Kamis, 19 Mei 2016

HELSINKI

RI TUAN RUMAH "WORD PRESS FREEDOM DAY"
     Oleh Zeynita Gibbons

   London, 5/5 (Antara) - Duta Besar/Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk Unesco Dr Hotmangaradja Pandjaitan mengatakan Pemerintah Indonesia merasa terhormat dan tengah mempersiapkan diri menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan "World Press Freedom Day" (WPFD) tahun 2017.

        Hal itu disampaikan Hotmangaradja  Pandjaitan di Helsinki, Finlandia, setelah menerima peluit (whistle) dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Finlandia Sanni Grahn-Laasonen pada penutupan kegiatan tersebut, demikian keterangan  Vicka A Rompis dari kantor perwakilan Indonesia di Unesco Paris yang diterima Antara London, Kamis.

        Penyerahan peluit menandai penyerahan jabatan tuan rumah  dari Finlandia kepada Indonesia.

        Hotmangaradja Pandjaitan menyebut  terpilihnya Indonesia menjadi tuan rumah WPFD menjadikan kegiatan tersebut untuk pertama kalinya diselenggarakan di Asia Tenggara dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

        Selama tiga hari dari 2 sampai dengan 4 Mei 2016, Helsinki menjadi  tempat pelaksanaan konferensi WPFD yang dihadiri oleh lebih dari 1.000 peserta dari berbagai kalangan, jurnalis, pemerintahan, pengusaha, akademisi dan lembaga non-pemerintah.

        Turut hadir dalam kegiatan ini Presiden Finlandia Sauli Niinisto, Perdana Menteri Juha Sipila dan Direktur Jenderal Unesco Irina Bokova.

        Dari Indonesia, selain dihadiri oleh Duta Besar/Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk Unsco, juga dihadiri Duta Besar RI di Helsinki Wiwiek Setyawati Firman dan Ketua Dewan Pers Indonesia Josep Adi Prasetyo. WPFD di Helsinki tahun 2016 mengambil tema "access to information and fundamental freedoms".

        WPFD merupakan kegiatan tahunan yang diprakarsai Unesco. Tanggal 3 Mei dipilih sebagai "Press Freedom Day" berdasarkan Resolusi Sidang Umum PBB tahun 1993.

        Setiap tanggal tersebut, masyarakat internasional merayakan prinsip-prinsip fundamental kebebasan pers termasuk memberikan penghormatan kepada jurnalis yang dalam mendapat tekanan, ancaman, hukuman penjara bahkan kehilangan nyawa dalam menjalankan tugas jurnalistik.


        Pada hari tersebut, penghargaan Unesco/Guillermo Cano World Press Freedom Prize juga diberikan kepada individu, organisasi atau institusi yang telah memperjuangkan kebebasan pers, terutama yang berisiko tinggi. Terpilih menjadi penerima penghargaan tahun 2016 ini adalah aktivis pers dari Azerbaidjan, Khadija Ismayilova. ***2***

Tidak ada komentar: