu pendanaan juga didukung iuran anggota dari anak organisasi ESAEA dan keikutsertaan dalam program yang diselenggarakan oleh Uni Eropa.

Dalam kesempatan ini, Ketua PPCI mengundang perwakilan ESAEA untuk berkunjung ke Indonesia dan melihat secara langsung keadaan di Indonesia.

Sebagai informasi, PPCI didirikan pada tanggal 11 Maret 1987 dengan visi terwujudnya masyarakat inklusi, bebas hambatan berdasarkan Hak Asasi.

Untuk itu PPCI memperjuangkan kesamaan kesempatan penyandang cacat dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan serta mengupayakan terwujudnya hak-hak penyandang cacat Indonesia, demikian Siswadi Abdul Rochim. ***3***
(ZG)
(T.H-ZG/B/B012/B012) 27-09-2010 19:31:54

Tidak ada komentar: