Kamis, 29 April 2010

UNIVERSITAS BERN SWISS TERTARIK ISLAM DI INDONESIA

UNIVERSITAS BERN SWISS TERTARIK ISLAM DI INDONESIA

London, 28/4 (ANTARA) - Dekan Institute for Islamic and Middle Eastern Studies, Universitas Bern, Swiss, Profesor Dr. Reinhard Schulze menyatakan pihaknya tertarik untuk mempelajari Islam di Indonesia.

Upaya mempelajari Islam selama ini difokuskan pada sejarah dan perkembangan Islam di kawasan Timur Tengah.

Hal itu disampaikan Profesor Dr. Reinhard Schulze dan mengundang Dubes Indonesia untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, Djoko Susilo, menjadi dosen tamu di Institut yang dipimpinnya, demikian Pensosbud KBRI Bern, Rizka Desinta kepada koreponden Antara London, Kamis.

Rizka Desinta mengatakan undangan itu disampaikan Prof. Dr. Schulze usai berdikusi seputar perkembangan Islam di Indonesia dan Swiss dengan Dubes di Universitas Bern yang menyatakan Indonesia merupakan negara dengan mayoritas jumlah Muslim terbesar di dunia, yang istimewa, yang masyarakatnya hidup secara rukun dan damai.

"Sebagai negara dengan mayoritas jumlah muslim terbesar di dunia dan dengan sejarah latar belakang perkembangan Islam yang menarik, Indonesia merupakan negara yang sangat tepat untuk melakukan riset dan studi mengenai Islam," ujar Prof. Dr. Schulze.

Institute for Islamic and Middle Eastern Studies, Universitas Bern, memiliki tiga jenjang studi, yaitu tingkat sarjana, master dan doktor memiliki 150 mahasiswa berasal dari latar belakang kepercayaan yang berbeda.

Studi di Universitas Bern difokuskan pada sejarah dan perkembangan Islam khususnya di kawasan Timur Tengah, selain isu kontemporer mengenai Islam lainnya.

Rizka menjelaskan para mahasiswa diwajibkan untuk mengambil mata kuliah bahasa dan literatur, dengan pilihan bahasa antara lain Bahasa Arab, Turki, Persia, termasuk juga Bahasa Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, selain memperkenalkan diri , maka Dubes Djoko Susilo menjelaskan mengenai organisasi Islam di Indonesia dan beberapa topik hangat seputar Islam di tanah air.

Termasuk salah satunya usulan agar Presiden Swiss, Madam Doris Leuthard mengunjungi pesantren di Jawa Timur pada kunjungannya ke Indonesia, Juli 2010.

Dubes Djoko Susilo mengatakan bahwa ia akan mengundang media massa Swiss yang meliput kunjungan Presiden Doris Leuthard juga melihat jalannya kongres Muhamadiyah di Yogyakarta.

Prof. Dr. Schulze sangat antusias dan menyatakan hal tersebut perlu dilakukan, karena saat ini di Swiss timbul beragam pandangan mengenai Islam menyusul isu pelarangan menara di Swiss pada November 2009.

Untuk itu, perlu diadakan diskusi bersama dengan perwakilan dari negara muslim untuk memperluas perspektif publik, khususnya publik di Swiss mengenai Islam.

Prof. Dr. Schulze memandang Indonesia merupakan mitra yang tepat untuk diskusi bersama mengenai Islam di Swiss.

Atas dasar itu, Prof. Dr. Schulze mengundang Duta Besar Djoko Susilo untuk menjadi Dosen Tamu di Institut yang dipimpinnya.

Dubes menyambut tawaran tersebut dan menyatakan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan serta menyambut baik rencana Dr. Schulze mengadakan diskusi bersama mengenai Islam.

Saat ini, di Swiss terdapat 300.000 muslim, atau sekitar 4,6 persen dari jumlah keseluruhan populasi di Swiss. Sebagian besar muslim di Swiss berasal dari Kosovo, Bosnia, Albania dan Turki.

(U-ZG)/B/A011)
(T.H-ZG/B/A011/A011) 29-04-2010 07:40:39

Tidak ada komentar: