Rabu, 07 April 2010

Pertama Kalinya Pasar Malam Indonesia Berlangsung Sukses

Pertama Kalinya Pasar Malam Indonesia Berlangsung Sukses

Rabu, 7 April 2010 05:39 WIB | Artikel | Pumpunan | Dibaca 308 kali
Oleh: Zeynita GibbonsDen Haag (ANTARA News) - Pasar Malam Indonesia (PMI) membuat pengunjungnya merasa berada di Indonesia, baik warga keturunan Jawa Suriname, masyarakat Ambon, Manado, dan juga warga asli Belanda, terutama yang pernah berkunjung ke Indonesia.

"Saya senang ada Pasar Malam Indonesia ini, karena semua yang ada di dalamnya benar-benar mencerminkan daerah Indonesia," kata Anneke Mertomenawi, perempuan turunan Jawa Suriname yang tinggal di Ryswijk, 15 menit dari Malieveld, Den Haag, tempat PMI berlangsung.

Pasar Malam Indonesia dibuka secara resmi Mantan Menlu Belanda Dr Bernard Rudolf Bot, bersama Dubes RI untuk Kerajaan Belanda, J E Habibie merupakan PMI pertama digelar KBRI Denhaag bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dari tanggal 1 hingga 5 April.

Aneke menuturkan PMI cukup bagus, karena asli menampilkan budaya dan produk Indonesia . Sebagai kegiatan yang baru pertama kali diadakan, katanya, PMI cukup sukses, karena sudah mendatangkan banyak orang, menampilkan budaya seperti berbagai kesenian dan juga stand-stand yang menjual produk kerajinan serta makanan khas Indonesia.

Perempuan kelahiran Suriname berdarah Jawa Tengah dan menetap di Ryswijk selama 35 tahun, menuturkan dia hampir setiap tahun datang ke Tong Tong Fair. Tapi, dia lebih suka dengan PMI.

Dia berharap PMI ke depannya bisa lebih ramai lagi, tempatnya lebih luas, dan lebih banyak lagi pedagang dari Usaha Kecil Menangah (UKM) yang membuka stand dan menyediakan produk yang lebih banyak dan beragam.

Hal senada juga disampaikan Alia de Ling, perempuan asal Indramayu, Cirebon, Jawa Barat, yang hampir setiap tahun berkunjung ke Pasar Malam Besar Tong Tong, kini menjadi Tong Tong Fair. "Sayangnya produk makanan cuma sedikit yang dijual di stand PMI," ujarnya.

Menurut Alia yang sudah belasan tahun menetap di Den Haag, pelaksanaan PMI cukup bagus, cuma pilihan barang yang dijual masih sedikit. Hal sedana juga disampaikan Linda, warga Belanda.

Linda yang datang bersama teman-temannya mendatangi stand yang menjual produk, dan bertanya apakah ada yang menjual kerupuk udang atau ikan teri Medan. "Ada ikan teri dan kerupuk udang,?" tanya Linda dengan bahasa Indonesia terbata-bata kepada pemilik stand, pengusaha UKM yang dibawa Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Kementerian Perdagangan.

Selain menyerbu aneka produk makanan kering seperti kerupuk, kacang, dodol, dan lainnya, pengunjung juga berebut membeli aneka blus batik dan rok batik yang ditawarkan. "Moi ya, moi ya," ujar beberapa pengunjung sembari memegang baju batik.

"Kami bukannya tidak mau membawa berbagai macam produk khas Indonesia," ujar Novi yang diajak BPEN untuk ikut menyemarakan PMI.

"Masalahnya kami tidak bisa membawa barang lebih dari 30 kg di pesawat. Kami tidak sempat mengirimkan barang lewat kargo laut, kalau lewat udara harganya mahal sekali. Saya harus membayar biaya kelebihan barang sampai dua juta lebih," tutur Novi, peserta PMI yang menawarkan beragam blus, kebaya, dan tas batik.

Novi mengatakan keputusan dari pemerintah tentang jadi ikut atau tidak sebagai peserta PMI baru disampaikan BPEN akhir Februari, sementara pengiriman kargo lewat laut memakan waktu lebih dari sebulan.

Terlepas dari semua permasalahan tersebut, secara umum pelaksanaan PMI berhasil, apalagi baru pertama kali diadakan. Banyak kegiatan kesenian dan budaya dari sejumlah provinsi yang ditampilkan. Dan itu membuat penonton senang.

Penyanyi kelahiran Ambon , Andre Hehanusa mengakui bahwa ia merasa bangga bisa mengisi acara di panggung hiburan selama pelaksanaan PMI berlangsung. "Saya merasa bangga bisa terlibat dalam penyelenggaraan PMI yang baru pertama kalinya," ujar Andre saat ditemui dibelakang panggung.

Secara khusus ia mengacungkan jempol untuk Dubes JE Habibie yang berani menyelenggarakan PMI dan ternyata berhasil dengan sukses dan diharapkannya tahun depan KBRI Denhaag dapat menyelenggarakan kembali PMI dan yang lebih penting lagi tentunya akan banyak pengusaha Belanda yang melakukan investasi di Indonesia.

Dutabesar RI untuk Kerajaan Belanda, JE Habibie mengatakan perencanaan penyelenggaraan Pasar Malam Indonesia sudah dimulai sejak setahun lalu dan bahkan banyak orang yang menyangsikan apakah Pasar Malam Indonesia bisa terlaksana.


Menyangsikan

"Banyak orang yang meragukan apakah acara Pasar Malam Indonesia bisa dilaksanakan," ujar Dubes JE Habibie yang mendapat sambutan dari undangan.

Sementara itu Ketua Panitia Pasar Malam Indonesia Firdaus Dahlan mengatakan dengan senang hati menerima kritikan dan saran dari pengunjung dan peserta Pasar Malam Indonesia .

Ia berjanji pelaksanaannya PMI tahun tahun mendatang akan lebih matang lagi. "Maklum ini proyek pertama kalinya, dan tidak menyangka akan seramai ini," ujarnya.

Sementara itu Firdaus mengakui pelaksanaan seperti PMI tidak murah untuk sewa tenda seluas tiga ribu meter persegi sebesar 150 ribu Euro itu belum termasuk sewa listrik dan alat alat pendukung lainnya.

Untuk mengatasi biaya yang cukup mahal itu KBRI mengajak sejumlah Pemda dan Pemkot dan Kementerian lainnya untuk urun rembuk. Mudah mudahan tahun mendatang banyak lagi Kementerian yang ikut dalam promosi investasi, perdagangan dan pariwisata, ujar Pensosbud KBRI Den Haag.

Dirjen Pemasaran Kementerian Pariwisata, RI, Sapta Nirwandar, mengatakan promosi pariwisata guna meraih target tujuh juta wisatawan asing harus terus-menerus dilakukan bila tidak ingin ditinggalkan.

Kegiatan PMI adalah upaya promosi Indonesia di Belanda, ujar Sapta Nirwandar kepada koresponden ANTARA London.

Pasar Malam Indonesia tidak saja mempromosikan promosi pariwisata, tetapi juga perdagangan dan investasi (Trade, Tourism, and Investment/TTI) serta seni budaya kepada masyarakat Belanda.

Diakuinya Promosi memang mahal dan itu tidak bisa dihitung langsung untung ruginya karena promosi merupakan satu investasi yang abru terliat hasilnya dalm beberapa tahun mendatang.


Putri Indonesia

Selama pelaksanaan PMI berlangsung juga digelar pemilihan Putri Indonesia yang diikuti sebanyak 40 remaja Indonesia kelahiran Belanda.

Ajeng Megiandini, gadis kelahiran Bandung yang menjadi warganegara Belanda terpilih menjadi Putri Indonesia Pasar Malam Indonesia dan mendapat hadiah tiket pesawat terbang dari Garuda Indonesia .

Ajeng mengatakan meskipun ia sudah menjadi warganegara Belanda namun didalam hati saya masih berada di Indonesia. Hal itu dibuktikan Ajeng yang membawakan kepiawaiannya dalam melantumkan lagu Indonesia Pusaka. "Di dalam hati saya masih menjadi orang Indonesia ," ujar Ajeng

Photo dengan mengenakan busana berbadai adat seperti adat dari Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Lampung, Aceh dan Betawi, diminati pengunjung Pasar Malam Indonesia.

Anjungan jasa membuat photo dengan mengunakan busana daerah Indonesia itu dikelola Dharma Wanita KBRI Den Haag diketuai Ny Nyoman Heng E Sarainsong.

Banyak masyarakat Belanda yang berphoto bersama dan bahkan ada tiga generasi yang berpose dalam busana Padang, ujar Ny Nila Umar Hadi, istri Wakil Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Umar Hadi.

Sementara itu Endang Arif S yang menjadi penangung jawab dibagian foot court mengatakan sebanyak 26 pengusaha makanan ikut meramaikan PMI mulai dari PMI Cafe, Pondok sate Pak Rosidy, Warung Pojok, Pondok Minahasa dan Warung Minang menyediakan berbagai makanan khas Indonesia dan bahkan juga ada rending jengkol dipenuhi para pembeli.

Warung Minang yang dikelola wanita Minang yang lama berdomisili di Belanda diantaranya Erita Panai dan Fifi Bagindo mengakui pengunjung di food court cukup banyak bahkan kewalahan dalam melayani para pembeli.

"Kami menyediakan sate Padang , nasi kapau dan nasi rames serta ketupat sayur dan rendang Padang yang sangat diminati pengunjung PMI karena memang menampilkan makanan asli Indonesia ," ujarnya.

Ibarat bayi yang baru lahir, prospek PMI tampaknya akan cerah dan tidak kalah dengan penyelenggaraan Tong Tong Fair yang tahun ini memasuki usia 53 yang berlangsung dari tanggal 19 hingga 30 Mei mendatang.

PMI akan lebih berhasil bila penyelenggaraannya dipersiapkan jauh jauh hari termasuk persiapan dari institusi terkait termasuk Kementerian Luar Negeri, Perdagangan, Ivvestasi dan pariwisata termasuk pemerintah propinsi, pemerintah kota dan pemerintah daerah yang perlu membuat anggaran sejak dini.

PMI yang berlangsung selama lima hari dari 1 hingga 5 April itu melibatkan seluruh masyarakat Indoensia yang ada di Belanda termasuk PPI Den Haag yang ikut membantu pelaksanaan PMI yang dikunjungi lebih dari 20 ribu orang. (ZG/K004)

Tidak ada komentar: